Archive for December, 2014

Apa Itu Taijiquan?

December 31, 2014

Taijiquan, atau lebih sering ditulis T’ai Chi Ch’uan atau bahkan Tai Chi, barangkali mempunyai makna yang berbeda-beda bagi tiap orang. Sebagian orang akan membayangkan sekelompok orang tua yang bergerak lembut di taman-taman kota di pagi hari. Bagi yang lain mungkin akan membayangkan pendekar yang mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan gerakan yang unik. Ada yang beranggapan bahwa Taijiquan adalah semacam meditasi bergerak untuk keperluan kesehatan atau bahkan spiritual. Tidak mudah untuk mendefinisikan apa itu Taijiquan.

太極拳 bila dituliskan dalam Pinyin menjadi Taijiquan dan bila dituliskan menggunakan sistem Wade-Giles menjadi T’ai Chi Ch’uan. Barangkali demi kepraktisan, seringkali dalam percakapan atau tulisan orang menyingkatnya menjadi Taiji atau Tai Chi untuk merujuk pada Taijiquan atau T’ai Chi Ch’uan. . Demi kepraktisan dan konsistensi ejaan, untuk selanjutnya versi Pinyin akan dipakai, yaitu Taijiquan.

(Tai) secara harafiah berarti “agung” atau “besar”, sedang (Ji) sebagai superlatif berarti “paling.” Namun demikian, 太極 (Taiji) sebagai satu kesatuan mempunyai arti sebagai prinsip yang mengatur alam semesta. Di dalam Taijiquan Lun yang ditulis oleh Wang Zongyue dikatakan bahwa “Taiji berasal dari Wuji (kekosongan), ibu dari Yinyang.” (Quan) diterjemahkan sebagai “kepalan” atau “tinju”. Taijiquan sering diterjemahkan sebagai tinju yang berdasarkan pada prinsip Yin yang.

Bagi mereka yang belum pernah mengenal Taijiquan sebelumnya definisi berdasarkan nama nampaknya kurang memberi gambaran yang jelas, atau bahkan menimbulkan pertanyaan lebih lanjut seperti misalnya apa itu Wuji dan apa itu Yinyang. Untuk saat ini kita belum perlu menggali tentang konsep-konsep tersebut, yang mungkin malah membuat penggambaran tentang Taijiquan semakin rumit. Deskripsi modern yang ada dalam buku The Harvard Medical School Guide to Tai Chi (Peter M. Wayne, PhD, 2013) untuk saat ini sudah memberi gambaran yang lengkap tentang apa itu Taijiquan, yang secara umum didefinisikan,

Tai Chi is a mind-body exercise rooted in multiple Asian traditions, including martial arts, traditional Chinese medicine, and philosophy.”

[Tai Chi adalah olah tubuh dan pikiran yang berakar pada berbagai tradisi Asia, yang meliputi seni bela diri, pengobatan Cina tradisional, dan filosofi.]

Lebih lanjut lagi dikatakan,

Tai Chi training integrates slow, intentional movements with breathing and cognitive skills (for example, mindfulness and imagery). It aims to strengthen, relax, and integrate the physical body and mind, enhance the natural flow of Qi, and improve health, personal development, and self-defense.

[Pelatihan Tai Chi mengintegrasikan gerakan perlahan yang diniatkan dibarengi pernafasan dan ketrampilan kognitif (misalnya perhatian penuh dan visualisasi). Tujuannya untuk memperkuat, merilekskan, dan mengintegrasikan tubuh fisik dan pikiran, meningkatkan aliran alami Qi, dan memperbaiki kesehatan, pengembangan diri, dan bela diri.]

Definisi umum tersebut sudah merangkum beberapa aspek yang ada dalam Taijiquan secara seimbang antara aspek fisik dan pikiran, dan juga aspek bela diri, kesehatan, dan filosofi tanpa memberi bobot lebih pada salah satu aspek yang kadang bisa menimbulkan perdebatan yang kurang produktif di antara para praktisi Taijiquan.

Advertisements

Pertanyaan Yang Memberdayakan dalam Pewacanaan Tarot

December 21, 2014

Pada dasarnya Tarot, dengan berbagai macam tekniknya, bisa menjawab semua jenis pertanyaan. Namun demikian, untuk mendapatkan manfaat optimal dari pewacanaan Tarot kita perlu menyusun pertanyaan yang memberdayakan. Pertanyaan yang memberdayakan adalah pertanyaan yang jawabannya mengasumsikan adanya pilihan bebas dan adanya rasa tanggung jawab. Mungkin karena kegalauan atau ketidaktahuan sering kali pertanyaan seperti contoh berikut diajukan:

  • Apakah saya akan naik pangkat?
  • Bagaimana perasaan dia terhadap saya?
  • Siapa yang ambil uang saya?
  • Kapan saya bertemu jodoh saya?
  • Seperti apa ciri-ciri jodoh saya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kurang begitu bermanfaat untuk memberdayakan diri, dan lebih sekedar menggambarkan rasa ingin tahu tanpa adanya rasaa tanggung jawab apa pun. Agar pewacanaanTarot lebih memberdayakan jenis pertanyaan seperti di atas perlu disusun ulang. Mari kita analisis pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dan bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa disusun ulang.

Apakah saya akan naik pangkat?

Pertanyaan seperti ini kurang memberdayakan karena hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak tanpa ada adanya tanggung jawab dari penanya mengenai hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Pertanyaan ini bisa disusun ulang menjadi: Apa yang perlu saya ketahui atau lakukan agar saya bisa naik pangkat? Dengan demikian pewacanaan akan lebih berfokus pada tanggung jawab dan tindak lanjut atau usaha dari si penanya.

Bagaimana perasaan dia terhadap saya?

Pertanyaan mengenai orang ketiga melepas tanggung jawab kita. Kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain terhadap kita. Orang bisa suka atau benci pada kita dan kita tidak bisa apa-apa. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola diri kita sendiri atas sikap orang lain kepada kita. Untuk mengambil alih tanggung jawab, pertanyaan ini sebaiknya diubah menjadi Bagaimana saya mengambil sikap kepada dia?

Siapa yang ambil uang saya?

Pertanyaan seperti ini perlu kita sikapi dengan penuh kehati-hatian. Walau dengan teknik tertentu Tarot bisa menjawabnya, namun perlu kita pertimbangkan implikasinya. Jawaban dari kartu Tarot berdasarkan interpretasi terhadap simbol dan intuisi yang sulit untuk dijadikan dasar dari suatu tuduhan kriminal. Akan lebih baik apabila pertanyaan tersebut disusun ulang menjadi Pelajaran apa yang bisa diambil dari kehilangan saya? atau Bagaimana saya menyikapi kehilangan tersebut?

Kapan saya bertemu jodoh saya?

Isu mengenai kapan sesuatu akan terjadi sebaiknya lebih diorientasikan sebagai sasaran atau tujuan di mana ada tanggung jawab dari penanya untuk melakukan sesuatu agar apa yang dijadikan sasaran bisa tercapai berdasarkan kerangka waktu yang ditunjukkan oleh Tarot. Pertanyaan Kapan saya bertemu jodoh saya? sebaiknya dimodifikasi menjadi Apa yang bisa saya lakukan agar saya bisa bertemu dengan jodoh saya?

Seperti apa ciri-ciri jodoh saya?

Pendekatan Tarot tradisional bisa menggambarkan sosok orang secara detail, namun pendekatan yang lebih modern nampaknya lebih tertarik pada isu-isu yang lebih menggali ke dalam diri sendiri. Dalam kasus pertanyaan ini, sebaiknya pertanyaan ini perlu disusun ulang menjadi Kualitas seperti apa yang saya harapkan dari pasangan ideal dan bagaimana saya bisa mendapatkannya?

Dari contoh-contoh di atas,secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa jenis pertanyaan yang mengandung unsur-unsur berikut ini perlu diwaspadai.

  • Pertanyaan YA/TIDAK
  • Pertanyaan menyangkut orang ketiga
  • Pertanyaan yang mempunyai implikasi hukum
  • Pertanyaan menyangkut kapan sesuatu akan terjadi
  • Pertanyaan menyangkut detail yang sempit (ciri-ciri orang, lokasi, dll)

Bila mendapati pertanyaan yang mengandung salah satu atau lebih dari unsur-unsur tersebut, modifikasi pertanyaan tersebut dengan bijak sehingga menjadi pertanyaan yang jawabannya mendorong penanya untuk mempunyai tanggung jawab atas masalahnya dan pilihan bebas mengenai apa yang harus diputuskan atau dilakukan.

 

 

Mengapa Kuda Memiliki Kemaluan Besar

December 17, 2014

Asal usul mengapa kuda memiliki kemaluan besar tidak bisa dilepaskan dari sejarah ketika terjadi banjir besar di jaman Nuh. Sebagaimana kita ketahui untuk menyelamatkan peradaban Nuh membawa semua binatang di dalam hutan di dalam bahteranya. Karena keterbatasan kapasitas bahtera, hanya sepasang binatang dari masing-masing jenis yang dibawa. Karena kapasitas bahtera yang sudah optimal, bahtera akan tenggelam bila ketambahan beban. Untuk itu Nuh melarang penumpang bahtera untuk bercinta dengan pasangannya karena ketidakpastian berapa lama banjir berlangsung dikawatirkan kelahiran anak dari pasangan binatang akan membahayakan keselamatan bahtera. Untuk memastikan para penumpang tidak bercinta Nuh memerintahkan semua penumpang laki-laki untuk menitipkan kelaminnya di dalam ruang khusus yang ditutup rapat, dikunci dan dijaga ketat. Kelamin akan dikembalikan ke pemilik masing-masing setelah banjir reda.

Air bah merendam bumi selama 150 tahun dan air mulai surut setelah itu. Setelah dipastikan bumi benar-benar kering, pintu bahtera dibuka dan para penumpang boleh keluar untuk menikmati udara bebas. Setelah terkungkung sekian lama dalam bahtera setiap binatang ingin menjadi yang pertama keluar bahtera. Terjadi kekacauan di ruang penitipan kelamin. Berebut ingin segera menikmati udara bebas, tak sempat menelilti apakah kelamin yang mereka ambil adalah yang mereka titipkan sebelumnya. Tidak jelas lagi siapa mengambil kelaminnya siapa. Ada juga yang beruntung bisa mengambil kelaminnya sendiri. Namun ada juga yang terpaksa mengambil kelamin binatang lain karena tidak menemukan kelamin milik sendiri. Perlu diketahui pada zaman itu desain binatang masih canggih di mana kelamin bersifat portable seperti flash disk dan kompatibel dengan setiap mahluk hidup lainnya.

Binatang yang sudah puas dengan kelaminnya begitu keluar dari bahtera langsung masuk ke hutan dan tidak kembali lagi. Tersisa tiga binatang yang mempunyai masalah dengan kelamin pasca kekacauan di ruang penitipan dan mereka menyampaikan masalahnya kepada Nuh. Gajah mengeluhkan bahwa kelamin yang dipasangnya tidak sesuai dengan kelamin yang dititipkannya sebelumnya – yang ini terlalu kecil. Semut tidak menemukan kelaminnya. Bebek juga tidak menemukan kelaminnya.

Kasus gajah bisa dipahami karena bertubuh besar dan bergerak lamban dia menjadi binatang terakhir yang mengambil kelamin. Gajah tidak punya pilihan lain karena satu-satunya kelamin yang tersisa di ruangan hanya satu itu. Nampaknya Nuh tidak punya solusi untuk masalah gajah kecuali meminta gajah untuk menerima keadaan dan bersyukur masih mempunyai kelamin yang berfungsi . Nuh mengambil salah satu per bahtera untuk menggantikan kelamin bebek dan masalah terpecahkan. Untuk semut Nuh tidak punya solusi.

Perilaku binatang saat ini terkait dengan kelaminnya bisa dipahami dengan mengetahui sejarah ini. Mengapa kuda mempunyai kelamin besar. Karena lincah dan bergerak cepat, begitu masuk ruang penitipan kelamin, langsung mengambil kelamin yang paling besar, yang barangkali sebelumnya milik gajah. Sementara itu, sampai sekarang gajah selalu berjalan dengan kepalanya bergeleng sambil dalam hati bergumam, “ini bukan punyaku..ini bukan punyaku.” Bisa dipahami pula mengapa bentuk kelamin bebek seperti ulir. Coba kita amati semut yang selalu berjalan cepat. Setiap kali bertemu dengan sesama semut, mereka selalu bertanya-jawab, “Sudah ketemu?” “Belum!” dan begitu seterusnya.

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

3 Level T’ai Chi Ch’uan Menurut Cheng Man Ch’ing

December 16, 2014

 

Di dalam buku Cheng Tzu’s Thirteen Treatises on Ta’i Chi Ch’uan, Cheng Man Ch’ing menjelaskan level dalam T’ai Chi Ch’uan. Paragraf-paragraf berikut ini adalah bagian dari Treatise ke sebelas dalam buku tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

Ada tiga level dalam Ta’I Chi Ch’uan yaitu: Manusia, Bumi, dan Langit. Level Manusia mengendorkan tendon dan memvitalisasikan darah; Level Bumi “membuka gerbang” sehingga ch’i bisa mencapai persendian; dan Level Langit melatih fungsi sensoris. Ketiga level tersebut masing-masing mempunyai tiga tingkat.

Level Manusia tingkat pertama mengendorkan tendon dari bahu ke jari. Tingkat kedua mengendorkan tendon dari persendian paha sampai “bubbling well” (titik di tengah telapak kaki). Tingkat ketiga mengendorkan tendon dari tulang ekor sampai ke ubun-ubun (ni wan).

Level Bumi tingkat pertama mengendapkan ch’i ke tan t’ien. Tingkat kedua menggerakkan ch’i ke bubbling well. Tingkat ketiga mensirkulasikan ch’i sehingga mencapai ubun-ubun.

Level Langit tingkat pertama adalah t’ing chin (mendengarkan tenaga). Tingkat kedua tung chin (mengerti tenaga). Tingkat ketiga adalah ketidakterbatasan.

 

Level Manusia

1. Teknik mengendorkan ligamen dari bahu ke pergelangan tangan

Jika ligamen bisa kendor, darah akan bersirkulasi dengan lebih baik. Urutannya adalah mengendorkan pergelangan tangan, kemudian siku dan bahu. Jangan menggunakan tenaga otot. Dari kelembutan itu sendiri perlahan-lahan kemajuan akan diperoleh. Semua ini didasarkan atas mencari lurus dalam lengkung. Bentuk bulat – tidak menekuk atau lurus. Tidak putus atau bolong, cekung atau cembung. Pada intinya kendorkan ligamen sampai ke ujung jari tengah.

2. Dari persendian paha sampai tumit

Tekniknya sama seperti sebelumnya. Bedanya pada pemisahan kosong dan isi pada kaki. Kaki harus menahan beban seluruh tubuh dan berbeda dari tangan yang bebas bergerak. Kebanyakan orang kurang memperhatikan kosong isi kaki. Bahkan sebagian praktisi bela diri mengabaikan hal dasar ini. Namun praktisi T’ai Chi Ch’uan harus menempatkan berat badan mereka pada satu kaki dan memindahkannya ke kaki yang lainnya tanpa menggunakan tenaga otot. Dari persendian paha ke lutut hingga tumit – ketiganya harus kendor. Berat bertumpu pada telapak kaki di tanah. Seperti juga tangan, kosong isi kedua kaki harus dipisahkan. Namun demikian, tangan dan kaki harus berlawanan. Jika kaki kanan isi, maka tangan kanan juga isi dan sebaliknya. Jika kaki kiri kosong, maka tangan kiri kosong. Kosong isi antara kaki dan tangan bersilangan. Jika tidak bersilangan maka terjadi apa yang disebut dengan beban ganda (double weight).

3. Dari tulang ekor ke ubun-ubun

Tekniknya masih sama seperti di atas. Tulang belakang dengan banyak ruasnya merupakan tulang utama dalam tubuh. Tulang belakang dirujuk sebagai “pinggang lunak yang bisa ditekuk sampai seratus kali seakan-akan tidak ada tulangnya.” Dari gambaran ini jelas bahwa tulang belakang harus lentur. Tulang belakang lentur karena ligamen. Yang paling penting adalah menjaga tulang ekor tegak dan kepala seakan-akan tergantung pada benang sutra.

 

Level Bumi

1. Mengendapkan ch’i ke tan t’ien

Ini merupakan dasar dari kultivasi ch’i. Tan t’ien berada dalam rongga perut 1.3 inch di bawah pusar, lebih dekat pada pusar daripada tulang belakang. Prinsip yang disyaratkan dalam mengendapkan ch’i adalah bahwa nafas harus halus, panjang, tenang, dan lambat. Perlahan-lahan tarik nafas ke tan t’ien. Ch’i tinggal bersama pikiran, dan dengan berjalannya waktu akan berakumulasi. Ini harus terjadi secara alami dan tidak bisa dipaksakan. Pada awalnya tidak mudah untuk menurunkan ch’i. Untuk menarik ch’i ke perut, bahu dan siku harus sedikit diturunkan. Kendorkan dada ke bawah dan sedikit naikkan punggung; kemudian arahkan ch’i ke tan t’ien. Jika menarik nafas terlalu cepat, ch’i akan naik, dan ini akan menyebabkan bahu naik dan dada mengembang, yang menimbulkan masalah.

2. Ch’i mencapai tangan dan kaki

Setelah ch’i mengendap di tan t’ien, perintahkan dengan pikiran dan arahkan ke persendian paha, kemudian ke tumit. Proses ini disebut “manusia sejati membawa nafas ke tumit.” Ch’i kemudian mencapai bahu, siku, dan pergelangan tangan. Semua persendian empat anggota badan menjadi terbuka. Kemudian ch’i turun ke titik “bubbling well” di telapak kaki dan naik ke lao kung di telapak tangan, bergerak menuju ujung jari tengah. Pada saat itu bisa dialami apa yang dikatakan dalam Klasik “pikiran menggerakkan ch’i dan ch’i menggerakkan badan.”

3. Ch’i bergerak melalui tulang ekor (wei lu) ke ubun-ubun (ni wan)

Hal ini merujuk pada ch’i melewati “tiga gerbang.” Ini merupakan permulaan koneksi antara meridian Jen dan Tu. Membawa ch’i ke tulang ekor adalah bagian yang paling sulit. Setelah sekian lama pada tahapan mengendapkan ch’i ke tan t’ien, tahapan tertentu di mana ch’i secara otomatis melewati tulang ekor akan dicapai. Ini tidak bisa dipaksakan atau usaha ini akan sia-sia dan menimbulkan masalah. Ketika ch’i melewati tulang ekor, ch’i akan menembus dan mendorong ke atas antara bahu menuju daerah kepala dan ke ni wan. Semuanya ini terjadi dengan cara yang sama – pertama-tama memasuki pintu dan kemudian secara perlahan mendekati Tao. Panjang umur dan kesehatan menjadi imbalan alami.

 

Level Langit

1. T’ing chin, Mendengarkan atau Merasakan Tenaga

Apakah Chin dan bagaimana kita bisa mendengarkannya? Ini adalah pertanyaan yang harus dipelajari praktisi dengan hati-hati. Chin berbeda dengan li (kekuatan otot). Transmisi rahasia mengatakan, “Chin berasal dari ligamen dan li berasal dari tulang.” Ini kebenaran yang dalam, namun para murid saat ini tidak melihatnya. Mereka berlatih sampai mati dan tidak pernah tahu apa Chin itu. Chin adalah chin karena berasal dari pembuluh darah yang mempunyai daya seperti pegas. Hanya lewat kelenturan lawan bisa ditempel. Saat kita menempel lawan, ch’i kita dan ch’i lawan terhubung. Melalui kontak ch’i ini upaya-upaya lawan bisa diantisipasi. Ini disebut t’ing. “Lawan bergerak sedikit, saya mendahuluinya,” sebagaimana yang dikatakan Klasik, didasarkan atas t’ing.

2. Mengerti Chin

Ada berbagai tingkatan tung chin dan t’ing chin: dalam dan dangkal, halus dan kasar. Jika lawan bergerak sedikit, saya bisa mendengar dan memahaminya. Ketika saya mengerti chin dia, maka saya bisa bergerak mendahuluinya. Timing dan posisi yang tepat tergantung saya bukan dia. Kemajuan ini dari dangkal menuju dalam. Tetapi dikotomi antara halus dan kasar lebih susah dijelaskan. Transmisi rahasia mengatakan, “Jika lawan bergerak sedikit, saya bisa mendengar dan memahaminya.” Bahkan gerakan yang paling kecil pun masih mudah diketahui. Jika kita bisa mendengarkan sebelum mereka bergerak maka kita telah mencapai tingkat pencerahan. Apa yang terjadi pada tingkatan ini adalah seperti ini: ch’i bergerak melewati ligamen, pembuluh darah, membran, dan diafragma, yang masing-masingnya menghasilkan empat jenis chin: yang bersifat defensif, menyembunyikan, siap menyerang, dan menyerang. Persendian bisa mengembang dan mengerut karena ligamen. Darah bersirkulasi karena pembuluh darah. Membran berada di antara otot dan membungkus ligamen dan tulang. Semua organ dalam berada di dalamnya. Diafragma berada di atas hati. Jika ch’i lawan berasal dari ligamen dan wajar, berarti dia defensif. Jika ch’i lawan berada di pembuluh darah, diketahui bahwa dia menyembunyikannya dan akan berubah. Jika ch’i lawan berada di membran dan naik ke permukaan, berarti dia siap menyerang. Jika ch’i lawan di dalam diafragma, dia sedang mengumpulkan ch’i dan dalam persiapan menyerang. Pada tingkat tertinggi tung chin (mengerti tenaga) ini, tidak ada yang lebih indah.

3. Tingkat Tak terbatas

Tahap pencerahan ini susah untuk dilukiskan. Di akhir Klasik dikatakan, “Melalui seluruh tubuh, i (pikiran) tergantung pada ching shen (spirit), bukan pada ch’i (nafas). Jika pikiran tergantung pada ch’i, akan menjadi mandeg. Jika ada ch’i, tidak ada li (tenaga luar). Jika tidak ada ch’i, ada baja murni.” Kata-kata ini sangat aneh. Kata-kata ini mengimplikasikan bahwa ch’i tidak penting, dan pada kenyataannya memang tidak penting. Ketika ch’i mencapai tingkat tertinggi dan menjadi energi mental, ini disebut kekuatan spiritual atau “kekuatan tanpa tenaga fisik.” Kemana pun mata berkonsentrasi, spirit mencapainya dan ch’i mengikutinya. Ch’i bisa menggerakkan badan, namun tidak perlu memerintahkan ch’i untuk menggerakkannya. Spirit bisa membawa ch’i bersamanya. Kekuatan spiritual ini disebut “kecepatan ilahi.” Dalam fisika, kecepatan digandakan oleh gaya. Potensinya tidak terbatas. Karena itu, kekuatan spiritual menjadi “kecepatan ilahi.”

6 Strategi Membangun Makna Kartu Tarot

December 11, 2014

Inti dari pewacanaan Tarot adalah menginterpretasikan kartu dan menghubungkannya dengan masalah yang sedang dibaca. Dari interpretasi dan eksplorasi kartu bisa didapatkan opsi-opsi atau wawasan untuk dipertimbangkan sebagai solusi masalah. Pembelajar Tarot biasanya mengalami kesulitan ketika harus menafsirkan kartu yang muncul karena takut salah. Seringkali mereka tergantung pada kata kunci atau deskripsi dalam buku panduan. Berikut ini adalah 6 strategi untuk membangun makna selain merujuk pada buku panduan. Strategi-strategi ini diadaptasi dari buku Creative Brainstorming with the Bright Idea Deck karya Mark McElroy.

  1. Membuat daftar dan asosiasi

Amati apa saja yang ada di kartu tersebut, dan tulis daftarnya di secarik kertas. Perhatikan detailnya. Kemudian tuliskan asosiasi yang muncul dari tiap benda tersebut, misalnya gambar rumah, mengingatkan pada kenyamanan di rumah atau cicilan rumah yang belum lunas.

  1. Bercerita

Anggaplah kartu itu sebuah foto. Apa yang sedang terjadi di sana? Apa yang terjadi sebelumnya? Apa yang akan terjadi? Ambil 2 kartu, buat sebuah kisah dari 2 kartu tersebut. Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di dalam kartu tersebut? Apa yang membuat tokoh-tokoh tersebut sampai pada situasi tersebut? Apa yang akan mereka lakukan? Dengan teknik yang sama, ambil 3 kartu, dst.

  1. Personalisasi

Bayangkan bahwa orang-orang yang ada di kartu tersebut adalah nyata, dan coba berempati dengan mereka. Apakah yang mereka pikirkan atau rasakan? Mengapa? Apa yang mereka katakan pada kita? Atau nasehat apa yang akan kita berikan kepada mereka?

  1. Memaknai secara ekstrem

Kira kira apa makna paling baik dari kartu tersebut, dan apa kira-makna terburuknya? Apa yang akan dikatakan oleh orang optimis tentang kartu tersebut, dan bagaimana pendapat orang pesimis? Dari dua kutub ekstrem, barangkali kita bisa menemukan pemaknaan di tengah-tengahnya yang cukup moderat.

  1. Membongkar kode

Berpura-puralah kartu ini berisi pesan rahasia yang dikirimkan oleh mentor berpengalaman yang sangat kita percayai yang hanya bisa berkomunikasi dengan kita lewat kode-kode simbol dalam kartu. Pesan apa yang ingin disampaikan oleh mentor kita?

  1. Mendeskripsikan

Gambarkan apa yang terlihat di dalam kartu. Apa yang kita lihat? Apa yang terjadi? Apa yang paling menonjol di sana? Dari gambaran yang diperoleh kemudian dihubungkan dengan masalah yang sedang dibaca.

 

Pertemuan Saya dengan Taijiquan

December 9, 2014

Saya tertarik dengan Taijiquan dan Yoga karena alasan yang sama. Sebagai orang yang malas bergerak saya merasa bahwa kedua kegiatan ini cocok buat saya. Sebagai awam saya melihat postur-postur Yoga dilakukan di tempat, baik duduk, berbaring, atau berdiri, sementara Taiji dilakukan dengan perlahan dan nampaknya tidak butuh mengeluarkan tenaga banyak. Setelah bersentuhan dengan komunitas dari keduanya, ternyata saya sadar bahwa saya salah tentang Taijiquan dan Yoga. Di sini saya akan bercerita tentang pengalaman saya dengan Taijiquan.

Sekitar tahun 2003, kalau tidak salah ingat, bersama beberapa teman kami mendapatkan instruktur Tai Chi dan mulai berlatih seminggu dua kali. Setelah latihan berjalan sekian bulan, saya menyadari bahwa yang kami latih nampaknya bukan Taiji yang seperti saya bayangkan sebelumnya. Baru belakangan saya tahu kalau yang dilatih adalah senam 18 Gaya atau sebelumnya dikenal dengan senam Tera. Senam ini kadang disebut juga sebagai Tai Chi Chikung. Di Indonesia senam ini masuk dalam organisasi PORPI (Persatuan Olah Raga Pernapasan Indonesia).

Sambil tetap berlatih senam 18 Gaya, saya mulai berkenalan dengan Tai Chi Chuan 24 Gaya. Jenis Tai Chi Chuan ini dikembangkan oleh Kementrian Olah Raga Cina pada tahun 1956. Karena pemerintah Cina melihat banyak manfaat yang bisa diperoleh dari Tai Chi Chuan, mereka mengumpulkan para ahli Tai Chi untuk menciptakan satu set latihan yang distandardisasikan. Barangkali ini mirip dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia ketika menyusun Senam Pagi Indonesia di tahun 70 atau 80 an yang memasukkan unsur-unsur gerakan silat. Bedanya apa yang dihasilkan oleh pemerintah Cina bisa sedemikian populernya sehingga bisa mendunia. Barangkali jenis Tai Chi 24 Gaya ini yang turut berkontribusi atas persepsi umum tentang Tai Chi, karena sebagian besar orang yang mempraktekkannya adalah orang-orang tua, dan mereka melakukannya di tempat-tempat publik. Bahkan ada yang menyebut jenis Tai Chi ini – Tai Chi 24 Gaya, Tai Chi 48 Gaya, Tai Chi 42 Gaya dan sejenisinya – adalah Tai Chi taman.

Di tahun 2010 saya mulai berkenalan dengan Cheng Tzu’s Taijiquan atau yang lebih dikenal dengan Tai Chi 37. Ini adalah bentuk Tai Chi gaya keluarga Yang yang disederhanakan oleh Cheng Man Ching, dari Tai Chi 108 Gaya yang diajarkan oleh Yang Cheng Fu, dengan mengurangi pengulangan gerakan. Barangkali aliran Tai Chi ini merupakan bentuk Tai Chi yang kepopulerannya di nomor dua setelah Tai Chi 24 Gaya.

Masih banyak jenis Tai Chi selain yang saya ceritakan sebelumnya. Pada umumnya aliran Tai Chi dibagi ke dalam 5 aliran yang paling dominan yaitu Tai Chi dari keluarga Yang, Chen, Wu, Wu (atau Hao), dan Sun, di mana tiap aliran mempunyai variannya masing-masing, seperti Tai Chi 37 adalah salah satu varian dari aliran keluarga Yang. Di luar 5 aliran tersebut ada Tai Chi 24 Gaya dan sejenisnya yang dikelola resmi oleh pemerintah Cina. Beberapa tahun terakhir ini mulai dikenal varian baru Dong Yue Taijiquan.

Sampai saat ini saya masih berlatih Tai Chi Chuan 24 Gaya dan Tai Chi 37 secara teratur. Bagi saya Tai Chi adalah bagian dari gaya hidup sehat, di mana saya berproses untuk mendidik diri sendiri yang tidak pernah ada akhirnya.

Sekelumit tentang Sejarah Tarot di Indonesia

December 8, 2014

Kapan Tarot pertama kali masuk Indonesia merupakan pertanyaan yang susah dijawab dengan akurat karena tidak ada dokumentasi tertulis yang menjelaskan tentang hal ini. Karena Tarot adalah bagian dari budaya Eropa, spekulasi paling mungkin mengenai masuknya Tarot ke nusantara tentunya adalah ketika ada persentuhan Indonesia dengan kebudayaan Barat.   Apakah Tarot masuk ke Indonesia berbarengan dengan masuknya kolonialisme Belanda ataukah belakangan? Mungkinkah Tarot dibawa oleh kaum Teosofis? Siapa sajakah para perintis Tarot awal? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara akurat diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menelusuri sejarah masuknya Tarot di Indonesia.

Minat kepada Tarot mulai muncul ke publik dalam skala nasional setelah terbitnya buku Bunga Rampai Wacana Tarot yang ditulis oleh Ani Sekarningsih pada bulan April 2001. Buku ini adalah buku Tarot berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia. Hadirnya buku ini nampaknya menandai awal sejarah modern Tarot di Indonesia. Pada waktu yang bersamaan Ani Sekarningsih juga menerbitkan satu set kartu Tarot yang bernuansa Indonesia, yaitu Tarot Wayang. Untuk penerbitan Tarot Wayang ini dia mendapat pengakuan tertinggi dari Tarot Certification Board pada American Tarot Association sebagai Grandmaster Tarot pertama di Indonesia. CTGM di belakang namanya adalah singkatan dari Certified Tarot Grandmaster.

Perkembangan teknologi internet ikut membantu penyebaran Tarot di Indonesia menjadi masif. Milis clubtarot@yahoogroups.com yang didirikan pada September 2000 berhasil menarik para peminat Tarot yang mempunyai akses internet untuk bergabung. Milis ini tidak bisa lepas dari peranan Ani Sekarningsih dan Leonardo Rimba. Milis ini adalah tempat untuk belajar, berbagi, dan bersilaturahmi. Selainn itu, milis ini juga menginspirasi terciptanya komunitas-komunitas Tarot di beberapa kota, seperti di Surabaya, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta.

Jejak sejarah Tarot di Indonesia bisa ditelusuri lewat penerbitan buku-buku Tarot yang ditulis oleh orang-orang Indonesia. Karya terjemahan tidak dimasukkan dalam daftar berikut ini.

 

Judul Penulis Tahun
Bunga Rampai Wacana Tarot Ani Sekarningsih 2001
Tarot Wayang (plus kartu) Ani Sekarningsih 2002
Meramal dengan Kartu Tarot Eka Surya 2007
Psikologi Tarot Leonardo Rimba dan Audifax 2008
The Real Art of Tarot   (plus kartu ) Hisyam A. Fachri 2009
Easy Tarot (plus kartu) Lidia Pratiwi 2009
Tarot Psikologi Hisyam A. Fachri 2010
Tarot Past, Future & Life Hisyam A. Fachri 2012
Tarot Kisah Perjalanan Kehidupan Leonar Yogi Hartanto 2012
Tarotivator Indra Ferdianto 2012
Meramal Semudah Membalik Kartu Tarot (plus kartu) Hermes Fortune 2013
Belajar Mudah Bermain Tarot Klub Tarot Jakarta 2013
Tarot & Psikologi Simbol Leonardo Rimba dan Audifax 2013

 

Manfaat Tarot Selain untuk Meramal

December 3, 2014

Beberapa tahun terakhir ini minat terhadap Tarot semakin meningkat. Indikasinya antara lain adalah semakin banyak layanan Tarot di café-café, lapak Tarot di event-event, publikasi buku Tarot dalam bahasa Indonesia, munculnlya komunitas-komunitas Tarot di beberapa kota di Indonesia.

Namun demikian, persepsi masyarakat tentang Tarot masih didominasi oleh pandangan bahwa Tarot adalah ramalan. Hal ini bisa dipahami mengingat dalam budaya pop, seperti dalam film, seringkali digambarkan ketika kartu tertentu muncul di salah satu adegannya, biasanya the Death, kemudian ada karakter dalam film tersebut yang mati secara tidak wajar. Selain itu, mayoritas pengguna layanan Tarot menginginkan layanan yang bersifat ramalan menyangkut masa depan ataupun solusi dari masalah mereka. Sebagai konsekuensinya, untuk memenuhi kebutuhan pasar, sebagian Tarot reader memenuhi kebutuhan ini dengan menyediakan jasa pembacaan Tarot dengan pendekatan ramalan.

Tidak ada yang salah dengan mendekati Tarot sebagai alat untuk meramal. Yang seringkali menjadi kontroversi adalah bagaimana istilah “meramal” itu didefinisikan yang bisa menimbulkan perdebatan atau bahkan perdebatan yang emosional. Alih-alih membahas kontroversi tentang Tarot untuk meramal, artikel ini akan menunjukkan bahwa ada beberapa manfaat lain yang bisa didapat lewat Tarot.

Tarot Sebagai Alat Bantu Konseling

Manfaat tarot sebagai alat konseling nampaknya menjadi pandangan dominan kedua setelah pandangan tentang Tarot sebagai alat meramal. Pendekatan Tarot sebagai alat konseling relatif lebih bisa diterima oleh mereka yang cenderung berpikir ilmiah dan rasional. Kalau dalam pendekatan ramal klien ditunjukkan tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya, dalam pendekatan konseling klien diajak untuk mellihat lebih dalam tentang aspek-aspek tentang permasalahan yang sedang dihadapi dan melihat pilihan-pilihan yang bisa diambil serta konsekuensinya. Di dalam pembacaan ramal, Tarot reader menjadi otoritas yang dominan dan klien lebih sebagai subyek pasif, dalam pembacaan konseling klien diharapkan lebih aktif dalam mengambil keputusan untuk memecahkan masalahnya. Buku Psikologi Tarot karya Leonardo Rimba dan Audifax, kemudian diikuti oleh buku Tarot Psikologi karya Hisyam A. Fachri adalah dua buku berbahasa Indonesia yang memaparkan Tarot dengan pendekatan konseling atau psikologi.

Tarot Sebagai Pemicu Kreativitas

Kalau dalam pendekatan ramal dan konselling biasanya melibatkan Tarot reader dan klien untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi klien, dalam pendekatan kreatif pada umumnya dipakai oleh penulis atau seniman. Mereka, penulis atau seniman, memanfaatkan image visual yang ada di kartu-kartu Tarot untuk merangsang daya kreatif mereka. Buku Tarot for Writers karya Corrine Kenner memaparkan bagaimana penulis atau mereka yang berminat dalam dunia menulis bisa memanfaatkan Tarot untuk menghasilkan karya fiksi atau pun non-fiksi serta membantu memecahkan masalah hambatan menulis yang kadang menghadang penulis (writer’s block).

Tarot Sebagai Alat Bantu Perencanaan

Perencanaan yang baik dibutuhkan dalam kehidupan personal dan kehidupan bisnis. Dalam kehidupan personal seringkali kita mengalir begitu saja mengikuti irama hidup. Sementara dalam dunia bisnis, perencanaan yang dilakukan perusahaan seringkali lebih sebagai formalitas dan rutin dibuat dalam rapat kerja tahunan, dan setelahnya tidak dilihat lagi sampai rapat kerja tahun berikutnya. Keputusan-keputusan yang dibuat dalam kehidupan personal atau bisnis seringkali dilakukan karena tekanan eksternal. Apakah kita dalam keadaan tertekan atau tidak, perencanaan selalu baik untuk dilakukan. Tentu saja perencanaan sebagus apa pun tidak akan banyak manfaatnya kalau tidak dilakukan eksekusi. Untuk itu, Tarot bisa menjadi alat brainstorming dalam perencanaan baik dalam kehidupan personal ataupun kehidupan bisnis. Bright Idea Deck adalah satu set kartu yang diciptakan oleh Mark McElroy dirancang untuk berbagai keperluan kreatif, termasuk perencanaan. Yang menarik dari deck yang dibarengi dengan buku panduan berjudul Creative Brainstorming with the Bright Idea Deck ini adalah bahwa tidak ada kata “Tarot” di dalam halaman-halaman buku panduan tersebut. Biasanya buku-buku yang membahas Tarot masuk dalam kategori New Age/Divination, namun buku dan kartu ini masuk dalam kategori Self-Help/Business.

Tarot Sebagai Alat Bantu Pengembangan Diri

Karena kesibukan sehari-hari, kita seringkali lupa melihat ke dalam dan menggali potensi-potensi diri yang ada di dalam diri kita. Kadang kita tergugah dan terinspirasi oleh motivator ataupun kutipan-kutipan inspirasional yang kita baca. Namun demikian, motivasi ataupun inspirasi yang menggugah tidak bisa bertahan lama, kita kembali terbenam ke dalam rutinitas dan tidak melakukan apa-apa atas hidup kita. Untuk menggunakan Tarot sebagai alat bantu pengembangan diri dibutuhkan disiplin yang kuat. Karena pegembangan diri adalah urusan hidup kita pribadi berarti kita harus melakukannya sendiri. Untuk itu, kita perlu meluangkan waktu khusus untuk mencermati dan merenungi apa yang disarankan oleh kartu Tarot untuk meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia yang menyimpan potensi-potensi luar biasa yang belum sepenuhnya tereksplorasi.

Kotbah yang Mencerahkan

December 2, 2014

Karena hujan, seorang laki-laki yang nampak kalut dan bingung lari terbirit-birit mencari tempat berteduh. Dia segera masuk ke halaman gereja dan berteduh di depan pintu gereja. Kebetulan saat itu pendeta di dalam gereja tengah berkotbah. Sambil menunggu hujan reda, laki-laki tersebut mendengarkan kotbah sang pendeta. Ketika kebaktian selesai, laki-laki tersebut segera menemui sang pendeta.

“Terima kasih sekali bapak pendeta. Kotbah bapak benar-benar mengingatkan dan mencerahkan saya.”

“Oh ya?” seru sang pendeta.

“Bagian yang mana ya?” lanjut pendeta, setengahnya penasaran,

“apakah tentang perintah Tuhan jangan membunuh?” pendeta tersebut asal menebak karena penasaran.

“Bukan pak pendeta,” sahut laki-laki itu.

“Apa tentang larangan mencuri?” pendeta tersebut mencoba lagi.

“Bukan itu pak pendeta. Ketika bapak pendeta mengatakan jangan berzinah, nah, pada saat itu pula lah saya teringat di mana payung saya ketinggalan.”

 

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Suatu Peristiwa di Gerbang Surga

December 2, 2014

Santo Petrus, sang penjaga gerbang surga, suatu ketika ada keperluan penting sehingga dia harus meninggalkan gerbang surga untuk sementara waktu. Kebetulan saat itu Yesus sedang nongkrong di sana.
“Boss, maaf saya harus pergi bentar. Bisa jagain gerbang sebentar?” kata Petrus kepada Yesus.
“Apa yang harus dilakukan bila ada arwah yang datang dan ingin masuk ke sini?” tanya Yesus.
“Gampang aja. Basa basi sebentar, terus tanya tentang apa yang dilakukannya selama hidup di dunia. Bila jawabannya sebaik rekam jejak yang ada di database kita, biarkan dia masuk ke sini. Bila tidak, suruh dia masuk neraka. Bila Boss ragu-ragu, suruh dia tunggu,” Petrus menjelaskan.
“Baiklah. Kayaknya bukan tugas yang sulit,” kata Yesus.
Petrus meninggalkan gerbang surga, dan Yesus menunggu di meja tugas Petrus (bayangkan seperti di gardu satpam perumahan mewah).
Sesaat kemudian, Yesus melihat seorang tua yang wajahnya kusam, nampak bingung berjalan menuju gerbang. Sebagai petugas yang barusan mendapat training kilat, Yesus dengan cekatan mengajak pak tua tersebut masuk ke gardu dan mempersilahkannya duduk.
“Bagaimana bapak? Ada yang bisa dibantu?” tanya Yesus sesuai dengan script standar seorang Customer Service Officer.
“Begini nak..” kata pak tua tersebut, “Saya lagi bingung mencari anak saya yang sudah lama hilang, dan kata orang-orang dia ada disekitar sini.”
“Oh ya? Bagaimana ciri-ciri anak Bapak?” Yesus menunjukkan empatinya.
Pak tua itupun mulai bercerita, “Dia anak saya satu-satunya. Sudah lama sekali saya tidak bertemu. Ciri-cirinya yang unik adalah ada bekas paku di telapak kanan dan kirinya, dan juga di kedua kakinya.”
“Oh ya?” hati Yesus tercekat.
Untuk memastikan apa yang dipikirkannya,Yesus bertanya kepada pak tua itu, “Apa pekerjaan Bapak semasa hidup Bapak?”
“Tukang kayu,” jawab bapak itu.
Mendengar jawaban itu, Yesus mencondongkan tubuh ke arah pak tua yang duduk di depannya dan berkata lirih, “Ayah?”
Pak tua tersebut juga menyondongkan badannya ke depan, wajahnya dekat sekali dengan wajah Yesus dan berkata,”Pinokio?”

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.