Mencari Tuhan

Ada dua orang sahabat dengan dua karakter yang bertolak belakang. Si Soleh, sesuai dengan namanya, adalah pemuda yg taat beragama serta sopan dan baik dalam bertutur kata. Satunya si Kafir adalah pemuda urakan yang tidak taat dan tidak mempercayai keberadaan Tuhan.

Karena peduli pada si Kafir, si Soleh ingin mengajak sahabatnya ini ke jalan yang benar. Dia ingin mengajak si Kafir untuk bermeditasi di suatu tempat suci di dalam hutan, karena kalau di sana bisa bermeditasi dengan benar Tuhan akan hadir. Entah bagaimana caranya, si Soleh berhasil membujuk dan mengajak si Kafir untuk masuk ke hutan ke tempat suci tersebut.

Di perjalanan, si Kafir melihat seekor burung yang indah. Dasar iseng, dia mengambil batu dan menyambit burung itu. Namun burung itu bisa mengelak dari sambitan dan kembali bertenger di tempat semula. Karena sambitannya meleset, si Kafir mengumpat, “Sialan, luput!” Dia ambil batu yang lain dan mencoba menyambit lagi, dan burung itu mengelak lagi. Si Kafir pun mengumpat kembali, “Sialan, luput!”, dan dia ambil batu dan sambit lagi. Berkali-kali begitu. Si Kafir sambit batu dan meleset dan burung itu mengelak, namun tidak terbang jauh melainkan kembali ke tempat semula seakan-akan mengejek si Kafir.

Si Soleh ingatkan si Kafir, “Sudahlah Kaf. Jangan iseng. Ayo kita lanjutkan perjalanan, niat kita kan baik, jangan kita kotori dengan perbuatan yang sia-sia.”

“Sebentar, Sol. Lagi tanggung dan penasaran nih, masak dari tadi luput terus, sialan!” kata si Kafir jengkel. “Sialan, luput!”, umpat si Kafir setiap kali dia sambit dan meleset, barangkali burung ini reinkarnasi dari jagoan silat ahli ginkang di dunia kangouw di masa lalu.

Mendadak sontak hujan turun. Si burung terbang dan kedua sahabat kita ini buru-buru cari tempat berteduh. Kebetulan ada gua, dan mereka berteduh di mulut gua.

Hujan lebat, disertai dengan suara gemuruh dan kilatan petir yang menyambar-nyambar.

Tiba-tiba ada kilatan petir besar menyambar ke mulut gua tempat kedua sahabat kita ini berteduh. Si Soleh tewas tersambar petir. Tubuhnya terbujur hangus terbakar. Dari langit tiba-tiba muncul suara menggelegar, “Sialan, luput!.”

 

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Advertisements

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s