Suatu Peristiwa di Gerbang Surga

Santo Petrus, sang penjaga gerbang surga, suatu ketika ada keperluan penting sehingga dia harus meninggalkan gerbang surga untuk sementara waktu. Kebetulan saat itu Yesus sedang nongkrong di sana.
“Boss, maaf saya harus pergi bentar. Bisa jagain gerbang sebentar?” kata Petrus kepada Yesus.
“Apa yang harus dilakukan bila ada arwah yang datang dan ingin masuk ke sini?” tanya Yesus.
“Gampang aja. Basa basi sebentar, terus tanya tentang apa yang dilakukannya selama hidup di dunia. Bila jawabannya sebaik rekam jejak yang ada di database kita, biarkan dia masuk ke sini. Bila tidak, suruh dia masuk neraka. Bila Boss ragu-ragu, suruh dia tunggu,” Petrus menjelaskan.
“Baiklah. Kayaknya bukan tugas yang sulit,” kata Yesus.
Petrus meninggalkan gerbang surga, dan Yesus menunggu di meja tugas Petrus (bayangkan seperti di gardu satpam perumahan mewah).
Sesaat kemudian, Yesus melihat seorang tua yang wajahnya kusam, nampak bingung berjalan menuju gerbang. Sebagai petugas yang barusan mendapat training kilat, Yesus dengan cekatan mengajak pak tua tersebut masuk ke gardu dan mempersilahkannya duduk.
“Bagaimana bapak? Ada yang bisa dibantu?” tanya Yesus sesuai dengan script standar seorang Customer Service Officer.
“Begini nak..” kata pak tua tersebut, “Saya lagi bingung mencari anak saya yang sudah lama hilang, dan kata orang-orang dia ada disekitar sini.”
“Oh ya? Bagaimana ciri-ciri anak Bapak?” Yesus menunjukkan empatinya.
Pak tua itupun mulai bercerita, “Dia anak saya satu-satunya. Sudah lama sekali saya tidak bertemu. Ciri-cirinya yang unik adalah ada bekas paku di telapak kanan dan kirinya, dan juga di kedua kakinya.”
“Oh ya?” hati Yesus tercekat.
Untuk memastikan apa yang dipikirkannya,Yesus bertanya kepada pak tua itu, “Apa pekerjaan Bapak semasa hidup Bapak?”
“Tukang kayu,” jawab bapak itu.
Mendengar jawaban itu, Yesus mencondongkan tubuh ke arah pak tua yang duduk di depannya dan berkata lirih, “Ayah?”
Pak tua tersebut juga menyondongkan badannya ke depan, wajahnya dekat sekali dengan wajah Yesus dan berkata,”Pinokio?”

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Advertisements

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s