Mengapa Kuda Memiliki Kemaluan Besar

Asal usul mengapa kuda memiliki kemaluan besar tidak bisa dilepaskan dari sejarah ketika terjadi banjir besar di jaman Nuh. Sebagaimana kita ketahui untuk menyelamatkan peradaban Nuh membawa semua binatang di dalam hutan di dalam bahteranya. Karena keterbatasan kapasitas bahtera, hanya sepasang binatang dari masing-masing jenis yang dibawa. Karena kapasitas bahtera yang sudah optimal, bahtera akan tenggelam bila ketambahan beban. Untuk itu Nuh melarang penumpang bahtera untuk bercinta dengan pasangannya karena ketidakpastian berapa lama banjir berlangsung dikawatirkan kelahiran anak dari pasangan binatang akan membahayakan keselamatan bahtera. Untuk memastikan para penumpang tidak bercinta Nuh memerintahkan semua penumpang laki-laki untuk menitipkan kelaminnya di dalam ruang khusus yang ditutup rapat, dikunci dan dijaga ketat. Kelamin akan dikembalikan ke pemilik masing-masing setelah banjir reda.

Air bah merendam bumi selama 150 tahun dan air mulai surut setelah itu. Setelah dipastikan bumi benar-benar kering, pintu bahtera dibuka dan para penumpang boleh keluar untuk menikmati udara bebas. Setelah terkungkung sekian lama dalam bahtera setiap binatang ingin menjadi yang pertama keluar bahtera. Terjadi kekacauan di ruang penitipan kelamin. Berebut ingin segera menikmati udara bebas, tak sempat menelilti apakah kelamin yang mereka ambil adalah yang mereka titipkan sebelumnya. Tidak jelas lagi siapa mengambil kelaminnya siapa. Ada juga yang beruntung bisa mengambil kelaminnya sendiri. Namun ada juga yang terpaksa mengambil kelamin binatang lain karena tidak menemukan kelamin milik sendiri. Perlu diketahui pada zaman itu desain binatang masih canggih di mana kelamin bersifat portable seperti flash disk dan kompatibel dengan setiap mahluk hidup lainnya.

Binatang yang sudah puas dengan kelaminnya begitu keluar dari bahtera langsung masuk ke hutan dan tidak kembali lagi. Tersisa tiga binatang yang mempunyai masalah dengan kelamin pasca kekacauan di ruang penitipan dan mereka menyampaikan masalahnya kepada Nuh. Gajah mengeluhkan bahwa kelamin yang dipasangnya tidak sesuai dengan kelamin yang dititipkannya sebelumnya – yang ini terlalu kecil. Semut tidak menemukan kelaminnya. Bebek juga tidak menemukan kelaminnya.

Kasus gajah bisa dipahami karena bertubuh besar dan bergerak lamban dia menjadi binatang terakhir yang mengambil kelamin. Gajah tidak punya pilihan lain karena satu-satunya kelamin yang tersisa di ruangan hanya satu itu. Nampaknya Nuh tidak punya solusi untuk masalah gajah kecuali meminta gajah untuk menerima keadaan dan bersyukur masih mempunyai kelamin yang berfungsi . Nuh mengambil salah satu per bahtera untuk menggantikan kelamin bebek dan masalah terpecahkan. Untuk semut Nuh tidak punya solusi.

Perilaku binatang saat ini terkait dengan kelaminnya bisa dipahami dengan mengetahui sejarah ini. Mengapa kuda mempunyai kelamin besar. Karena lincah dan bergerak cepat, begitu masuk ruang penitipan kelamin, langsung mengambil kelamin yang paling besar, yang barangkali sebelumnya milik gajah. Sementara itu, sampai sekarang gajah selalu berjalan dengan kepalanya bergeleng sambil dalam hati bergumam, “ini bukan punyaku..ini bukan punyaku.” Bisa dipahami pula mengapa bentuk kelamin bebek seperti ulir. Coba kita amati semut yang selalu berjalan cepat. Setiap kali bertemu dengan sesama semut, mereka selalu bertanya-jawab, “Sudah ketemu?” “Belum!” dan begitu seterusnya.

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Advertisements

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s