Archive for March, 2015

Tiga Tidak Takut

March 27, 2015

 

Tiga Tidak Takut

 Cheng Man-Ch’ing

 Ada beberapa alasan mengapa orang mempunyai dorongan untuk mempelajari taichi sebagai suatu latihan. Orang yang sakit mempelajarinya untuk memperoleh kesehatannya kembali, orang yang takut diserang mempelajarinya untuk bela diri, dan orang yang penasaran dengan kelembutan mistis taiji mempelajarinya untuk mendapatkan pembuktian. Terlepas dari hal-hal ini, banyak orang belajar taiji karena sekedar mengikuti tren, mengikuti arus kebanyakan orang, dan kurang tekun. Diskusi saya tentang tidak takut ditujukan hanya bagi orang-orang yang mau berusaha.

Pertama: Jangan takut kerja keras. Jika takut kerja keras, Anda tidak akan mendapatkan kemajuan. Taichi Klasik mengatakan bahwa akar yang benar ada di kaki. Pemula bisa membangun akar dengan hanya meluangkan waktu tiga sampai lima menit, pagi dan malam, berdiri sepenuhnya di atas satu kaki. Kaki bergantian dan secara bertahap ditingkatkan waktunya, sembari mengendap lebih rendah. Kerja keras ini tidak hanya membangun akar, tetapi juga merangsang sistem kardiovaskular, yang bermanfaat bagi otak. Penting untuk mengendapkan qi di dantian, kedua kaki menempel di lantai, tanpa ada tekanan tenaga sama sekali. Ketika melatih Jin Ji Du li, keseimbangan bisa dibantu dengan menyentuh ringan kursi atau meja dengan jari tengah dan jari telunjuk. Setelah beberapa saat gunakan jari telunjuk saja. Ketika bisa berdiri tanpa bantuan, Postur Ti Shou atau Shou Hui Pi Pa bisa dipilih untuk melanjutkan latihan. Postur Dan Pian membangun membuka dan memanjang sementara postur Yu Pei Shih mengembangkan wu chi. Postur-postur ini penting untuk memahami bentuk dan aplikasi Taiji – maka jangan abaikan postur-postur ini.

Kedua: Jangan takut kalah. Prinsip fundamental dalam Taiji adalah: “Meninggalkan diri mengikuti orang.” Memberikan posisi mengikuti lawan sudah pasti rugi. Dalam Bab satu Thirteen Treatises saya mendiskusikan tentang pentingnya investasi kerugian – namun dimulai dari mana? Ketika mendengarkan lawan maju dan menyerang, kita tidak boleh menahan dan bahkan juga tidak boleh menyerang balik. Hanya tempel dan melekat pada dia, maka kita bisa memutar dan menetralisirnya. Kepekaan yang dibutuhkan untuk ini susah bagi mereka yang memiliki pemahaman kasar dan permukaan. Selain itu, pemula tidak mungkin menghindari kerugian dan kekalahan, maka ketika kita takut kalah tentunya kita juga tidak akan memulai. Jika kita ingin belajar, mulailah dengan investasi kerugian. Investasi kerugian menghilangkan keserakahan akan keuntungan semu. Keserakahan akan keuntungan kecil menyebabkan kerugian kecil, sementara keserakahan akan keuntungan besar menyebabkan kerugian besar. Sebaliknya investasi kerugian kecil membawa sedikit keuntungan, sementara investasi kerugian yang besar akan membawa keuntungan jangka panjang.

Orang yang pandai dan peka menyadari kesatuan bentuk dan fungsi. Dari mana kita mulai? Dengan gagasan Lao Tzu, perintah utama Taiji adalah: “Konsentrasikan Qi menjadi lembut dan muda.” Mengkonsentrasikan Qi menjadi lembut adalah satu-satunya metode untuk investasi kerugian – maka kita tidak akan takut kehilangan. Taiji Klasik mengatakan: “Biarkan lawan menyerang dengan sepenuh tenaga, saya akan mengalihkannya dengan tenaga empat ons.” Pada tingkat ini kita telah belajar aplikasi kelembutan.

Ketiga: Jangan takut kekerasan. Lao Tzu menggambarkan ornag-orang yang telah mengembangkan prinsip kehidupan dengan mengatakan: “Badak tidak punya tempat untuk disruduk, macan tidak merasakan cakaran, tentara tidak punya tempat untuk ditusuk.” Mengapa demikian? Karena mereka tidak takut kematian. Daripada memuji kekerasan badak, macan, atau senjata, Lao Tzu mengagungkan kelembutan yang mengatasi semua kekerasan. Ketika kita menembus prinsip-prinsip dasar Taiji, kita memilik semangat besar keberanian. Tidak ada yang bisa membahayakan kita, tidak badak tidak tentara, ketika kita membuang rasa ego diri. Ketakutan membuat tubuh dan jiwa kita tegang, dan membuat kita susah rileks – maka kemudian bagaimana kita bisa menjadi lembut? Jika kita tidak lembut, maka kita keras. Mencius meminta merawat Qi yang luas dan mengalir; Hsun Shih meminta untuk tetap tenang bahkan di depan bola salju. Secara bersamaan sentimen keduanya meniru gagasan Lao Tzu untuk mengkonsentrasikan Qi menjadi lembut. Maka tidak ada kekerasan yang menakutkan.

Sumber: Master Cheng’s New Method of Taichi Ch’uan Self-Cultivation, hal. 11-13

Advertisements

Empat Tips Berlatih Zhan zhuang

March 9, 2015

Zhan zhuang adalah bentuk latihan berdiri yang biasanya dipraktekkan dalam bela diri internal seperti Taijiquan, Xingyi Quan, Bagua Zhang, dan Yiquan. Latihan Zhan zhuang dilakukan dengan berdiri statis dengan kedua kaki dibuka lebar selebar bahu atau lebih dengan berat badan terdistribusi merata di kedua kaki, dan lutut ditekuk sedikit. Ada berbagai variasi bentuk tangan, namun yang paling populer adalah dengan bentuk tangan seperti memeluk pohon. Selain bermanfaat untuk kesehatan secara umum, para praktisi bela diri menggunakan latihan ini untuk membangun struktur tubuh yang benar yang membuat ketrampilan bela diri yang dilatih semakin efektif. Waktu yang dipersyaratkan untuk melatih Zhan zhuang sangat bervariasi tergantung aliran dan gaya yang dianut, yang rentang waktunya antara 2 menit sampai 2 jam. Berikut empat tips untuk berlatih Zhan Zhuang.

 

  1. Buat rutinitas

Seperti juga menabung, berlatih Zhan Zhuang dalam waktu yang pendek yang dilakukan secara teratur akan menghasilkan manfaat yang lebih optimal dibandingkan dengan latihan yang lama namun tidak teratur. Tentukan waktu yang bebas dari gangguan, dan mulailah dengan berdiri selama 2-5 menit. Lakukan ini secara konsisten. Ketika rutinitas sudah terbentuk tambah durasi waktunya menjadi 15 menit, 30 menit, atau lebih lama lagi.

 

  1. Dalam Zhan Zhuang kita melatih pikiran

Cara terbaik melatih pikiran adalah berlatih ketika kita bisa berkonsentrasi. Itulah sebabnya mengapa perlu mulai dengan durasi waktu yang pendek dengan tujuan agar kita bisa berkonsentrasi selama latihan. Setelah beberapa waktu tentuya secara alami kita bisa berkonsentrasi dengan lebih lama, dan dengan demikian kita bisa berlatih lebih lama.

 

  1. Mengatasi gangguan rasa sakit

Rasa sakit memang mengganggu, namun perlu diingat bahwa kita sedang melatih pikiran. Rasa sakit muncul karena ketegangan otot yang ada dalam tubuh kita. Sadari bagian tubuh yang tegang dan terasa sakit. Kendorkan ketegangan yang ada di bagian tubuh tersebut atau berganti postur, dengan demikian rasa sakit akan berkurang atau hilang. Namun ketika rasa sakit muncul di persendian secara berpola kemungkinan ada kesalahan postur. Untuk hal ini diperlukan bantuan guru atau orang lain yang lebih tahu untuk membantu.

 

  1. Minta bantuan orang lain untuk mengkoreksi

Untuk awalnya tidak perlu kuatir apakah postur yang dilatih benar atau tidak. Yang lebih penting adalah merasa relaks dan bisa menjaga keteraturan latihan. Setelah merasa nyaman tentunya dibutuhkan orang lain untuk melihat dan memberikan koreksi atas postur yang dilatih. Dengan berjalannya waktu kita akan bisa mengkoreksi sendiri apakah postur kita benar atau salah. Ketika berlatih dan kita tidak bisa berkonsentrasi sebaiknya latihan dihentikan karena kalau dipaksakan latihan menjadi membosankan dan kita tidak bisa menikmatinya, dan lama kelamaan kita akan berhenti berlatih. Ketika kita berkonsentrasi dan kita bisa menikmatinya, latihan menjadi menyenangkan dan kita bisa mendapat kemajuan dengan cepat.

 

Taijiquan dan Kreativitas: Sebuah Pengantar

March 8, 2015

Catatan: Tulisan ini disampaikan dalam Workshop Menulis Ilmiah “Pembekalan dan Pendampingan Keikutsertaan PKM”, tanggal 8 Maret 2015, di Wisma Duta Wacana, Kaliurang, Sleman.

 

Taijiquan adalah seni hidup. Alih-alih seni bela diri, istilah seni hidup dipakai di sini untuk memberi makna yang lebih luas pada Taijiquan, di mana bela diri menjadi salah satu aspeknya. Sejarah Taijiquan mengindikasikan adanya kaitan yang erat antara Taijiquan dengan dunia seni. Selain ahli bela diri, para master di jaman dulu juga menguasai beberapa bidang seni seperti kesusasteraan dan kaligrafi. Selain itu, mereka menuliskan prinsip-prinsip Taijiquan dalam bentuk syair, atau yang dikenal dengan Taijiquan Klasik, yang masih dipelajari oleh para pembelajar Taijiquan masa kini.

Banyak manfaat dari Taijiquan yang bisa dipakai untuk meningkatkan kreativitas, seperti misalnya melatih fokus, menghayati saat ini, konsentrasi energi, ekonomi gerakan, ketenangan internal, pengembangan keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, penyatuan pikiran, dan pengembangan disiplin. Untuk mendapatkan semua manfaat ini tentu saja dibutuhkan proses.[1]

Proses mempelajari suatu seni bisa dibagi menjadi dua bagian: penguasaan teori dan penguasaan praktek. Jika kita ingin menguasai Taijiquan sebagai suatu seni, tentunya kita perlu mengetahui apa itu Taijiquan dan prinsip-prinsipnya. Setelah kita mendapatkan segala pengetahuan tentang Taijiquan, tidak secara otomatis kita menjadi kompeten. Dibutuhkan banyak waktu untuk melatihnya agar pengetahuan dan praktek kita bisa menyatu menjadi suatu ketrampilan yang alami. Selain kedua hal tersebut, ada satu faktor lagi yang diperlukan untuk menjadi ahli dalam suatu seni, yaitu bahwa penguasaan seni itu menjadi tujuan utama, seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih penting selain menguasai seni tersebut.[2] Nampaknya faktor ini yang membedakan pencapaian seorang master dari pencapaian rata-rata.

Chen Xiaowang mengatakan bahwa belajar Taijiquan seperti mendidik diri sendiri dari tingkat dasar sampai ke tingkat universitas. Tanpa menguasai yang dasar kita tidak akan memahami tingkat lanjut, dan tidak ada jalan pintas.[3] Sementara itu, Cheng Man-ch’ing mengingatkan kita untuk menghindari tiga kesalahan dalam berlatih Taijiquan: pertama, kurang tekun; kedua, serakah; ketiga, kurang sabar.[4]

Kalau kita ingin mendapatkan manfaat Taijiquan secara optimal untuk meningkatkan kreativitas ataupun untuk keperluan lainnya, barangkali pembelajaran ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita. Namun sebagaimana kata Lao Tzu: Perjalanan satu mil dimulai dengan langkah pertama. Mari berlatih.

 

[1] Peter M. Wayne, PhD, with Mark L. Fuerst, The Harvard Medical Guide to Tai Chi: 12 Weeks to a Healthy Body, Strong Heart & Sharp Mind (Boston: Harvard Health Publications, 2013), p.251

[2] Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper, 2000), p.5

[3] Chen Xiaowang, The Five Levels of Taijiquan (London: Singing Dragon, 2012), p.7

[4] Cheng Man-Ch’ing, Master Cheng’s New Method of Taichi Ch’uan Self-Cultivation (Berkeley: Blue Snake Books, 1999), p.7-10