Taijiquan dan Kreativitas: Sebuah Pengantar

Catatan: Tulisan ini disampaikan dalam Workshop Menulis Ilmiah “Pembekalan dan Pendampingan Keikutsertaan PKM”, tanggal 8 Maret 2015, di Wisma Duta Wacana, Kaliurang, Sleman.

 

Taijiquan adalah seni hidup. Alih-alih seni bela diri, istilah seni hidup dipakai di sini untuk memberi makna yang lebih luas pada Taijiquan, di mana bela diri menjadi salah satu aspeknya. Sejarah Taijiquan mengindikasikan adanya kaitan yang erat antara Taijiquan dengan dunia seni. Selain ahli bela diri, para master di jaman dulu juga menguasai beberapa bidang seni seperti kesusasteraan dan kaligrafi. Selain itu, mereka menuliskan prinsip-prinsip Taijiquan dalam bentuk syair, atau yang dikenal dengan Taijiquan Klasik, yang masih dipelajari oleh para pembelajar Taijiquan masa kini.

Banyak manfaat dari Taijiquan yang bisa dipakai untuk meningkatkan kreativitas, seperti misalnya melatih fokus, menghayati saat ini, konsentrasi energi, ekonomi gerakan, ketenangan internal, pengembangan keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, penyatuan pikiran, dan pengembangan disiplin. Untuk mendapatkan semua manfaat ini tentu saja dibutuhkan proses.[1]

Proses mempelajari suatu seni bisa dibagi menjadi dua bagian: penguasaan teori dan penguasaan praktek. Jika kita ingin menguasai Taijiquan sebagai suatu seni, tentunya kita perlu mengetahui apa itu Taijiquan dan prinsip-prinsipnya. Setelah kita mendapatkan segala pengetahuan tentang Taijiquan, tidak secara otomatis kita menjadi kompeten. Dibutuhkan banyak waktu untuk melatihnya agar pengetahuan dan praktek kita bisa menyatu menjadi suatu ketrampilan yang alami. Selain kedua hal tersebut, ada satu faktor lagi yang diperlukan untuk menjadi ahli dalam suatu seni, yaitu bahwa penguasaan seni itu menjadi tujuan utama, seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih penting selain menguasai seni tersebut.[2] Nampaknya faktor ini yang membedakan pencapaian seorang master dari pencapaian rata-rata.

Chen Xiaowang mengatakan bahwa belajar Taijiquan seperti mendidik diri sendiri dari tingkat dasar sampai ke tingkat universitas. Tanpa menguasai yang dasar kita tidak akan memahami tingkat lanjut, dan tidak ada jalan pintas.[3] Sementara itu, Cheng Man-ch’ing mengingatkan kita untuk menghindari tiga kesalahan dalam berlatih Taijiquan: pertama, kurang tekun; kedua, serakah; ketiga, kurang sabar.[4]

Kalau kita ingin mendapatkan manfaat Taijiquan secara optimal untuk meningkatkan kreativitas ataupun untuk keperluan lainnya, barangkali pembelajaran ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita. Namun sebagaimana kata Lao Tzu: Perjalanan satu mil dimulai dengan langkah pertama. Mari berlatih.

 

[1] Peter M. Wayne, PhD, with Mark L. Fuerst, The Harvard Medical Guide to Tai Chi: 12 Weeks to a Healthy Body, Strong Heart & Sharp Mind (Boston: Harvard Health Publications, 2013), p.251

[2] Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper, 2000), p.5

[3] Chen Xiaowang, The Five Levels of Taijiquan (London: Singing Dragon, 2012), p.7

[4] Cheng Man-Ch’ing, Master Cheng’s New Method of Taichi Ch’uan Self-Cultivation (Berkeley: Blue Snake Books, 1999), p.7-10

Advertisements

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s