Taijiquan – Seni Menerima

Artikel berikut ini adalah terjemahan dari artikel Taijiquan – The Art of Receving oleh Wee Kee Jin, yang diterbitkan oleh Tai Chi Union Of Great Britain dalam Tai Chi Chuan & Internal Arts Magazine (issue 23, Winter 2006/07)

Taijiquan – The Art of Receiving

Taijiquan tidak ada bedanya dengan latihan atau seni beladiri lain bila dilatih tanpa memahami prinsip-prinsipnya dan tanpa memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam gerakan. Tanpa memperhatikan beragam gaya Taiji atau bentuk, mereka semuanya didasarkan atas sekumpulan teks klasik Taiji. Teks-teks klasik itu adalah: Taiji Klasik Chang Sang Feng, Taiji Klasik Wang Ts’ung Yueh, Syair Tigabelas Postur, Memahami Tigabelas Postur, Syair tentang Substansi dan Fungsi, Syair tentang Tuishou dan, dalam aliran Yang, Sepuluh Poin Penting Keluarga Yang. Para praktisi seharusnya memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam gerakan, daripada mendalami gerakan untuk mencari prinsip. Untuk memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam gerakan, para praktisi harus secara terus menerus membaca dan memahami klasik dan, saat berlatih, pikiran harus ‘bertanya’ dan tubuh harus ‘menjawab’ (merespon).

Pondasi berlatih Taijiquan ada di dalam Bentuk Taiji (catatan penerjemah: Bentuk Taiji adalah terjemahan dari Taiji Form yang maksudnya adalah jurus Taiji). Dengan mengabaikan Bentuk Taiji dan hanya berfokus pada tuishou, adalah seperti mengolah fungsi (aplikasi) tanpa substansi (tubuh). Dengan mengenal diri sendiri dan mengenal lawan, kita akan unggul dalam tuishou. Mengenal diri sendiri bersumber dari latihan Bentuk Taiji, di mana kita belajar untuk rileks, seimbang, terhubung, dan sinkron tanpa tenaga eksternal yang mempengaruhi kita. Tenaga rileks Taiji diolah dan dibangun dalam latihan Bentuk Taiji.

Dalam klasik Chang Sang Feng dinyatakan, “Ketika bergerak, tubuh harus ringan, gesit dan yang paling penting adalah menyatu (sinkron)”. Untuk mencapai ini, zhong ding harus dijaga dalam posisinya, dalam perubahan dan saat melepas tenaga, baik dalam Bentuk Taiji dan dalam tuishou. Untuk menjaga zhong ding praktisi harus mengingat prinsip-prinsip berikut: Syair Tigabelas Postur”, Tarik tulang ekor dan jaga kesadaran di puncak kepala (titik meridian pai hui), tubuh akan menjadi gesit jika kepala dipertahankan seakan-akan tergantung dari atas. ”Taiji Klasik Wang Tsúng Yueh, “Jangan miring atau doyong. Berdiri seperti timbangan”. Hanya ketika zhong ding sudah dicapai, orang baru bisa bicara tentang perubahan dan relaksasi. Zhong ding merupakan pondasi Taijiquan. Ini merupakan salah satu dari ‘Tiga belas Postur’ Taiji dan dua belas postur lainnya semuanya harus mempunyai zhong ding di dalamnya.

Berlatih Bentuk Taiji bukanlah tentang apakah kita tahu seluruh Bentuk, ataupun diukur dari berapa banyak jumlah Bentuk atau gaya yang kita ketahui. Ini tentang memasukkan prinsip-prinsip ke dalam Bentuk dan memahami gerakan-gerakan di dalam Bentuk. Bentuk Taiji hanyalah satu alat bagi kita untuk memasukkan prinsip-prinsip dari Taiji Klasik ke dalam tubuh, dan pada akhirnya Bentuk ini harus menjadi tanpa bentuk karena setiap gerakan yang dilakukan harus mengandung prinsip-prinsip di dalamnya.

Selain memiliki prinsip-prinsip Taiji, praktisi juga harus memahami gerakan dalam Bentuk. Setelah belajar Bentuk keseluruhan praktisi harus memahami urutan perubahan yang melahirkan gerakan dan memahami urutan perubahan dalam hubungannya antara gerakan yang satu dan yang lain, dengan demikian, mencapai prinsip yang dinyatakan dalam klasik Memahami Tigabelas Postur, ”Ingat, simpan ini dalam hati, ketika bergerak setiap bagian tubuh bergerak, ketika diam setiap bagian diam”. Dalam postur lain dalam Bentuk Taiji, lengan, kaki dan tubuh mungkin dalam posisi yang berbeda dan mungkin kita menghadap arah yang berbeda, namun urutan perubahan dan apa yang terjadi di dalamnya adalah sama. Itulah sebabnya mengapa para master Taiji di masa lalu selalu mengatakan, ”ketika paham satu gerakan, paham semua gerakan”. Pada kenyataannya cara paling efektif melatih Bentuk adalah latihan postur tunggal.

Perubahan dalam gerakan apa pun selalu mulai dari bawah (kaki, pergelangan kaki, lutut, sendi paha) dan mengendorkan ketegangan dari betis dan otot paha. Bawah melahirkan gerakan tubuh (batang) – relaksasi dada dari dalam, bercampurnya sensasi otot tubuh dan pengendoran ketegangan dari punggung atas, tengah, dan bawah, melahirkan gerakan di punggung. Tubuh melahirkan gerakan lengan – mengendapnya bahu dan jatuhnya siku. Gerakan tubuh lahir dari kultivasi pikiran, maka kesadaran pikiran harus di dalam tubuh untuk mengimaginasikan dan memvisualisasikan gerakan tubuh terjadi. Setelah kultivasi lama gerakan akan mewujud. Gerakan bawah dan lengan hanya akan terhubung jika ada gerakan dalam tubuh, jika tidak gerakan tersebut hanyalah terkoordinasi.

Relaksasi dalam Bentuk Taiji: ada perbedaan antara relaksasi dan menjadi ‘lunak dan loyo‘. “Fang Sung” (relaksasi dalam Bahasa Mandarin) berarti ‘melepaskan’. Melepaskan apa?, melepaskan ketegangan apa pun yang tidak perlu dalam postur (tubuh) dan gerakan. Dalam Taiji kita menggunakan ketegangan minimum untuk menjaga postur dan gerakan, apa pun yang melebihi dari yang diperlukan kita anggap ketegangan. Dengan meningkatnya kesadaran tubuh demikian juga dengan kemampuan kita untuk melepaskan ketegangan yang tidak perlu. Ketika tubuh bagian atas menjadi lebih ringan dan bagian bawah menjadi lebih berat, ini merupakan tanda terjadi relaksasi. Pada akhirnya, tubuh atas menjadi yin dan bawah menjadi yang dan, ketika praktisi mencapai tingkatan tertinggi, hanya bagian kaki saja yang dan bagian tubuh lainnya adalah yin.

Mengendap: mengendap adalah proses mental dan sangat penting dalam praktek Taiji. Ini hanya bisa muncul setelah praktisi bisa relaks. Mengendap membangun akar dalam Taiji, memungkinkan praktisi untuk ‘meminjam energi dari bumi’. Mengendap juga merupakan latihan untuk menyalurkan tenaga yang datang ke tanah (menetralisasi internal) dalam tuishou. Mengendap harus mulai dari titik meridian Pai Hui (puncak kepala), dan ini untuk ‘menelan chi langit’. Ini harus melalui tubuh, tungkai dan kaki, melewati yongquan masuk ke dalam tanah.

Untuk meminjam energi dari bumi, praktisi harus memvisualisasikan kesadaran mengendap memantul dari tanah, bergerak melalui yongquan, melewati kaki, tubuh dan lengan, melewati titik meridian Lau Kung dan ke ujung jari. Ketika praktisi menguasai Bentuk Taiji, maka mereka akan mempunyai struktur untuk menerima tenaga dalam tuishou.

Tuishou: Di jaman dulu dikenal sebagai latihan ‘mengindra dan merasakan’, namun baru belakangan disebut Tuishou atau Tangan Mendorong. Frase Tangan Mendorong adalah frase yang sangat menyesatkan karena pada kenyataannya tidak ada hubungannya dengan mendorong dan tidak ada hubungannya dengan tangan. Kebanyakan tuishou Taiji yang kita lihat seperti pertandingan gulat, atau seperti adu kerbau, yang menggunakan tenaga kasar dan dengan demikian menyimpang dari prinsip-prinsip Taiji. Alasannya adalah bahwa satu orang ingin mendorong, dan yang lainnya tidak ingin didorong. Yang lebih besar menggunakan berat tubuh dan kekuatannya, sementara yang lebih kecil berusaha mempertahankan posisinya. Selalu dibutuhkan dua tangan untuk bertepuk!

Kita harus meneliti prinsip-prinsipnya, memahaminya dan kemudian melanjutkannya ke dalam praktek. Salah satu poin dalam Sepuluh Poin Penting Keluarga Yang mengatakan, “Gunakan pikiran, bukan tenaga kasar”, selama kita menggunakan pikiran kita, pintu tuishou Taiji terbuka bagi kita untuk masuk; jika kita masih ingin menggunakan tenaga kasar, ini seperti mengunci pintu dan berusaha masuk. Jika masih ingin menggunakan tenaga kasar, jangan belajar Taiji karena bahkan memiliki sepuluh kali kehidupan, tidak akan mencapai esensi Taiji.

Dalam Syair tentang Tuishou dikatakan, “Biarkan dia menggunakan tenaga kasar untuk menyerang” dan “Bimbing gerakannya dengan empat tael untuk menetralisir tenaga seribu kati”. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa tenaga yang lebih besar tidak akan mendapat kesempatan bila dihadapi dengan menggunakan prinsip-prinsip Taiji.

Pondasi tuishou Taiji adalah menerima, bukan mendorong, dan bentuk tertinggi tenaga Taiji adalah Tenaga Menerima (jie jin), dan karena itu berlatih menerima harus dimulai dari awal. Profesor Cheng Man Ching mengatakan bahwa “Jika tidak siap menerima (tenaga yang datang) jangan belajar Taiji karena hanya akan membuang waktu dalam hidup secara sia-sia karena tidak akan mendapatkan esensi Taiji”. Dalam Taiji klasik Wang Tsúng Yueh dinyatakan, “Sehelai bulu tidak bisa ditambahkan, seekor lalat tidak bisa hinggap” dan dalam Sepuluh Poin Penting Keluarga Yang dikatakan, ”Saya bukan rak daging”. Semua poin ini menekankan bahwa kita harus menerima tenaga, tidak melawannya.

Dalam latihan tuishou tubuh harus mempunyai semua elemen yang ada dalam Bentuk Taiji. Kunci menerima adalah membuang diri (ego) dan investasi kerugian. “Investasi kerugian; rugi sedikit, untung sedikit, rugi besar, untung besar”, betapa indah kata-kata yang diungkapkan profesor Cheng Man Ching. Dengan menerima (memberi jalan) nampaknya kita rugi namun tidak demikian, karena orang yang mendorong sebenarnya memberi kita “uang Taiji”. Semakin dia mendorong dia semakin rugi dan semakin kita menerima kita menjadi semakin kaya. Ada saatnya ketika dia tidak lagi bisa mendorong kita (berarti secara Taiji dia bangkrut), pada saat itu barangkali kita bisa memberi dia bunga dari “uang Taiji” yang dia berikan! Pada awalnya latihan menerima bisa jadi bikin frustrasi karena kita terdorong terus berkali-kali. Begitu kita mengalami kemajuan kita mulai menyadari di mana kita macet, dan mengapa, namun kita masih terdorong karena kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun perlahan-lahan kita belajar untuk “mengurai” diri kita dan mengarahkan tenaga ke tanah. Menerima harus dilakukan dengan penerimaan total, dalam proses menerima jika kita punya sedikit niat atau pikiran untuk melawan, maka berarti menerima tanpa penerimaan total. Ketika kita menguasai seni menerima, kita akan bisa melakukan prinsip yang dinyatakan dalam Syair tentang Tuishou, “Tarik dia ke dalam kekosongan, kumpulkan tenaganya dan lepaskan”.

Menerima (memberi jalan dan menetralisasi) bukanlah menerima tenaga yang datang dengan tubuh karena tubuh mempunyai kapasitas terbatas untuk menyerap tenaga, namun menyalurkannya ke bumi, yang relatif mempunyai kapasitas tak terbatas. Proses menerima tenaga ke bumi mirip dengan proses mengendap dalam Bentuk Taiji kecuali bahwa proses ini mulai dari titik kontak [ketimbang pai hui].

Tubuh bagian atas adalah yin dan bagian bawah adalah yang, maka penyesuaian terhadap gerakan dan tenaga yang datang harus mulai dari bawah dan, sebagaimana dalam Bentuk Taiji, tubuh dan lengan mengikuti perubahan bagian bawah. Tangan digunakan hanya untuk menempel lawan, dan saat ada peluang untuk melepas tenaga harus dilepas melalui kaki dengan dua kaki tetap kokoh di bumi. Sebagaimana dinyatakan dalam Taiji Klasik Chang San Feng, “Akarnya di kaki, disalurkan melalui tungkai (tenaga relaks), dikontrol oleh pinggang (arah) dan diekspresikan ke dalam jari-jari”. Tidak peduli betapa besar atau kecil melepaskannya, tangan tidak pernah melampaui ruang satu inchi (memanjang hanyalah akibat dari mengendapnya bahu).

Dalam tuishou, kita tidak mencari untuk mendorong atau merencanakan peluang untuk mendorong, kita hanya mengikuti perubahan lawan dan membiarkan dorongan terjadi dengan sendirinya. Jika ada keinginan mendorong, maka ada niat dan hasrat. ‘Pada prinsipnya semuanya didasarkan atas prinsip yin dan yang. Ketika yin mencapai ekstremnya akan menjadi yang dan sebaliknya. Dengan demikian ketika kita berpikir bahwa kita dalam posisi yang paling menguntungkan sebenarnya kita ada dalam proses menuju posisi yang tidak menguntungkan dan ketika kita dalam posisi yang tidak menguntungkan kita dalam proses menuju posisi yang menguntungkan. Selalu lebih baik untuk berubah dari posisi yang tidak menguntungkan menuju posisi menguntungkan, daripada sebaliknya. Ketika kita mencapai level tertinggi tuishou, tidak ada dorongan dari kita. Struktur tubuh kita adalah ruang kosong dan semua tenaga yang masuk ke dalamnya akan mengalir ke bumi dan memantul kembali kepada orang yang mengeluarkan tenaga tersebut. Ini level tertinggi tenaga Taiji, Tenaga Menerima, di mana praktisi menetralisasi tanpa menetralisasi dan mengeluarkan tenaga tanpa mengeluarkan tenaga. Untuk mencapai level ini orang harus bisa “Meninggalkan diri dan mengikuti orang tanpa beropini, ikuti hati dan pikiran dan membiarkannya menjadi wajar”.

Meminjam kata-kata professor Cheng Man Ching saat bicara tentang tuishou, “Ini adalah gagasan tanpa motif, tindakan tanpa hasrat. Betapa indahnya seni Taiji; tidak ada hubungannya dengan mendorong, semuanya adalah tentang menerima”. Sebagai praktisi Taijiquan kita harus jujur pada seni ini, tidak hanya berkotbah tentang prinsip-prinsipnya, namun juga mempraktekkan dan setia pada prinsip-prinsip tersebut. Taiji tidak sekedar latihan untuk kesehatan atau seni beladiri, yang paling penting Taiji adalah Dao (filosofi) kehidupan.

Wee Kee Jin, 2006.

Advertisements

Tags: , , , , , ,

One Response to “Taijiquan – Seni Menerima”

  1. Indra Says:

    Terima kasih Koh Edy……
    Sangat membantu sekali…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s