Archive for the ‘Humor’ Category

Mengapa Kuda Memiliki Kemaluan Besar

December 17, 2014

Asal usul mengapa kuda memiliki kemaluan besar tidak bisa dilepaskan dari sejarah ketika terjadi banjir besar di jaman Nuh. Sebagaimana kita ketahui untuk menyelamatkan peradaban Nuh membawa semua binatang di dalam hutan di dalam bahteranya. Karena keterbatasan kapasitas bahtera, hanya sepasang binatang dari masing-masing jenis yang dibawa. Karena kapasitas bahtera yang sudah optimal, bahtera akan tenggelam bila ketambahan beban. Untuk itu Nuh melarang penumpang bahtera untuk bercinta dengan pasangannya karena ketidakpastian berapa lama banjir berlangsung dikawatirkan kelahiran anak dari pasangan binatang akan membahayakan keselamatan bahtera. Untuk memastikan para penumpang tidak bercinta Nuh memerintahkan semua penumpang laki-laki untuk menitipkan kelaminnya di dalam ruang khusus yang ditutup rapat, dikunci dan dijaga ketat. Kelamin akan dikembalikan ke pemilik masing-masing setelah banjir reda.

Air bah merendam bumi selama 150 tahun dan air mulai surut setelah itu. Setelah dipastikan bumi benar-benar kering, pintu bahtera dibuka dan para penumpang boleh keluar untuk menikmati udara bebas. Setelah terkungkung sekian lama dalam bahtera setiap binatang ingin menjadi yang pertama keluar bahtera. Terjadi kekacauan di ruang penitipan kelamin. Berebut ingin segera menikmati udara bebas, tak sempat menelilti apakah kelamin yang mereka ambil adalah yang mereka titipkan sebelumnya. Tidak jelas lagi siapa mengambil kelaminnya siapa. Ada juga yang beruntung bisa mengambil kelaminnya sendiri. Namun ada juga yang terpaksa mengambil kelamin binatang lain karena tidak menemukan kelamin milik sendiri. Perlu diketahui pada zaman itu desain binatang masih canggih di mana kelamin bersifat portable seperti flash disk dan kompatibel dengan setiap mahluk hidup lainnya.

Binatang yang sudah puas dengan kelaminnya begitu keluar dari bahtera langsung masuk ke hutan dan tidak kembali lagi. Tersisa tiga binatang yang mempunyai masalah dengan kelamin pasca kekacauan di ruang penitipan dan mereka menyampaikan masalahnya kepada Nuh. Gajah mengeluhkan bahwa kelamin yang dipasangnya tidak sesuai dengan kelamin yang dititipkannya sebelumnya – yang ini terlalu kecil. Semut tidak menemukan kelaminnya. Bebek juga tidak menemukan kelaminnya.

Kasus gajah bisa dipahami karena bertubuh besar dan bergerak lamban dia menjadi binatang terakhir yang mengambil kelamin. Gajah tidak punya pilihan lain karena satu-satunya kelamin yang tersisa di ruangan hanya satu itu. Nampaknya Nuh tidak punya solusi untuk masalah gajah kecuali meminta gajah untuk menerima keadaan dan bersyukur masih mempunyai kelamin yang berfungsi . Nuh mengambil salah satu per bahtera untuk menggantikan kelamin bebek dan masalah terpecahkan. Untuk semut Nuh tidak punya solusi.

Perilaku binatang saat ini terkait dengan kelaminnya bisa dipahami dengan mengetahui sejarah ini. Mengapa kuda mempunyai kelamin besar. Karena lincah dan bergerak cepat, begitu masuk ruang penitipan kelamin, langsung mengambil kelamin yang paling besar, yang barangkali sebelumnya milik gajah. Sementara itu, sampai sekarang gajah selalu berjalan dengan kepalanya bergeleng sambil dalam hati bergumam, “ini bukan punyaku..ini bukan punyaku.” Bisa dipahami pula mengapa bentuk kelamin bebek seperti ulir. Coba kita amati semut yang selalu berjalan cepat. Setiap kali bertemu dengan sesama semut, mereka selalu bertanya-jawab, “Sudah ketemu?” “Belum!” dan begitu seterusnya.

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Advertisements

Kotbah yang Mencerahkan

December 2, 2014

Karena hujan, seorang laki-laki yang nampak kalut dan bingung lari terbirit-birit mencari tempat berteduh. Dia segera masuk ke halaman gereja dan berteduh di depan pintu gereja. Kebetulan saat itu pendeta di dalam gereja tengah berkotbah. Sambil menunggu hujan reda, laki-laki tersebut mendengarkan kotbah sang pendeta. Ketika kebaktian selesai, laki-laki tersebut segera menemui sang pendeta.

“Terima kasih sekali bapak pendeta. Kotbah bapak benar-benar mengingatkan dan mencerahkan saya.”

“Oh ya?” seru sang pendeta.

“Bagian yang mana ya?” lanjut pendeta, setengahnya penasaran,

“apakah tentang perintah Tuhan jangan membunuh?” pendeta tersebut asal menebak karena penasaran.

“Bukan pak pendeta,” sahut laki-laki itu.

“Apa tentang larangan mencuri?” pendeta tersebut mencoba lagi.

“Bukan itu pak pendeta. Ketika bapak pendeta mengatakan jangan berzinah, nah, pada saat itu pula lah saya teringat di mana payung saya ketinggalan.”

 

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Suatu Peristiwa di Gerbang Surga

December 2, 2014

Santo Petrus, sang penjaga gerbang surga, suatu ketika ada keperluan penting sehingga dia harus meninggalkan gerbang surga untuk sementara waktu. Kebetulan saat itu Yesus sedang nongkrong di sana.
“Boss, maaf saya harus pergi bentar. Bisa jagain gerbang sebentar?” kata Petrus kepada Yesus.
“Apa yang harus dilakukan bila ada arwah yang datang dan ingin masuk ke sini?” tanya Yesus.
“Gampang aja. Basa basi sebentar, terus tanya tentang apa yang dilakukannya selama hidup di dunia. Bila jawabannya sebaik rekam jejak yang ada di database kita, biarkan dia masuk ke sini. Bila tidak, suruh dia masuk neraka. Bila Boss ragu-ragu, suruh dia tunggu,” Petrus menjelaskan.
“Baiklah. Kayaknya bukan tugas yang sulit,” kata Yesus.
Petrus meninggalkan gerbang surga, dan Yesus menunggu di meja tugas Petrus (bayangkan seperti di gardu satpam perumahan mewah).
Sesaat kemudian, Yesus melihat seorang tua yang wajahnya kusam, nampak bingung berjalan menuju gerbang. Sebagai petugas yang barusan mendapat training kilat, Yesus dengan cekatan mengajak pak tua tersebut masuk ke gardu dan mempersilahkannya duduk.
“Bagaimana bapak? Ada yang bisa dibantu?” tanya Yesus sesuai dengan script standar seorang Customer Service Officer.
“Begini nak..” kata pak tua tersebut, “Saya lagi bingung mencari anak saya yang sudah lama hilang, dan kata orang-orang dia ada disekitar sini.”
“Oh ya? Bagaimana ciri-ciri anak Bapak?” Yesus menunjukkan empatinya.
Pak tua itupun mulai bercerita, “Dia anak saya satu-satunya. Sudah lama sekali saya tidak bertemu. Ciri-cirinya yang unik adalah ada bekas paku di telapak kanan dan kirinya, dan juga di kedua kakinya.”
“Oh ya?” hati Yesus tercekat.
Untuk memastikan apa yang dipikirkannya,Yesus bertanya kepada pak tua itu, “Apa pekerjaan Bapak semasa hidup Bapak?”
“Tukang kayu,” jawab bapak itu.
Mendengar jawaban itu, Yesus mencondongkan tubuh ke arah pak tua yang duduk di depannya dan berkata lirih, “Ayah?”
Pak tua tersebut juga menyondongkan badannya ke depan, wajahnya dekat sekali dengan wajah Yesus dan berkata,”Pinokio?”

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.

Mencari Tuhan

December 2, 2014

Ada dua orang sahabat dengan dua karakter yang bertolak belakang. Si Soleh, sesuai dengan namanya, adalah pemuda yg taat beragama serta sopan dan baik dalam bertutur kata. Satunya si Kafir adalah pemuda urakan yang tidak taat dan tidak mempercayai keberadaan Tuhan.

Karena peduli pada si Kafir, si Soleh ingin mengajak sahabatnya ini ke jalan yang benar. Dia ingin mengajak si Kafir untuk bermeditasi di suatu tempat suci di dalam hutan, karena kalau di sana bisa bermeditasi dengan benar Tuhan akan hadir. Entah bagaimana caranya, si Soleh berhasil membujuk dan mengajak si Kafir untuk masuk ke hutan ke tempat suci tersebut.

Di perjalanan, si Kafir melihat seekor burung yang indah. Dasar iseng, dia mengambil batu dan menyambit burung itu. Namun burung itu bisa mengelak dari sambitan dan kembali bertenger di tempat semula. Karena sambitannya meleset, si Kafir mengumpat, “Sialan, luput!” Dia ambil batu yang lain dan mencoba menyambit lagi, dan burung itu mengelak lagi. Si Kafir pun mengumpat kembali, “Sialan, luput!”, dan dia ambil batu dan sambit lagi. Berkali-kali begitu. Si Kafir sambit batu dan meleset dan burung itu mengelak, namun tidak terbang jauh melainkan kembali ke tempat semula seakan-akan mengejek si Kafir.

Si Soleh ingatkan si Kafir, “Sudahlah Kaf. Jangan iseng. Ayo kita lanjutkan perjalanan, niat kita kan baik, jangan kita kotori dengan perbuatan yang sia-sia.”

“Sebentar, Sol. Lagi tanggung dan penasaran nih, masak dari tadi luput terus, sialan!” kata si Kafir jengkel. “Sialan, luput!”, umpat si Kafir setiap kali dia sambit dan meleset, barangkali burung ini reinkarnasi dari jagoan silat ahli ginkang di dunia kangouw di masa lalu.

Mendadak sontak hujan turun. Si burung terbang dan kedua sahabat kita ini buru-buru cari tempat berteduh. Kebetulan ada gua, dan mereka berteduh di mulut gua.

Hujan lebat, disertai dengan suara gemuruh dan kilatan petir yang menyambar-nyambar.

Tiba-tiba ada kilatan petir besar menyambar ke mulut gua tempat kedua sahabat kita ini berteduh. Si Soleh tewas tersambar petir. Tubuhnya terbujur hangus terbakar. Dari langit tiba-tiba muncul suara menggelegar, “Sialan, luput!.”

 

Disklaimer:
Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama atau tempat memang disengaja tanpa maksud apapun kecuali untuk memberi efek menghibur.