Archive for the ‘Taijiquan’ Category

Sophia Delza dan Gerda Geddes: Pionir Taijiquan di Dunia Barat

September 17, 2018

Sebagaimana terjadi di banyak bidang pengetahuan atau seni timur, tersebarnya pengetahuan tersebut ke seluruh penjuru dunia dari negeri asalnya adalah peran dunia Barat, dalam pengertian seni atau pengetahuan tersebut dibawa ke Barat dan dari sana menyebar ke seluruh penjuru dunia atau ada orang Barat yang mempelajari seni atau ilmu tersebut dan menyebarkannya.  Barangkali persebaran Taijiquan di dunia tidak bakalan seluas sekarang jika tidak ada yang membawa seni ini ke dunia Barat dan tidak ada orang-orang Barat yang mempromosikannya.  Selain itu, berkat keseriusan orang-orang Barat mempelajari Taijiquan, banyak dari teks-teks atau buku Taijiquan diterjemahkan dari Bahasa Cina ke dalam Bahasa Inggris, dan ini sangat membantu para peminat Taijiquan yang tidak punya akses ke Bahasa Mandarin untuk memahami konsep-konsep atau teori-teori Taijiquan.  Sebagaimana diketahui pemahaman akan konsep dan teori sangat membantu meningkatkan kualitas latihan.

Tokoh Taijiquan yang mulai mengajar di Barat adalah Choy Hok Pang, murid dari Yang Chengfu, yang merupakan orang pertama yang mengajar Taijiquan di Amerika Serikat di tahun 1939.  Di tahun 1964 Zheng Manqing mulai tinggal di Amerika Serikat dan mulai mengajarkan Taijiquan untuk umum.  Adapun orang Barat yang belajar dan memperkenalkan Taijiquan di dunia barat adalah dua orang perempuan, yaitu Sophia Delza dan Gerda Geddes.  Keduanya adalah penari yang pernah tinggal di Cina dan mengenal Taijiquan di sana.  Sophia Delza memperkenalkan Taijiquan di Amerika Serikat, sementara Gerda Geddes memperkenalkannya di Inggris.  Keduanya berfokus pada Taijiquan untuk kesehatan dan pengembangan kreativitas.

Sophia Delza dan Gerda Geddes kurang begitu dikenal di dunia Taijiquan, termasuk di tanah air.  Tidak banyak tulisan mengenai keduanya, terutama yang berkaitan dengan Taijiquan, yang bisa ditemukan di Internet, apalagi yang berbahasa Indonesia.  Berikut sekilas kehidupan mereka yang diambil dari beberapa sumber yang bisa ditemukan di Internet.

Pada tahun 1948, Sophia Delza menemani suaminya, A. Cook Glassgold, ke Shanghai.  Suaminya bekerja pada the American Jewish Joint Distribution Committee, sebuah lembaga bantuan berbasis di New York, yang pada saat itu mengkoordinasikan bantuan kepada para pengungsi Yahudi pasca perang di  perkampungan kumuh di Shanghai.  Pada saat di Shanghai itu, selain bekerja sebagai instruktur tari,  dan menjadi orang Amerika pertama yang mengajarkan tari modern di Cina,  Sophia Delza belajar Taiji aliran Wu di bawah bimbingan Ma Yueliang.  Selain itu, dia juga mempelajari teater  dan tari teatrikal Cina.  Delza dan suaminya kembali ke Amerika pada tahun 1951, dan sepanjang hidup mereka tinggal di Manhattan. Pada tahun 1954 Sophia Delza memberikan demo Taiji untuk publik Amerika di Museum of Modern Art.  Di tahun itu pula, dia mendirikan Delza School of Tai Chi Chuan di Carnegie Hall. Kemudian dia mulai mengajar Taiji sebagai bentuk latihan di  PBB dan Actors Studio.  Di antara murid-muridnya di Actors Studio adalah John Strasberg, yang mencatat bahwa seni yang diajarkan oleh Delza tidak berfokus pada aspek bela dirinya.  Delza juga menunjukkan kebolehannya di televisi. Pada tahun1961 dia menulis buku T’ai Chi Ch’uan: Body and Mind in Harmony, yang merupakan buku pertama dalam bahasa Inggris yang membahas Taiji.

Sophia Delza meninggal dunia di Beth Israel Medical Center  New York City pada 27 Juni 1996 di usia 92, setelah menerbitkan buku terakhirnya, The T’ai-Chi Ch’uan Experience.

Gerda Geddes tinggal di Shanghai pada tahun 1948, bersamaan dengan waktu Sophia Delza di Shanghai. Kalau Sophia Delza bertemu dengan Ma Yueliang waktu di Shanghai. Gerda Geddes baru bertemu dengan guru Taijiquannya setelah pindah ke Hongkong pada tahun 1955/1956.  Guru pertamanya adalah Choy Hok Peng, salah seorang murid Yang Chengfu, yang seangkatan dengan Zheng Manqing.  Dia hanya belajar selama enam bulan secara intensif sebelum gurunya meninggal dunia. Dia berlatih dua jam setiap hari.  Kemudian dia belajar dari anaknya yang bernama Choy Kam Man selama dua setengah tahun.  Choy Kam Man akhirnya pindah ke San Fransisco, di mana dia membangun perguruan dengan banyak murid.  Gerda Geddes atau Pytt Geddes lahir pada 17 Juli 1917 dan meninggal dunia di usia 89 tahun pada 4 Maret 2006.

Advertisements

Wawancara dengan Sifu Adam Mizner untuk Taichimag

July 23, 2018

Kembali ke Sumber

Setelah penyederhanaan jurus oleh Yang Chengfu dan Wu Jianquan di tahun 30an, Taijiquan banyak dikenal publik sebagai latihan kesehatan. Sekarang, tidak banyak guru seni ini yang masih mampu menunjukkan aspek bela dirinya dan menerapkan teori kosong isi ketika menghadapi lawan yang agresif, termasuk di Cina. Adam Mizner termasuk di antara orang-orang yang sedikit itu yang bisa membuktikan bahwa jurus sederhana Yang style masih mengandung prinsip-prinsip bela diri yang masih sama dengan aslinya di aliran tersebut.

Oleh  Emmanuel Angletiner – Taichimag n°7

Kemampuannya untuk melepaskan dalam situasi apapun dan kepiawaiannya dalam Tuishou berada di tingkat yang langka. Selain itu, Adam Mizner mampu menggunakan prinsip-prinsip tersebut dalam situasi-situasi yang paling berbahaya, mengeluarkan kerangka pelatihan yang ketat, atau bahkan menangani lawan berpengalaman dari berbagai disiplin lain secara bebas.  Ketika berada di Eropa pada suatu waktu untuk mengajarkan seni ini, dia setuju untuk memberikan wawancara ini.

 

Mohon Anda perkenalkan diri Anda kepada pembaca Taichimag ? Berapa usia Anda dan berapa lama Anda telah berlatih Taijiquan?

Saya berusia 37 tahun dan telah berlatih Taijiquan selama 20 tahun. Sebenarnya di tahun-tahun awal saya tidak benar-benar melakukan Taijiquan namun hanyalah Waijia yang diperlahankan.

 

Di mana Anda mulai belajar Taijiquan dan mengapa Anda sampai pada aliran gongfu ini?

Saya mulai berlatih Taijiquan di Australia pada saat yang sama saya mulai berlatih Chow Gar Tong Long, Saya didorong oleh guru-guru saya pada saat yang sama untuk berlatih taijiquan untuk membantu membangun relaksasi lebih dalam Tong Long saya.  Seperti sudah saya katakan bahwa ini hanya mirip kulit luar tanpa pengembangan internal sejati sebagaimana begitu umum di kalangan mereka yang berniat berlatih Taijiquan. Ketika hanya ada kulit luar dan belum memasuki pintu internal lewat pengendapan dan mobilisasi Qi maka seperti apa yang suka saya sebut “ Taijiquan palsu”.

Setelah sekitar 4 tahun saya bertemu dengan seseorang dengan Taijiquan betulan dan minat saya kemudian gairah saya terpicu. Kekuatan tanpa upaya dan keanggunan adalah segalanya yang saya inginkan dari kungfu. Jelas bagi saya bahwa Taijiquan adalah jalan maju. Saya tidak meninggalkan latihan kungfu eksternal saya sampai kurang lebih setahun berikutnya, ketika menjadi sangat jelas bagi saya bahwa kekuatan keras lawan keras berlawanan dengan praktek spiritual dan meditasi.  Pada saat itu saya melepaskan latihan eksternal untuk selamanya dan sejak saat itu berfokus pada meditasi dan Taijiquan.

 

Apakah latihan Anda dipengaruhi oleh beberapa orang atau master?

Ya, tentu saja. Saya mempunyai tujuh guru utama, semuanya sangat berpengaruh.  Di sepanjang perjalanan, saya sudah bertemu dengan banyak praktisi senior lain yang dalam derajat tertentu juga berpengaruh pada saya. Saya juga dipengaruhi oleh kehidupan dan ketrampilan para master hebat dari masa lalu.

 

Dalam pengajaran Anda, jurus (Taolu) yang mana yang Anda ajarkan dan seberapa penting Anda tekankan pada jurus-jurus tersebut?

Latihan Taolu tentunya merupakan latihan yang sangat penting dan merupakan intisari dari latihan Taijiquan. Menurut pendapat saya, latihan Taolu merupakan tingkat latihan yang paling tinggi, untuk bisa melakukannya dengan benar orang harus melalui serangkaian latihan perubahan tubuh dan pengembangan Qi.  Ini berbentuk latihan-latihan membuka tubuh, jibengong, song gong dan Zhan Zhuang. Ketika area latihan ini dicapai maka seseorang siap untuk benar-benar memainkan Taijiquan dan ini saat yang tepat untuk berlatih Taolu.

Kebanyakan orang modern tidak memiliki kesabaran dan atau waktu untuk jadual pelatihan seperti itu, dan sialnya di kebanyakan aliran pelatihan dimulai dengan Taolu. Saya suka memperkenalkan Taolo di awal sembari memberi fokus pada Zhan Zhuang dan song gong dan sejalan dengan para murid berlatih kita memberi fokus lebih banyak pada kerja Taolu secara internal dan eksternal.

Saya berlatih sejumlah rangkaian dari Yang style Taijiquan dari metode Huang Sheng Shyan dan dari metode Yang Shao Hou. Perangkat mengajar saya yang utama adalah rangkaian Huang yang merupakan variasi dari jurus 37, walaupun saya punya beberapa murid yang sangat senior dan sangat trampil yang memiliki pengembangan internal yang dibutuhkan dan telah mulai berlatih rangkaian Taolu yang diturunkan lewat Yang Shao Hou. Pada umumnya semua semua pelatihan saya mempengaruhi setiap bagian yang lain, semuanya Yang taijiquan.

 

Apakah perbedaan utama antara Yang Shaohou’s style dan Huang Xingxian’s (Huang Sheng Shyan) style of Taijiquan ?

Kedua metode tersebut adalah Yang style Taijiquan, di mana hanya ada jumlah postur yang terbatas pada Yang style dan urutan jurusnya sangat mirip. Saat kita melihat rangkaian Taolu yang tidak adal kemiripannya dengan Yang style, itu karena memang bukan Yang style, terlepas klaim yang dibuatnya.

Taijiquan adalah seni yin dan yang, yin dan yang harus diwujudkan dalam setiap fungsi tubuh, energi dan pikiran. Ketrampilan mengelola yang harus dibangun adalah mendengarkan atau Ting yang sesungguhnya merupakan kualitas mengetahui di saat sekarang dan Song yang suka saya terjemahkan sebagai pelepasan. Dua ketrampilan internal ini dikombinasikan dengan pengaturan spesifik yin dan yang dalam pikiran dan tubuh memunculkan Taijiquan dan 13 postur.

Metode Yang family yang lebih lama seperti yang ditransmisikan lewat Yang Shou Hou lebih kompleks dan lebih menuntut secara internal dan eksternal, metode tersebut menuntut tingkat kemampuan atletik yang lebih tinggi dan tingkat pengembangan internal yang lebih tinggi. Banyak dari “gerakan-gerakan” benar-benar tidak terlihat oleh mata, karena itu metodenya sangat susah untuk dicapai. Berlawanan dengan hal ini, metode Yang family Taijiquan yang lebih modern kurang begitu kompleks dan kurang menuntut, gerakan-gerakannya terlihat oleh mata. Saya percaya adalah mungkin untuk mencapai tingkat tinggi dengan metode lama namun sebagian besar orang mencapai lebih banyak dengan metode yang lebih baru. Metode yang lebih lama menuntut semacam komitmen yang hampir tidak mungkin di jaman kita sekarang ini.

Beberapa orang percaya bahwa rangkaian Taolu rahasia atau lama akan memberi mereka ketrampilan spesial. Tentunya masalahnya bukan di sini.  Pengembangan tubuh yang benar dan kinerja internal yang memberikan ketrampilkan. Aspek ini sering hilang atau disalahpahami, bahkan di beberapa penerus lineage dengan jurus otentik yang lama telah kehilangan kinerja internalnya dan dengan demikian hanya tinggal kulit luarnya saja.

 

Apakah menurut Anda Taijinya Huang Xingxian dipengaruhi oleh  Hequan (Tinju Bangau) ?

Ya, metode Huang dipengaruhi oleh Bangau Putihnya, setiap guru mengajarkan seninya karena dia telah menguasainya, tak ada cara lain. Dari generasi sekarang yang mengajar metode Huang, beberapa guru telah menjaga lebih banyak pengaruh Bangau Putih ketimbang yang lain berdasarkan pengalaman dan preferensi mereka. Metode personal saya dan apa yang saya ajarkan sedemikian banyak terpengaruh oleh metode lama Yang sehingga pengaruh Bangau Putihnya hampir tidak ada.

 

Nampaknya sebagian besar praktisi Taiji practitioners tidak bisa menggunakan teknik dan teori mereka untuk bertarung saat ini, mengapa demikian dan bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Kebenaran yang menyadarkan adalah bahwa sebagian besar “praktisi Taiji” tidak mempraktekkan Taiji sama sekali.  Ini bukan karena kesalahan mereka sendiri, ini semata karena tanpa metode yang benar dan pengembangan internal seseorang tidak bisa begitu saja melakukan Taijiquan.  Untuk melakukan Taijiquan seseorang harus melewati beberapa perubahan besar dalam tubuh untuk membangun tubuh dan pikiran yang mampu menjalankan Taijiquan.  Ini adalah tujuan utama metode latihan tradisional.

Begitu seseorang melewati pintu gerbang tersebut dan benar-benar melakukan Taijiquan maka tentunya ada lebih banyak kerja yang dibutuhkan untuk bisa mengaplikasikan seni tersebut dalam pertarungan bebas.  Metode untuk melakukan demikian perlu diajarkan oleh seseorang dengan ketrampilan tertentu.  Semata-mata berusaha bertarung ketika Anda belum mencapai tubuh Taiji dan tidak menggunakan 13 postur yang sejati hanyalah menghasilakan pertarungan eksternal biasa yang secara keliru dilabeli sebagai Taijiquan.

Saya berpendapat bahwa ketika seseorang telah membangun tubuh dan pikirannya, telah mengendapakan Qi, bisa menggerakkan Qi dan menghasilkan berbagai jin, maka dia mampu melatih bertarung dengan seni tersebut. Saya punya sedikit murid yang bisa benar-benar bertarung dengan seni ini, namun ini tidak untuk setiap orang.

 

Seberapa penting tuishou dan bagaimana seharusnya dilatih menurut Anda?

Tuishou merupakan inti untuk membangun ketrampilan aplikasi Taijiquan. Tanpa tuishou seseorang mempelajari hanya sebagian dari seni ini.  Tujuan dari tuishou adalah untuk membangun ketrampilan menempel, menyambung, mendesak,  dan mengikuti. Walaupun ini mungkin nampak sangat sederhana, ini sangat dalam dan dalam menguasai ketrampilan ini ketrampilan kungfu Taiji sejati muncul. Begitu seseorang mempunyai ketrampilan menempel, menyambung, mendesak,  dan mengikuti maka seseorang bisa berlatih meminta, menetralisisr, menangkap dan melepaskan.

Tuishou adalah sarana untuk membangun ketrampilan ini dan tidak didesain untuk kompetisi. Latihan bisa bervariasi dari yang bersahabat dan sesuai aturan ketika saling membantu belajar dinamikanya, dan kuat ketika ketrampilan sudah maju. Dengan penyelidikan mendalam di bawah bimbingan guru piawai yang mempunyai ketrampilan ini, seseorang bisa membangun kungfu taiji otentik dan kekuatan yang misterius yang seni ini terkenal karenanya.

 

Seberapa penting penggunaan intensi (yi) ketika berlatih Taijiquan ?

Mengatakan bahwa Yi adalah dasar adalah pernyataan yang mengecilkan. Adalah Yi yang kita gunakan sebagai perkakas utama sejak dari awal, Yi adalah bagaimana kita memerintah song dan mobilisasi Qi, yang tanpanya kita jatuh pada metode gerakan waijia. Poin pentingnya adalah bahwa Shen, Yi dan Qi harus diselaraskan, dan ini adalah tujuan sejati Yang taijiquan.  Jika seseorang bisa benar-benar mencapainya, ketrampilannya akan menjadi ajaib.

Kita bisa melihat dengan jelas bahwa jika Yi melakukan sesuatu yang tidak selaras dengan qi maka kita menyimpang dan mengikuti metode yang salah. Pengolahan Yi harus sederhana namun dalam, jika terlalu rumit atau melibatkan semua jenis pembayangan maka tidak ada gunanya pada waktu real.

 

Apakah Anda mengajarkan teknik-teknik peregangan tertentu untuk meningkatkan relaksasi dan jika demikian, dari mana asal teknik-teknik tersebut?

Ya, saya mengajarkan peregangan-peregangan spesifik untuk membuka gerbang-gerbang tubuh. Tidak ada hubungannya dengan peregangan seperti dalam pengertian dalam Yoga, namun semuanya tentang membuka fascia untuk mengijinkan gerakan Qi yang lebih besar. Latihan-latihan tersebut berasal dari metode-metode yang lebih lama dari keluarga Yang dan konon berasal dari metode-metode rahasia Daoist untuk kultivasi QI.

 

Apakah ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca Taichimag ?

Pikiran adalah raja, tubuh harus dibangun dan ketrampilan bela diri itu menyenangkan dan bermanfaat, namun tujuan utamanya adalah menembus kekosongan dan mencapai kedamaian.

 

Diterjemahkan dari:

http://discovertaiji.com/en/interview-with-sifu-adam-mizner-for-taichimag_94.html

Tiga Model Pembelajaran Taijiquan

March 12, 2018

Waysun Liao mengatakan bahwa kesulitan pertama yang dihadapi oleh mereka yang ingin belajar Taijiquan adalah menemukan orang yang menguasai Taijiquan.  Ketika sudah menemukan orang yang menguasai seni ini, problem berikutnya adalah apakah orang tersebut bersedia mengajarkan ilmunya atau tidak.  Tentunya yang dimaksud oleh Waysun Liao ini berlaku untuk pembelajaran model tradisional. Berikut akan dipaparkan tiga model pelatihan atau pembelajaran Taijiquan bersama guru atau pelatih yang ada di masyarakat.

 

Pelatihan massal di Sasana

Sasana Taijiquan biasanya merupakan komunitas praktisi atau peminat Taijiquan yang melakukan latihan secara massal.  Di beberapa kota di Indonesia ada beberapa sasana yang terbuka untuk umum yang berminat untuk berlatih Taijiquan.  Mereka yang berminat tinggal bergabung dan mengikuti latihan sesuai jadual.  Peserta baru tinggal menirukan gerakan yang dilakukan oleh pelatih atau teman-teman lainnya. Karena latihan dilakukan secara massal, pelatih kurang bisa memberi perhatian atau koreksi secara individual.  Secara biaya terjangkau karena anggota sasana hanya membayar iuran bulanan yang ditentukan oleh pengurus sasana.  Jenis Taijiquan yang dilatih di sasana biasanya jurus-jurus Taijiquan modern, seperti Taijiquan gaya Beijing, dll.  Karena sifatnya yang terbuka untuk umum, barangkali model pelatihan di sasana merupakan model yang paling mudah diakses publik yang ingin berlatih Taijiquan.

 

Kelas Privat

Pembelajaran kelas privat adalah pembelajaran perorangan atau kelompok kecil berdasarkan kesepakatan  antara peserta dan guru/pelatih mengenai jadual, materi, dan biaya.    Materi yang diajarkan tergantung kebutuhan peserta dan tentunya yang dikuasai oleh guru/pelatih.  Karena guru atau pelatih hanya melatih satu orang atau kelompok kecil, peserta bisa mendapat perhatian penuh dari guru atau pelatih. Secara biaya, belajar lewat cara privat tentunya lebih mahal bila dibandingkan dengan biaya belajar secara massal di sasana.  Apabila mendapatkan guru yang baik model pembelajaran ini bisa optimal selama peserta mau mengikuti materi yang ditentukan oleh guru.  Namun model pembelajaran ini bisa menjadi kurang optimal kalau peserta mengatur materi sesuai selera peserta dan mengabaikan petunjuk guru atau pelatih.

 

Rumen (入门)

Rumen (入门)atau Jinmen (进门), yang artinya masuk gerbang, adalah model pembelajaran yang biasanya dipakai di perguruan tradisional.  Model ini tidak hanya berlaku pada perguruan Taijiquan saja, namun juga umum berlaku di perguruan seni bela diri tradisional Cina atau TCMA (Traditional Chinese Martial Arts) yang masih meneruskan tradisi dari jaman kuno. Pembelajaran model ini sifatnya tertutup karena tidak semua orang bisa masuk  ke perguruan tradisional ini.  Diterimanya seseorang untuk bisa masuk perguruan tergantung kriteria yang ditetapkan oleh perguruan atau shifu yang merupakan representasi perguruan tersebut.  Setelah seorang memenuhi persyaratan yang ditentukan, ada semacam tradisi atau ritual yang harus dijalankan untuk masuk ke perguruan yang disebut dengan baishi atau mengangkat guru.  Setelah menjalani ritual baishi, murid tersebut disebut sebagai murid dalam.  Murid yang tidak atau belum mengikuti baishi disebut murid luar.  Guru wajib mengajarkan inti dari Taijiquan yang sifatnya rahasia bagi orang di luar perguruan kepada murid dalam.  Materi yang diajarkan dalam model ini adalah Taijiquan tradisional tergantung si guru berada di Taijiquan lineage yang mana.

Apakah Taijiquan itu Kungfu?

February 12, 2018

Tempo hari ada seorang teman bertanya kepada saya, “Apakah Taijiquan itu Kungfu?”  Pertanyaan yang nampaknya sepele ini nampaknya tidak bisa dijawab dengan sekedar ya atau tidak.  Barangkali perlu diklarifikasi dulu apa yang dimaksud dengan Kungfu kemudian dilihat apakah Taijiquan bisa masuk ke dalamnya.

 

Istilah kungfu sudah sedemikian populernya dalam masyarakat barangkali sejak masuknya film laga dari Hongkong di tahun 70 an.  Dalam masyarakat umum yang dimaksud dengan kungfu adalah bela diri dari Cina yang direpresentasikan oleh film-film Hongkong tersebut, bahkan film-film laga seperti itu biasanya disebut sebagai film kungfu. Transliterasi baku dari Bahasa Mandarin 功夫 adalah gongfu, namun penulisan yang umum dikenal adalah kungfu. Dalam Bahasa Mandarin kata Gongfu atau Kungfu ini berarti suatu ketrampilan yang dicapai sebagai hasil latihan yang tidak hanya untuk ketrampilan bela diri.  Seseorang yang mempunyai ketrampilan memasak yang hebat bisa dikatakan bahwa dia memiliki Kungfu yang hebat.

 

Selain istilah kungfu ada istilah yang perlu kita ketahui maknanya, yaitu wushu.  Arti kata wushu (武术) di masa lalu adalah seni perang atau bela diri.  Dalam pengertian ini istilah Zhongguo wushu (中国武术) mencakup berbagai macam jenis bela diri yang berkembang di Cina.  Dalam pengertian modern yang lebih spesifik lagi, wushu bisa berarti salah satu cabang olah raga bela diri.

 

Dari segi bahasa sejauh ini bisa diketahui perbedaan Kungfu dan Wushu.  Kungfu adalah suatu ketrampilan yang diperoleh melalui proses latihan, dan tidak hanya mencakup bidang bela diri saja, sementara wushu adalah bela diri.  Namun demikian, makna dari pertanyaan “Apakah Taijiquan itu Kungfu?” nampaknya lebih mengarah ke makna Kungfu yang dipahami umum, sehingga pertanyaan itu sama dengan, “Apakah Taijiquan itu bela diri?”

 

Dalam sejarahnya Taijiquan adalah bagian dari Zhongguo wushu atau bela diri Cina di mana di jaman dulu orang belajar Taijiquan untuk keperluan membela diri dari berbagai macam ancaman.  Dalam perkembangannya di jaman modern, banyak orang yang belajar Taijiquan lebih untuk keperluan kesehatan ketimbang untuk bela diri.  Dari sini metode berlatih pun menjadi berbeda.  Teknik-teknik bela diri yang ada dalam Taijiquan tidak dilatih, dan Taijiquan direduksi menjadi senam.  Jurus Taijiquan yang sebelumnya merupakan kumpulan teknik bela diri menjadi senam untuk menjaga kesehatan.  Jurus dilombakan untuk dinilai dari aspek keindahan bentuk luarnya.  Ini adalah gambaran umum dari Taijiquan yang umum di temukan dalam ruang publik.  Namun demikian, sampai saat ini masih ada perguruan Taijiquan yang berorientasi bela diri dan menempuh jalan tradisional, di mana perguruan tersebut bersifat tertutup dan tidak mudah diakses oleh khalayak umum.

 

Kembali ke pertanyaan awal, “Apakah Taijiquan adalah Kungfu atau bela diri?”  Jawabannya adalah ya ada sebagian komunitas Taijiquan yang melatih Taijiquan bela diri dan ada sebagian (besar) komunitas Taijiquan yang melatih Taijiquan sebagai senam untuk menjaga kesehatan.

Mengapa Taijiquan susah untuk didiskusikan?

January 15, 2018

Ada banyak group Taijiquan di media sosial, terutama di Whatsapps group dan tentunya semua anggota groupnya adalah praktisi ataupun mereka yang punya minat pada Taijiquan. Namun demikian, kebanyakan anggota di group tersebut lebih suka memosting hal-hal yang tidak berhubungan dengan Taijiquan.  Suatu ketika timbul perdebatan yang memanas karena topik yang berbau politik di salah satu group tersebut, dan salah seorang anggota mencoba menghentikan ketegangan tersebut dengan mengatakan “mari kita kembali membahas Taiji.”  Tulisan ini tidak akan membahas mengapa  kebanyakan dari kita susah berdiskusi tentang perbedaan pandangan (politik) secara adem ayem, namun lebih kepada mencoba membahas mengapa kebanyakan anggota di group Taiji di media sosial enggan atau malas membahas atau berdiskusi tentang Taijiquan, sesuatu yang mestinya menjadi alasan mengapa group media sosial tersebut pada awalnya dibentuk.

 

Di dalam group Taijiquan tersebut biasanya ada beberapa anggota yang suka posting video atau artikel Taijiquan, dan ada beberapa yang berkomentar atau lebih sering merespon dengan emoji gambar jempol untuk menunjukkan bahwa video sudah dilihat atau artikel sudah dibaca.  Kalaupun ada diskusi biasanya juga diikuti oleh anggota yang itu-itu saja, dan dari observasi saya topik yang biasanya agak seru dibahas biasanya topik yang abstrak seperti “Qi” atau “Fajin,” dan sejenisnya.  Dari pengalaman bermedia sosial tersebut saya menarik kesimpulan bahwa nampaknya ada beberapa persyaratan untuk memastikan bahwa suatu diskusi tentang Taijiquan bisa berjalan dengan baik dan dengan demikian manfaat, selain silaturahmi, bisa didapatkan dari diskusi tersebut.  Setidaknya ada tiga hal persyaratan yang dibutuhkan agar diskusi Taijiquan bisa berjalan, yaitu adanya pengalaman berlatih, referensi atau pemahaman teori dan konsep, dan hasrat untuk berbagi.

 

Apabila orang tidak mengenal Taijiquan dan tidak mepunyai pengalaman berlatih tentunya susah untuk bisa berbicara tentangTaijiquan karena hal tersebut berada di luar wawasan dan pengalamannya.  Namun bagi mereka yang belum pernah berlatih namun pernah membaca atau mendengar kisah tentang Taijiquan mungkin bisa bercerita sebatas apa yang diketahuinya. Diskusi tentang Taijiquan yang sehat sebaiknya dilakukan oleh mereka yang mempunyai pengalaman latihan dan pemahaman teori yang memadai.

 

Mereka yang praktek latihan dan pemahaman teorinya selaras tentu bisa bisa berdiskusi dengan mudah karena apa yang disampaikan sejalan dengan pengalamannya.  Tentu saja diskusi hanya bisa berjalan bila setidaknya ada dua orang yang telah berlatih dan memahami teorinya serta adanya hasrat untuk berbagi.  Namun demikian, perlu diingat bahwa diskusi Taijiquan hanyalah salah satu aspek dalam pembelajaran Taijiquan.

 

Penguasaan Taijiquan diperoleh melalui latihan yang teratur dan didukung oleh pemahaman teorinya.  Ada semacam dialektika antara latihan dan pemahaman teori.  Latihan semakin maju apabila didukung oleh teori, dan kebenaran teori dibuktikan dengan praktek latihan.  Berlatih saja tanpa memahami teori mungkin bisa memperoleh kemajuan, namun kemajuan akan dicapai dengan lebih cepat bila dibimbing oleh pemahaman teori.  Dan yang paling penting untuk diingat adalah untuk berlatih Taijiquan harus ada di bawah bimbingan guru. Dalam Taiji Klasik, The Song of Thirteen Postures diungkapkan bahwa “untuk memasuki pintu Anda harus dibimbing secara lisan.  Berlatih tanpa henti dan teknik dicapai melalui penelusuran diri.”

Kisah Para Master: Beberapa Kejadian dalam Keluarga Yang

August 17, 2017

Ketika kakek dari guru saya, Yang Lu-ch’an, pertama kali berjalan memasuki  istana pada Dinasti Ching, dia diserang dua ekor anjing.  Kedua anjing tersebut menggigit kakinya, dan kemudian dengan suara yang aneh melarikan diri.  Tuan Yang tidak memperhatikannya dan mengikuti para kasim dengan senyum tenang.  Para kasim kagum dengan ketenangannya.  Belakangan diketahui bahwa kedua anjing tersebut tidak mau makan pada malam itu.  Rupanya gigi anjing-anjing tersebut patah waktu menyerang, karena begitu kuatnya kaki Yang.

****

Di saat yang lain, paman tertua guru saya Yang Pan-hou – anak tertua Yang Lu-ch’an – sedang tidur di kebun pada suatu sore di musim panas sambil menunggu makan malam.  Seorang pembantu menyentuh tubuhnya untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap dan Yang, masih tertidur lelap, menendang pelayan yang sial tersebut hampir setinggi langit-langit rumah.

****

Di suatu pagi, ayah guru saya, Yang Chien-hou, anak ketiga Yang Lu-ch’an, didekati oleh seorang pelayan yang mengatakan bahwa ada tikus mati yang nyangkut di dinding kamar tidur.  Apakah tuan mengetahuinya?  Yang sejenak berpikir dan kemudian berkata: “Tikus tersebut pastinya berusaha mengambil kacang yang ada di kantong saya ketika saya tidur.  Saya pastinya telah menangkapnya dan melemparkannya ke dinding dengan kekuatan seperti itu sehingga nyangkut di dinding.

****

Suatu hari sekitar 30 tahun yang lalu, guru saya, Yang Ch’eng-fu, cucu Yang Lu-ch’an, dan saya sedang menyeberang di salah satu jembatan di Shanghai.  Seorang pria bertubuh besar dan gempal berjalan dengan cepat dan mendorong Yang dan tiba-tiba mundur beberapa kaki dan terjerembab.  Dia bangun dan menatab dengan marah pada Yang yang diam saja.  Nampaknya orang tersebut terkejut karena gagal menggeser Yang, dan kemudian pergi tanpa berkata-kata.

****

Saya, Man-ch’ing, menilai empat kejadian ini sebagai ilustrasi dari tindakan yang dilakukan tanpa upaya sadar apapun.  Klasik T’ai-chi Chu’an mengatakan bahwa saat orang memahami “menginterpretasikan energi” – secara perlahan orang sampai pada ranah supernatural.

Diterjemahkan dari buku karya Cheng Man-ch’ing berjudul T’ai Chi Ch’uan A Simplified Method of Calisthenics for Health and Self Defense, halaman 132 – 133

Kisah Para Master: Chen Kung dan Manuskrip Keluarga Yang

July 31, 2017

Banyak peristiwa menarik dalam sejarah Taijiquan.  Pada mulanya sejarah Taijiquan merupakan sejarah lisan di mana kisah-kisah di jaman dulu disampaikan dari generasi ke generasi.  Seringkali ada beberapa versi untuk peristiwa yang sama, dan ini adalah hal yang lumrah dalam sejarah karena menyangkut perspektif dan berada di posisi mana si pelaku ataupun saksi sejarah. Kita beruntung ketika ada yang menuliskan kisah-kisah dalam sejarah Taijiquan dan mempublikasikannya.  Dengan demikian, apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh sedikit orang bisa diketahui lebih banyak orang dan bisa menjadi inspirasi untuk berlatih, mempelajari, dan mengeksplorasi Taijiquan.  Berikut adalah kisah tentang Chen Kung.

 

Sekitar tahun 1930, Chen Kung, saudagar kaya dan murid Yang Cheng-fu, mohon meminjam transkrip keluarga untuk semalam sehingga dia bisa membacanya untuk meningkatkan latihannya. Karena Chen murid yang berdedikasi dan setia, maka Yang Cheng-fu menyetujuinya, sepenuhnya menyadari bahwa satu malam akan sulit bahkan bagi pembaca cepat untuk menyelesaikan buku tersebut. Yang tidak diketahui Yang Chengfu adalah bahwa  Chen telah mengupah tujuh penyalin untuk bekerja semalaman menyalin seluruh buku. Setelah menghilang (sekitar tahun1932) dia beralih profesi dari saudagar menjadi tabib pengobatan Cina. Di tahun yang sama beberapa bagian dari manuskrip mulai muncul di berbagai jurnal, yang membuat keluarga Yang marah.

 

Belakangan, di tahun 1943, seluruh catatan salinan Chen muncul dalam bentuk buku dan penjualannya laris di seluruh Cina.  Ini semakin membuat marah keluarga Yang, yang kemudian meluncurkan buku mereka sendiri dengan klaim bahwa terbitan Chen adalah palsu dan bahwa karya mereka yang baru dan lebih kecil adalah materi asli. Chen, dalam gaya tipikal Cina, mengklaim bahwa bukunya berisi teorinya sendiri dan dia hanya menggunakan nama keluarga Yang untuk otentitasnya.

 

Kisah ini tertulis dalam buku Tai Chi Qi & Jin yang merupakan karya Chen Kung yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stuart Alve Olson.  T.T. Liang menceritakan kisah ini kepada Stuart Alve Olson, dan T.T. Liang mendengarkan kisah ini dari gurunya, Zheng Manqing, yang mendapatkan tuturan ini dari gurunya, Yang Chengfu.  Dengan testimoni lisan semacam ini, Stuart Alve Olson tidak yakin akan detail dari kisah ini, namun Master Jou Tsung-hwa mendapat konfirmasi kebenaran kisah ini dari Chen Kung sendiri ketika mereka bertemu di tahun 1976.  Dan cucu dari Chen Kung, Donald Chen, juga mengkonfirmasinya.

 

Terlepas dari permasalahan etika yang ditimbulkannya, ada sisi positif dari peristiwa ini.  Seandainya Chen Kung tidak mempublikasikan bukunya, keluarga Yang barangkali tidak akan mengeluarkan buku mereka sendiri, dan membuka apa yang sebelumnya menjadi rahasia keluarga.  Dengan demikian, masyarakat luas mendapatkan keuntungan karena mereka bisa mengakses dan membandingkan apa yang ditulis oleh Chen Kung dan apa yang ditulis keluarga Yang.  Dengan lebih banyak sumber belajar, tentunya pengertian kita tentang Taijiquan menjadi lebih baik.

Lima Prinsip Ketrampilan Tai Chi Ch’uan yang Baik

June 30, 2017

Wawancara dengan Mr Benjamin Lo dari San Francisco.

 

Benjamin Lo menekankan lima prinsip dasar untuk membangun ketrampilanTai Chi Ch’uan yang baik:

1) Relaksasi.

2) Memisahkan Ying dan Yang.

3) Memutar pinggang.

4) Menjaga tubuh tetap tegak.

5) Mempertahankan tangan seperti tangan wanita cantik.

Lo, yang mengajar di wilayah San Francisco, menempatkan prinsip yang paling sulit dari prinsip-prinsip tersebut di tempat pertama: relaksasi.

“Orang-orang selalu mengatakan kepada saya, ‘Anda selalu menekankan relaksasi. Tapi bagaimana saya melakukannya?’  Saya berkata, ‘latih jurus. ” Itulah satu-satunya jalan.   Banyak orang bertanya kepada saya: ‘ Apakah Anda memiliki postur khusus yang dapat membantu saya rileks?’ Saya katakan ya. Mereka bertanya, ‘Apa itu?’  Saya jawab: ‘Latih jurus’ ”

“Seandainya kami punya jenis latihan atau jurus lain yang bisa membuat tubuh Anda rileks, tentunya kami akan mengajarkannya pada Anda, dan kami tidak akan mengajarkan Tai Chi Ch’uan. Tapi sejauh ini, belum ada jenis latihan atau jurus seperti itu. ”

Lo mengatakan relaksasi melibatkan seluruh tubuh pada saat yang sama, “bukan hanya satu pergelangan tangan, satu telapak tangan, di kaki, dan sebagainya” “Kami ingin seluruh tubuh Anda kendor pada saat yang sama.   Sejauh yang saya tahu, Tai Chi Ch’uan melakukan hal ini. Tentu saja, seni bela diri lain mungkin juga memilikinya juga. Tapi saya tidak tahu..”

Prinsip penting kedua adalah memisahkan Yin dari Yang.

“Yin dan Yang adalah kata Cina dan memiliki makna kosong dan isi. Terkadang dalam pembicaraan umum tentang Tai Chi Ch’uan kita membahas tentang memisahkan berat badan. Tapi itu tidak tepat.” “Saya bisa meletakkan berat badan saya pada satu kaki dan kaki yang lain tidak memiliki berat badan. Tapi sementara itu, kaki lainnya bisa kaku, juga. Yin harus lembut dan tidak memiliki berat badan. Lembut dan santai. Tapi pada saat yang sama ada pada saat bersamaan. Bahkan kaki Yang harus santai. ”

“Bahkan jika Anda tidak menggunakan tenaga, lengan Anda bisa tegang. Itu karena kita adalah manusia. Kita memiliki keterbatasan. Tapi kita mencoba untuk menggunakan otot lebih sedikit dari yang biasanya kita lakukan.” “Kebanyakan orang menggunakan 10% dari otot mereka, tapi mungkin kita menggunakan lima atau empat atau tiga persen di tingkat senior. Anda tidak bisa mengatakan bahwa benar-benar tidak menggunakan otot. Bila Anda membutuhkannya, Anda menggunakannya. Bila Anda tidak membutuhkannya, rileks. ”

Selama tuishou, Lo, yang telah berlatih selama 40 tahun, mengatakan tujuannya adalah untuk menggunakan kekuatan internal dan menghindari penggunaan tenaga. “Biasanya, saya katakan pada murid saya untuk tidak menggunakan tenaga. Sebaliknya, gunakan sung. Bagaimana Anda menerjemahkan sung? Relaksasi bukanlah terjemahan yang tepat. Relaksasi hanya bisa ambruk tapi itu bukan arti sung.”

Lo mengatakan ada perbedaan tingkatan relaksasi dan bahwa dalam tuishou ini sering menjadi jelas. “Jika Anda bertemu seseorang yang lebih baik dalam tuishou, maka Anda menjadi keras. Ketika mereka bertemu seseorang yang lebih baik dari mereka, mereka menjadi keras. Itulah alasan kita harus berlatih dan berlatih. Ini adalah tantangan seumur hidup. Tidak ada akhir. ”

Dia juga mengatakan kelembutan yang bisa seperti air, yang dapat menjadi sangat kuat, atau angin, yang lembut, tetapi dapat memiliki kekuatan tornado dan menghancurkan kota.

Seperti bagaimana murid bisa menggabungkan dan memisahkan kelembutan dan kekuatan, ia berkata: “Murid harus perlahan-lahan berlatih berlatih. Dan berlatih…”

“Saya selalu mengatakan kepada murid, ‘Jika saya memberitahu Anda dan Anda bisa memahaminya segera, itulah pembelajaran. Tapi jika saya katakan dan Anda tidak bisa segera memahaminya, maka Anda harus berlatih perlahan lahan sampai Anda memahaminya. Berlatih secara bertahap selama waktu tertentu. Tanpa berlatih Anda tidak bisa memahaminya. Jika orang telah memberitahu Anda dan Anda tidak bisa memahaminya, itu karena Anda belum berlatih.”

Lo mengatakan bahwa berlatih melibatkan kesabaran dan ketekunan. “Para murid ingin mencari guru yang baik. Kenapa? Karena ia dapat menunjukkan kepada mereka arah yang benar. Jika Anda memiliki guru yang tepat, seorang guru yang baik, itu masih bukan jaminan bahwa Anda akan menjadi baik. Anda harus berlatih. Kadang-kadang guru dan murid sama-sama frustrasinya. Namun Anda harus sabar dan terus berlatih. ”

“Saya memberitahu orang-orang ketika mereka belajar Tai Chi Ch’uan bahwa kesabaran tidak cukup karena orang selalu kehilangan kesabaran. Jadi saya memberitahu orang-orang Anda harus memiliki ketekunan. Kami belum pernah mendengar tentang kehilangan ketekunan.”

“Kesabaran itu baik tapi tidak cukup. Setelah lima tahun Anda dapat berhenti. Saya telah melihat orang yang berlatih 20 tahun dan berhenti. Jika Anda memiliki 20 tahun kesabaran, itu cukup bagus, tetapi jika Anda memiliki kesabaran seumur hidup, itu namanya ketekunan. ”

“Tentu saja, banyak orang berhenti. Tentu saja, guru merasa frustrasi juga. Terkadang mereka merasa, ’Saya meluangkan banyak waktu dan energi dan orang-orang ini tidak bisa belajar’ Jadi guru pun  membutuhkan banyak kesabaran dan ketekunan juga.”

Perjuangan batin yang terjadi selama belajar dan berlatih Tai Chi Ch’uan juga penting, kata Lo. Dan ini melibatkan murid yang harus berjuang melawan dirinya sendiri.

“Ketika Anda berlatih Tai Chu Ch’uan, tidak hanya fisik. Anda berusaha membuat kekuatan tekad Anda lebih kuat, juga. Ketika tekad Anda lebih kuat, Anda tidak akan mudah menyerah. Setiap orang merasa frustrasi, termasuk saya sendiri. Tapi Anda harus mengatasinya. Jika tidak, tidak ada orang lain yang bisa membantu Anda. ”

“Bagian ini cukup sulit. Itulah mengapa kita harus berjuang di dalam. Beberapa orang bisa menerima banyak tekanan. Beberapa orang mudah jatuh. ​​Tiap orang punya kapasitas yang berbeda.”

Kata dia, tuishou memerlukan penekanan yang sama pada lima prinsip sebagai bentuk dan memiliki nilai tambah yang memungkinkan murid untuk memeriksa kemajuan mereka sendiri, apakah itu relaksasi atau bentuk.

“Saya selalu katakan pada murid saya, ‘pasangan latihan Anda adalah guru Anda ketika Anda berlatih tuishou.’ ” “Biasanya, orang menjadi lebih baik,” kata Lo. Namun dia mengatakan dia memberitahu murid untuk tidak mengharapkan peningkatan lurus atau stabil, agak seperti kurva yang bisa naik dan turun.

“Anda harus terus berlatih. Bila Anda bisa melakukan terobosan, maka Anda melompat. Namun kadang-kadang Anda bisa tinggal di satu tempat dan tidak dapat melakukan terobosan. Ketika kita mencapai tingkat tertentu, kita berpikir bahwa itulah batas kita. Namun tidak ada yang tahu potensi kita. Saya pikir murid harus selalu lebih baik daripada gurunya.”

Namun dia mengatakan bahwa murid tidak harus membandingkan kemajuan mereka dengan orang lain. “Bandingkan dengan diri sendiri. Misalnya, sebelum Anda berlatih Tai Chi Ch’uan setiap tahun Anda sering kena flu dan jatuh sakit. Setelah latihan, Anda jarang jatuh sakit.”

“Atau, setelah Anda berlatih bertahun-tahun, Anda tidak pernah sakit. Itu bagus. Itu berarti untuk membandingkan dengan diri sendiri. Jika Anda membandingkan diri Anda dengan orang lain maka Anda menciptakan masalah untuk diri sendiri.” Namun, ia menambahkan, bahwa kadang-kadang baik untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena orang lain bisa menjadi sumber rangsangan untuk berlatih.

“Kadang-kadang orang bertanya kepada saya apakah murid Amerika bisa melakukan Tai Chi Ch’uan yang baik. Dan saya selalu menjawab, ‘Mengapa tidak?’ Murid Cina dan Amerika tidak berbeda. Namun demikian, yang penting adalah bahwa murid Amerika perlu lebih banyak disiplin. Semua guru pendapat yang sama seperti itu. Tanpa disiplin, Anda tidak bisa bertahan. Jika tidak, dalam beberapa tahun Anda berhenti .

“Saya pikir itu didasarkan pada latar belakang budaya.  Orang China mengatakan., ‘Oke, saya berlatih Tai Chi Ch’uan dan jika itu membutuhkan 10 tahun, tidak masalah.’ Tapi di sini, dalam 10 bulan mereka harus melihat hasilnya.”

Mengenai tujuan dalam berlatih, Lo mengatakan: “Ketika saya mulai Tai Chi Ch’uan, saya sangat sakit aku sakit parah.  aku bisa berjalan mungkin 15 meter.  Apakah Anda pikir saya memiliki tujuan?  Tentu, saya ingin sembuh. Lalu saya berlatih dan menjadi sehat dan kemudian saya ingin menjaganya dengan cara ini.”

“Kemudian, ketika saya mulai mengajar, saya ingin menjadi sehat dan melanjutkan riset dan studi saya. Tentu saja, setiap orang memiliki keterbatasan, termasuk diri saya. Namun saya hanya melakukan yang terbaik. Itulah yang saya katakan pada murid-murid saya. Jika Anda merasa Anda melakukan yang terbaik, ya tidak ada masalah.”

Lima poin utama Lo juga termasuk memutar pinggang, menjaga tubuh tegak dan menjaga tangan seperti tangan wanita cantik.

Anda harus mematuhi lima poin tersebut, katanya. “Jika Anda tidak dapat mematuhi lima, namun hanya empat. Tentu saja, lebih baik untuk mematuhi empat daripada tiga. Tapi itu tetap tidak baik. Lebih baik mematuhi ke lima nya.”

Dari lima prinsip, yang pertama, relaksasi, adalah yang paling sulit, katanya. Empat lainnya semua orang bisa melakukannya, kata dia. “Anda bahkan tidak harus tahu Tai Chi Ch’uan untuk melakukannya dengan sempurna. Masalahnya adalah bahwa ketika Anda melaksanakan semuanya bersama-sama, Anda tidak bisa melakukannya, terutama bila kaki Anda mulai panas, sakit, gemetar dan Anda lupa tentang semua prinsip. Banyak orang yang seperti ini.”

“Ini semua sangat, sangat sederhana tetapi sulit untuk melakukannya. Bicara mudah. ​​Satu menit Anda dapat mengetahui lima prinsip, tapi mungkin dalam 50 tahun Anda tidak akan mendapatkannya, terutama relaksasi.”

“Semua orang berpikir bahwa mereka rileks, tapi ketika Anda bertemu seseorang yang lebih baik daripada Anda, Anda menjadi keras. Jadi kita tidak bisa sempurna. Ini adalah tantangan seumur hidup. Kita hanya menjalankannya terus menerus. Hanya hal-hal dasar.”

 

Diterjemahkan dari artikel:

Five principles of good Tai Chi Ch’uan skills

An interview with Mr. Benjamin Lo of San Francisco

http://www.wuweitaichi.com/articles/Benjamin_Lo_Five_Basics.htm

 

Pernapasan dalam Taijiquan Menurut William Chen

May 30, 2017

Pernapasan yang tepat memainkan peranan penting dalam gerakan Taijiquan.  Pernapasan ini dikendalikan oleh kontraksi dan pelepasan diafragma.  Oksigen yang diambil dari udara mendukung kebutuhan langsung jutaan sel tubuh dan menyingkirkan karbondioksida dari darah.  Ini penting bagi kehidupan kita.  Hidup tanpa air atau makanan selama beberapa hari tidak menimbulkan akibat yang fatal, namun beberapa menit tanpa oksigen akan menimbulkan kerusakan otak atau kematian.

 

Taijiquan didasarkan atas cara bernapas yang alami: perlahan, lembut dan dalam.  Bernapas alami meningkatkan kapasitas paru-paru, memasok cukup oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu relaksasi selama bergerak.  Bernapas alami juga membantu mengendorkan semua jalur, yang memungkinkan distribusi oksigen lebih efektif dan lebih merata.  Saat menarik napas, diafragma turun, yang memperbesar rongga paru-paru dan membuat lebih banyak udara masuk.  Saat mengeluarkan napas diafragma naik dan menekan limbah udara keluar.  Gerakan mekanis ini mirip dengan gerakan mekanis puputan.

 

Udara yang masuk atau keluar melewati filter alami rambut hidung.  Mulut harus ditutup, agar tidak kering.  Dalam pertarungan, menjaga mulut tetap tertutup akan membantu menghindari tergigitnya lidah, patahnya rahang, dan kelelahan.  Mulai bernapas dengan diafragma, bukan hidung.  Bila tidak, manfaat napas alami akan berkurang.  Ketika napas dimulai dengan hidung, hanya paru-paru bagian atas terisi udara; dada akan menjadi tegang, menyebabkan tubuh kehilangan pusat gravitasi.  Bernapas dengan cara ini biasanya pendek, tidak sehat dan kadang pertanda sakit.

 

Dalam proses melakukan Taijiquan dengan perlahan, gerakannya lunak, lembut dan mengalir tanpa putus.  Pikiran dan tubuh relaks, napas panjang, dalam dan tenang.  Ketika menarik napas, diafragma berkontraksi ke perut dalam bagian bawah, tekanan perut dalam meningkat dan energi mulai mengalir.  Pada saat ini, lengan bergerak keluar atau ke atas.  Saat mengeluarkan napas, diafragma dilepas, tekanan perut dalam akan turun dan aliran energi mereda.  Pada saat ini,  lengan bergerak ke dalam atau turun.

 

Ketika pikiran yang sepenuhnya sadar dan kendor bisa menyatukan gerakan Taijiquan dengan aliran energi, prinsip harmoni, Yin dan Yang, tercapai.  Pada akhirnya, tubuh dan energi menjadi satu kesatuan, yang menghasilkan dorongan, pukulan dan tendangan yang kuat.

 

 

Diterjemahkan dari Body Mechanics of Tai Chi Chuan, karya Willam C.C. Chen, hal. xvii – xviii

Wawancara Paul Alexander dengan Wee Kee Jin

April 10, 2017

PA: Apa yang menginspirasi Anda belajar bela diri?

WKJ: Saya mulai pada usia 14 tahun di Chin Woo association. Saya belajar di sana selama 4 tahun,kemudian mengabdi pada national service di Singapora, kemudian saya berhenti. Ketika saya berusia 24 tahun, saya mengunjungi paman saya di Taiwan, saya mellihatnya memainkan jurus Taiji. Setelah itu dia meminta saya untuk mendorongnya dan tentunya saya terlempar ke sana kemari.  Dia menyebutkan bahwa seorang guru bernama Huangxingxian  di Malaysia dan Singapura, jika saya tertarik saya harus mencarinya. Maka dari situlah awalnya

.

 

PA: Saya tahu bahwa Anda tinggal bersama dengan Master Huang, bisakah Anda ceritakan tentang hal ini?

WKJ: Saya tinggal bersamanya selama empat tahun. Saya berlatih penuh, 7 hari seminggu, 8 jam sehari. Tidak ada liburan,tidak ada tahun baru. Beliau mengatakan bahwa saya perlu belajar Bangau Putih dan Taiji, maka saya belajar keduanya. Pada waktu makan beliau biasanya berbicara tentang Taiji, kami biasanya berdiri dan melakukan tuishou, kemudian duduk kembali dan minum. Ketika kami melihat mesin, misalnya,beliau biasanya bertanya kepada saya, “apa prinsip-prinsip Taiji yang ada di sana?”  Ketika saya berada di sana, saya adalah satu-satunya murid yang tinggal di sana. Sebelumnya ada empat murid yang tinggal bersama beliau, saya yang terakhir.

 

PA: Apa cara paling aneh dari guru Anda untuk membantu Anda belajar?

WKJ: Di tahun 1954, beliau membawa Chen Man Ching school dan White Crane school ke dalam kompetisi. Beliau melatih muridnya dengan cara menuangkan air di lantai, dan kemudian dia menyuruh murid-muridnya untuk melakukan tuishou.  Jika Anda bisa tetap mengakar di lantai yang licin di ruang sempit, ini adalah ketrampilan yang bagus.

 

PA: Saya sudah membaca buku Anda, dan saya mendapati bahwa Anda menekankan latihan dasar. Seberapa penting latihan dasar, menurut Anda?

WKJ: Ketika orang-orang mengatakan bahwa Taiji saya sangat tinggi, ini bukan karena saya melakukan sesuatu yang berbeda.  Tingkat tinggi dalam Taiji adalah bahwa Anda mempunyai pemahaman yang lebih dalam tentang prinsip-prinsipnya.  Setelah 5 tahun, 10 tahun, murid pemula,murid tingkat tinggi, melatih prinsip-prinsip yang sama, namun dengan pemahaman berbeda. Saya berlatih jurus, jurus pendek 37, 20 tahun berjalan saya masih akan menjalankan jurus tersebut.   50 tahun…..masih melakukan jurus yang sama!  Apa yang terjadi di dalam jurus berubah.  Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa tingkat tinggi hanyalah pemahaman lebih dalam tentang prinsip-prinsip dasar.  Bukan sesuatu yang berbeda.

 

PA: Anda pasti masih menjalankan latihan dasar , bukan?

WKJ: Ya. Inilah sebabnya, ketika ditanya apa yang saya lakukan ketika berlatih, saya tidak pernah mengatakannya karena publik akan berpikir bahwa hal ini sedemikian membosankan! Ketika orang mulai belajar hal-hal sederhana, mereka kemudian mulai mencari hal-hal yang rumit.  Ketika Anda mencapai level tertentu Anda mendapati bahwa tidak perlu melanjutkannya, alih-alih Anda harus kembali. Ketika Anda kembali, Anda akan menemukan tempat yang berbeda dari tempat di mana Anda mulai di sana. Saya selalu mengatakan bahwa hal-hal dasar adalah yang paling monoton dan membosankan, yang paling sederhana namun paling sulit dijalankan.

 

PA:  Ada pepatah, “belajar menyenangkan, namun berlatih membosankan, ” Anda setuju?

WKJ: Tidak, itu tidak benar. Itulah sebabnya mengapa , jika Anda belajar seni apapun, pertama-tama Anda harus bersiap untuk mendisiplinkan diri sendiri.  Jika tidak punya pikiran atau ruang untuk mendisiplinkan diri untuk berlatih tiap hari secara konsisten, maka jangan belajar. Setelah bertahun-tahun berlatih, tidak  lagi menjadi disiplin, pastinya menjadi kegembiraan.  Jika masih menjadi disiplin maka ada faktor yang memaksa.  Ketika Anda menikmatinya, menjadi berbeda.  Saya menikmatinya.

 

PA: Jadi sudah menjadi bagian utama hidup Anda?

WKJ: Ya…..selain istri saya.  Prinsip-prinsip Taiji mengatakan Anda harus menyeimbangkan segalanya.

 

PA: Apa perbedaan antara White Crane dan Taiji?

WKJ: Sebelum wafat di tahun 1992,guru saya mengatakan pada saya bahwa beliau merasa telah bertindak tidak adil pada guru White Crane beliau karena beliau lebih banyak mempromosikan Taiji ketimbang White Crane.  Jadi saya berharap saya bisa mempromosikan White Crane untuk beliau. Namun semakin saya mendalami Taiji, semakin saya menyadari mengapa pada akhirnya guru saya berhenti menjalankan White Crane.  White Crane dan Taiji pada dasarnya didasarkan atas prinsip-prinsip yang sama. Jika Anda mengambil berlian, White Crane adalah berlian yang belum dipotong, Taiji adalah berlian yang sudah diasah.  Jadi saya perhatikan bahwa ketika seseorang menjadi semakin halus, dia tidak ingin melakukan hal-hal yang kasar.

 

PA: Jadi orang akan bergerak menuju Taiji secara alami?

WKJ: Ya. Taiji adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang berusia 50 ataur 60.  Gaya yang lebih keras sebagian besar untuk orang muda. Memang seharusnya begitu.  Tetapi harus saya tekankan bahwa White Crane bukanlah seni eksternal.

 

PA: Banyak orang nampaknya masih disibukkan dengan apakah suatu seni itu eksternal atau internal.   Menurut Anda apa perbedaan di antara keduanya?

WKJ: Sebenarnya ini adalah miskonsepsi. Dikatakan bahwa eksternal adalah gaya yang keras, internal gaya yang lembut. Makna sebenarnya dari internal adalah bahwa seni eksternal dimpor dari luar Cina, seni internal adalah seni yang berasal dari dalam Cina.  Shaolin dibawa dari India. Itulah sebabnya mengapa disebut seni eksternal. Di dalam apa yang disebut seni internal dan seni eksternal ada gaya keras dan lembutnya. Jadi White Crane adalalh gaya lembut dan demikian juga dengan Taiji.

 

PA: Apakah Anda masih berlatih White Crane “keras”? Apakah Anda sudah mengadaptasi lebih banyak Taiji ke dalamnya?

WKJ: White Crane sendiri adalah gaya lembut, bukan gaya keras. Orang keliru memahaminya karena jika Anda melakukan White Crane tanpa mengikuti prinsipnya, Anda melakukan hal yang sama dalam bela diri gaya keras.  Ketika guru saya, Master Huang,pertama kali bertemu Chen Man Ching, beliau tidak percaya bahwa guru saya tidak melakukan Taiji.  White Crane harus relaks, relaks, relaks…dan juga ingat bahwa pendirinya adalah seorang wanita.

 

PA: Apakah Anda berpendapat bahwa sisi bertarung Taiji sangat penting?

WKJ:  Tidak begitu penting dalam pengertian bahwa kesehatan adalah fondasinya.  Pada awalnya mulailah untuk kesehatan, kemudian masuklah lebih ke dalam Taiji, lebih ke dalam bela diri. Saya selalu menyarankan pemula untuk mencari kesehatan dulu. Apakah artinya menjadi petarung hebat yang selalu sakit?  Untuk sisi seni bela diri, Anda harus masuk ke sisi filosofinya. Filosofi Taiji adalah tentang bagaimana menjadi manusia. Itu lebih penting. Bagi murid yang tidak bisa memutuskan apakah mereka ingin belajar Taiji, Saya selalu mengatakan – jika Anda ingin menendang dan memukul Anda berlatih Shaolin atau Karate, jika Anda ingin melempar orang Anda berlatih Aikidoatau Judo, jika Anda ingin kesabaran dan ketekunan Anda berlatih Taiji.  Jika Anda ingin bela diri terbaik, jangan berlatih…cari senjata api untuk Anda! Penting untuk ditekankan bahwa Taiji hanyalah untuk pertahanan.Dalam Taiji, mengatasi gerakan dari diam, mengatasi tindakan orang lain tanpa bertindak. Ketika Anda mencapai level Taiji  yang lebih tinggi, ketika orang mendorong Anda,  Anda bahkan tidak perlu menetralisasinya, Anda hanya membawa tenaga ke bawah karena tenaga itu akan memantul balik ke atas. Level tertinggi Taiji disebut “menerima tenaga.” Namun bagi saya ini masih belum level tertinggi Taiji.  Karena itu Anda harus masuk ke dalam sisi filosofinya, ketika Anda belajar untuk menjadi manusia. Anda begitu baik sehingga tak seorang pun ingin bertengkar dengan Anda. Itulah level tertinggi.

 

PA: Jika Anda harus memberi label pada gaya yang Anda ajarkan, apakah itu keluarga Yang?

WKJ: Gaya Yang yang sangat kuat. Chen Man Ching dari Yang Cheng Fu,dia menyederhanakan jurus 37 berdasarkan gaya Yang. Guru saya adalah murid Chen Man Ching,namun cara kami melakukannya, khususnya saat transisi, berbeda dari kebanyakan aliran Chen Man Ching.  Guru saya telah melampau guru-gurunya.  Ketika guru saya pergi ke Singapura pada tahun 1956, Chen Man Ching memberi tahu dia, ” Dalam 7 tahun kamu akan lebih bagus daripada saya “.  Maka guru saya memasukkan pemahamannya.  Maka saya tidak ingin mengatakan apakah gaya Yang saya Chen Man Ching atau Huang….Saya lebih suka menyebutnya Taiji Quan. Gaya diciptakan oleh manusia, gaya hanyalah jenis gerakan yang diciptakan untuk mengikuti prinsip-prinsip Taiji.

 

PA:  Jadi Anda berpikir bahwa jurus Taiji adalah hal yang paling penting?

WKJ: Jurus adalah satu set gerakan yang diciptakan agar Anda bisa memasukkan prinsip-prinsip ke dalam tubuh. Jurus hanyalah satu set perkakas. Pada akhirnya gerakan apa pun yang Anda lakukan harus mengikuti prinsip-prinsip Taiji. Guru saya mengatakan, “Anda harus belajar prinsip-prinsipnya, bukan gerakannya. ” Banyak orang suka belajar banyak gerakan, namun sedikit yang suka belajar satu gerakan saja. Banyak orang suka mengajarkan banyak gerakan, tetapi sedikit yang suka mengajarkan satu gerakan saja. Jika Anda mengajarkan gerakan, begitu Anda selesai mengajarkan jurus, maka Anda harus mengajarkan jurus yang lain lagi. Jika Anda mengajarkan prinsip maka tidak akan ada akhirnya. Cara saya mengajar sama dengan cara guru-guru saya mengajar. Mereka membiarkan Anda merasakan tubuh sehingga Anda tahu apa yang terjadi dalam tubuh. Disuruh relaks atau mengendap bisa jaadi membingungkan, namun  jika saya membiarkan Anda merasakan tubuh, maka Anda tahu apa yang sedainsng terjadi. Walaupun Anda belum bisa melakukannya saat ini, Anda tahu apa yang seharusnya terjadi.  Maka gunakanlah pikiran untuk memvisualisasikan rencananya.  Begitu cara guru saya mengajar.

 

PA: Bagaimana sekolah Anda di New Zealand?

WKJ: Kelas saya di New Zealand tidak besar karena saya mengajar di Eropa setengah tahun.  Di  New Zealand saya hanya punya murid yang sudahlama  berlatih dengan saya , mungkin10 tahun.  Mereka melatih pemula di sekolah mereka masing-masing. Saya katakan pada mereka bahwa mereka tidak harus melatih di bawah sekolah saya, mereka bisa pergi dan melatih. Ketika murid mereka sudah berlatih selama 3 atau 4 tahun dan benar-benar bersemangat, mereka bisa datang dan berlatih bersama saya.  Sebagai guru, ketika waktunya tiba, Anda harus membiarkan murid Anda pergi dan mengajar.  Karena ketika mereka mengajar, mereka memperoleh kemajuan.  Mengajar meruupakan tahapan belajar, kita juga bisa mendapat lebih banyak orang belajar Taiji. Saya tidak ingin organisasi, karena dengan organisasi mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu bicara pollitik ketimbang berlatih dan mengajar!

 

PA: Saya dengar Anda menyukai tuishou, apakah menurut Anda tuishou sangat penting dalam berlatih Taiji?

WKJ: Ya,ini merupakan bagian yang sangat penting dalam latihan. Dalam jurus Anda berusaha untuk sinkron, seimbang, terhubung dan relaks tanpa adanya tekanan eksternal.  Dalam tuishou Anda mendapatkan tekanan tenaga eksternal.   Anda belajar untuk mendengarkan tenaga yang datang, lebih penting lagi Anda menyelaraskannya.  Anda kemudian bertanya pada diri sendiri, “Apa reaksi saya terhadap tenaga tersebut?”.

 

PA: Jika Anda harus mengukur latihan antara tuishou dan jurus, apakah Anda membaginya 50/50?

WKJ: Tidak. Saya akan menggunakan 2/3 dari waktunya untuk berlatih jurus, 1/3 tuishou. Kebanyakan orang melakukan sebaliknya.  Jurus adalah fondasi.  Apa yang Anda lakukan dalam jurus adalah sama dengan apa yang Anda lakukan dalam tuishou.

 

PA: Menurut Anda apakah tuishou perlu dikompetisikan?

WKJ: Saya tidak keberatan dengan kompetisi, selama prinsip-prinsip Taiji diikuti. Jika tuishou berubah menjadi gulat, menjadi adu tenaga, bukan prinsip Taiji. Dalam praktek tuishou saya kira kebanyakan orang hanya berpikir untuk mendorong, namun itulah produk tuishou.  Fondasinya adalah menerima. Belajar menerima tenaga. Jika Anda bisa menerima tenaga maka Anda bisa membawa tenaga tersebut ke tanah, dorongan itu menjadi netral. Itulah mengapa latihan tuishou, dalam latihan Taiji secara umum,jika Anda ingin bagus dalam Taiji Anda harus melepas kesombongan dan ego. Itu hal yang paling sulit. 100% yakin untuk tidak menggunakan tenaga kasar dan tidak mengalahkan orang lain namun mengalahkan diri sendiri.

 

PA: Apakah Anda berlatih dengan senjata?

WKJ: Di White Cranekami hanya menggunakan tongkat jalan.  Dalam sistem Taiji kami, kami punya tongkat, tombak dan pedang.

 

PA: Apa senjata favorit Anda?

WKJ: M16………….bukan, pedang.

 

PA: Apakah Anda sering berlatih senjata?

WKJ: Tidak, saya berlatih jurus. Jurus adalah tanah, pedang adalah air, tombak adalah api, golok adalah logam, tongkat adalah kayu. Semuanya berasal dari tanah. Senjata adalah perpanjangan lengan, maka semuanya kembali ke latihan dasar lagi.

 

PA: Kisah para master jaman dulu sangat mistis. Apakah menurut Anda kisah-kisah itu benar-benar terjadi?

WKJ: Ya. Saya percaya ada kebenarannya, namun setelah bertahun-tahun  dibesar-besarkan, seperti gosip di Cinas. Beberapa hal benar, beberapa hal yang lain barangkali mistis.  Para guru mestinya tidak memistiskan sesuatu. Fakta adalah fakta, kalau bukan fakta ya bukan fakta.  Ketika orang melihat rekaman video saya membuat orang mental-mental, mereka bertanya pada saya apakah itu betulan. Kemudian saya menjelaskan pada mereka, jika guru saya tidak punya ketrampilan tersebut, tentunya saya tidak akan menghabiskan empat tahun hidup saya bersamanya. Saya dulu mencoba menjelaskannya pada mereka, namun sekarang saya bahkan tidak ingin mencoba menjelaskannya.Saya katakan jika Anda mempercayainya sebagai kebenaran maka itu benar. Namun jika Anda tidak mempercayainya, maka itu tidak benar. Lebih baik saya menggunakan waktu untuk berlatih daripada membuangnya untuk menjelaskan pada orang-orang yang tidak bisa menerima kebenaran.

 

PA: Apakah menurut Anda Taiji sudah direndahkan selama bertahun-tahun?

WKJ: Saya melihatnya begini. Jika semua prinsipnya dijalankan maka itu adalah Taiji.  Jika prinsip-prinsipnya tidak ada maka itu bukan Taiji.  Beberapa orang mungkin hanya menginginkan senam, itu bagus. Namun Anda harus menjelaskan prinsip-prinsipnya pada mereka…..untuk berdiri tegak, dll. Apakah mereka datang hanya sekedar untuk senam atau tidak itu terserah mereka.

 

PA: Bagaimana Anda melihat kemajuan sekolah Anda beberapa tahun mendatang?

WKJ: Tujuan saya adalah menolong orang. Banyak orang tahu tentang Taij. Mereka tidak harus berlatih dengan saya, yang penting adalah mereka berlatih Taiji.  Jika Anda berlatih bela diri, harus latihan yang yang bisa Anda jalankan sepanjang  hidup Anda. Tidak ada gunanya melakukan sesuatu yang Anda tidak bisa lagi melakukannya ketika Anda berusia 30 atau 40 tahun.  Jika,ketika Anda 60 tahun, Anda tidak bisa melakukannya berarti waktu yang Anda curahkan sebelumnya terbuang sia-sia. Selain itu, jika Anda berlatih bela diri atau latihan apa pun, Anda harus memilih latihan yang tidak mencederai Anda.  Jika mencedarai Anda,maka apa gunanya melatihnya?  Sejauh ini bagi sayakemajuan sekolah saya  tidaklah begitu penting.  Saya hanya senang berlatih, biarkan orang lain yang mengurusi sekolah saya.

 

PA: Menurut Anda apa syarat murid yang baik?

WKJ: Murid tidak boleh punya pendapatyang  bias.Ketika berlatih pikiran harus terbuka. Jika Anda melihat banyak gaya yang berbeda Anda tidak akan belajar apa-pa darinya, Anda akan mencari kesalahan mereka. Usahakan mellihat yang bagus dari gaya-gaya tersebut. Tidak masalah siapa yang mengajar di kelas, masuklah dengan konsep –apa yang bisa saya pelajari dari orang ini?  Selalu ada yang bisa kita pelajari. Ketika Anda bisa menemukan kesalahan berarti Anda memperoleh kemajuan. Paling tidak Anda tahu bahwa ada kesalahan. Jika Anda belum bisa menemukan kesalahan Anda,maka Anda belum meningkat.  Yang lebih penting,jika Anda menemukan kesalahan orang lain, tanyakan pada diri sendiri –apakah saya punya kebiasaan itu? Kemukdian koreksi diri Anda sendiri. Menurut saya penting bagi murid untuk terbuka. Selain itu, juga penting untuk tidak mengidolakan guru.

 

PA: Menurut Anda apakah hal itu banyak terjadi dalam bela diri?

WKJ: Ya. Saat Anda mengidolakan guru, apapun yang dikatakannya Anda ikuti tanpa berpikir.Pemujaan buta.Guru tidak boleh membiarkan murid mengidolakan dirinya. Jika guru punya murid yang mengidolakannya,dia terbawa perasaan, maka dia mulai mempercayai hal-hal yang tidak benar. Yang terbaik adalah realistis.  Jika Anda realistis, Anda terhubung, menyatu.

 

PA:  Menurut Anda apa syarat guru yang baik?

WKJ: Dalam buku saya, saya mengatakan bahwa guru yang baik tidak harus guru yang terkenal, atau guru yang telah menulis buku yang bagus. Guru yang baik harus bisa menjelaskan dan menunjukkan prinsip-prinsip,mengajar murid apa yang diketahui tanpa menyimpan rahasia. Jangan perlakukan murid sebagai budak karena “ini murid saya!”, ini bukan murid Anda, namun murid Taiji! Kebanyakan guru berusaha mengekang murid, Anda harus membiarkan mereka bebas.

 

PA: Anda mengajar workshop keliling Eropa, apakah workshop Anda cocok untuk pemula?

WKJ: Dalam workshop saya selalu mulai dengan latihan dasar. Sistemnya mempunya 5 gerakan atas dan bawah, kemudian jurus, selanjutnya tuishou. Ketika ditanya mengapa saya mengajar orang yang telah berlatih 2 tahun dan 10 tahun di kelas yang sama, saya mengatakan bahwa saya mengajarkan hal yang sama, namun apa yang mereka serap berbeda.

 

PA: Jadi jika ada orang dengan pengalaman 10 tahun, apakah masih bisa mendapatkan sesuatu dari workshop?

WKJ: Anda harus memahami dasar dari sistem Anda. Jika Anda tidak memahami dasar-dasarnya, maka Anda tidak memahami cara menjalankan jurus atau melakukan tuishou. Cara Anda melakukan latihan dasar dan tuishou adalah sama, jika semuanya berbeda maka tidak nyambung.  Seperti akan belajar Bahasa Inggris, belajar ABC, kemudian menyusun kata-kata, kemudian kalimat, lalu esei.  Anda tidak pergi ke kelas Bahasa Inggris untuk belajar ABC, menulis dalam Bahasa Jerman dan berbicara dalam Bahasa Cina……tidak masuk akal!

 

PA:  Bisakah Anda memberi saran untuk mereka yang baru memulai perjalanan bela diri mereka?

WKJ: Saya kira sebagai pemula Anda harus pergi ke banyak tempat untuk melihat-lihat, namun suatu saat Anda harus membuat keputusan untuk mengambil salah satu style yang Anda nyaman, dan mengikuti satu guru yang Anda percaya.  Jika Anda tetap menjalankan berbagai style yang berbeda-beda, ini seperti mencoba berbagai maskapai penerbangan yang berbeda untuk pergi ke tempat yang sama.  Selama guru mengikuti prinsip-prinsipnya, Anda akan sampai pada tujuan yang sama.  Sebagian membutuhkan waktu lebih lama, sebagian lagi lebih singkat, namun Anda akan sampai di tempat yang sama. Jika Anda mempelajari berbagai style yang berbeda, akhirnya Anda akan kebingungan.

 

PA: Menurut Anda apakah penting untuk berlatih di pagi hari?

WKJ: Keuntungan yang Anda dapatkan dari satu jam berlatih di pagi hari adalah sama dengan berlatih empat jam di siang hari.  Ini karena pikiran masih segar. Saya mulai jam  4 pagi dan berlatih tiga jam di pagi hari.  Saya tidur sekitar jam 9 atau 10 malam.

 

PA: Apakah ada kata-kata nasehat terakhir bagi praktisi Taiji?

WKJ: Anda tidak hanya belajar atau menjalankan jurus.  Anda harus memahami jurus. Bagaimana gerakan diciptakan, bagaimana memahami rahasia menerima adalah karya yang terbesar. Semuanya menjadi terhubung, ketika Anda melakukan tuishou, saya terhubung seperti spons.  Spons hanya masuk ke dalam sejauh Anda menekannya, maka ketika Anda melepaskannya, spons itu melepaskan juga. “Jangan hanya belajar gerakannya, pahami prinsip-prinsipnya “

 

Versi lengkap  artikel ini diterbitkan dalam UK magazine ‘Martial Arts Illustrated’ in 2004

Versi pdf nya bisa diunduh di https://www.taiji.org.uk/publications/