Archive for the ‘Taijiquan’ Category

Tips untuk Murid, Praktisi, dan Pencari Ilmu

January 21, 2019

Jangan mudah percaya pada apa yang Anda baca di buku, atau di internet tentang  Chen Taijiquan.  Banyak informasi di luar sana yang tujuannya untuk mendukung kepentingan komersial tertentu. Saya tidak punya obat cespleng untuk situasi ini, dan saya juga tidak memaksa Anda untuk mempercayai saya. Pendekatan paling bagus bagi mereka yang ingin mempunyai gambaran yang benar tentang seni ini adalah melihat sebanyak mungkin yang ada di luar sana dan dari situ Anda bisa memutuskan sendiri. Apa yang saya miliki berdasarkan pada pengalaman manis dan pahit saya di dunia seni bela diri.

Omongan tidak pernah bisa menggantikan latihan, betapapun informatifnya.

Guru yang dia sendiri tidak berlatih mungkin susah dijadikan sumber belajar.

Guru yang mengatakan bahwa dia satu-satunya yang asli adalah pembohong,titik.

Guru yang tidak bermain (tuishou atau yang lainnya) dengan muridnya bukanlah guru yang paling bermanfaat untuk belajar darinya.  Jika mereka tidak bermain karena mereka tidak punya ketrampilan tersebut atau mereka tidak ingin terlihat buruk, atau mereka mengklaim tidak ingin memperlihatkan rahasia ilmunya …. Satu-satunya rahasia di sini adalah bahwa Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ketika Anda bermain dengan orang lain. Tanpa belajar berimprovisasi dalam gongfu, Anda tidak punya apa-apa.  Beberapa orang barangkali tidak bermain dengan Anda karena mereka tidak suka dengan Anda, dan untuk soal ini saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Siapapun yang menyebut dirinya sendiri grand master, mereka tidak punya pengetahuan atau menutupi fakta sebenarnya, sekarang tidak ada lagi grand master dalam Taijiquan. Selain itu, bila memberi gelar seperti itu kepada diri sendiri menunjukkan perilaku yang tidak tahu tata krama yang parah dalam dunia bela diri Cina, yang tentunya merupakan pertanda buruk. Aturan #1 bagi mereka yang mengetahui sesuatu adalah, jangan membual tentang ketrampilan Anda sendiri. “Kehebatan”, apapun itu semestinya ditentukan oleh orang lain bukan oleh diri sendiri.

Guru yang menyembunyikan atau menyimpan ilmunya mungkin menyatakan alasannya mengapa begitu, namun pada dasarnya karena mereka tidak benar-benar mengetahuinya, tidak tahu cara mengajarkannya, takut orang lain akan “mencuri”nya karena ilmunya tidak sangat dalam atau memang itu saja yang mereka punyai.

Tidak ada rahasia besar dalam Taijiquan. Beberapa guru suka membuatnya seakan-akan ada rahasianya, sehingga orang-orang akan memujanya, namun satu-satunya rahasia adalah pengajaran yang baik, belajar rajin, dan komitmen latihan. Saya banyak menjumpai praktisi dan guru yang punya masalah ini yang jumlahnya tak terhitung, namun praktisi yang benar-benar trampil cukup suka berbagi karena mereka peduli.

Seni internal yang mendalam sedemikian sulit dipelajari sehingga tidak mungkin bisa dicuri. Harus diperoleh lewat kerja keras.  Mereka yang memilikinya tidak kuatir memperlihatkannya; orang bisa melihat gerakannya namun butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan metodenya.

Biasanya orang yang paling baik untuk belajar adalah mereka yang mempunyai sikap baik terhadap seni tersebut. Mereka bersemangat menunjukkannya dan membuat orang lain bergairah terhadap seni tersebut.  Namun demikian, harus saya tambahkan bahwa seni ini tidak bisa digantikan oleh pengetahuan juga. 98%  praktisi yang telah saya temui termasuk yang disebut master terkenal dan bahkan ”grand master”…haiyah…semuanya mempunyai 0%  gongfu betulan, tapi gongfu mulut yang penuh tenaga.  Jika Anda mendapati seseorang yang susah dihadapi sebagai manusia namun punya gongfu yang hebat, Anda barangkali harus bertahan. Ini lebih baik ketimbang guru yang tidak tahu apa-apa yang membuat Anda nyaman dan mengambil uang Anda.

Ada sedikit persamaan antara bisnis dan gongfu.  Guru butuh uang juga, namun mayoritas guru di barat lebih mirip orang bisnis ketimpang praktisi gongfu. Hanya karena ada orang yang mengatakan bahwa mereka hebat, ini tidak berarti apa-apa.  Pada kenyataannya dalam tradisi Cina jika mereka mengatakan bahwa mereka hebat, kemungkinannya adalah kebalikannya.  Mereka yang benar-benar hebat harus rendah hati karena  mereka tahu bahwa di atas langit masih ada langit meskipun mereka bagus.

Banyak orang bicara tentang berlatih atau mengajar selama bertahun-tahun sebagai kredensial gongfu sejati … Ini bisa baik atau bisa buruk. Jika mereka telah berlatih selama 2 tahun dan mereka mengajar, ini masalah, namun jika mereka telah berlatih selama 20 tahun secara keliru, tidak lebih baik juga. 3 tahun berlatih dengan benar lebih baik ketimbang berlatih 50 tahun secara keliru.

Perlu disadari bahwa group Gongfu mirip dengan group sosial yang lain.  Sering terdiri dari orang-orang yang mencari bimbingan di seputar seorang guru. Group-group ini memiliki dinamika keluarga yang dalam banyak hal kurang sehat. Banyak guru terjebak pada kekuasaan psikologis atas murid-murid mereka, dan para murid terpesona oleh pemujaan orang tua. Ini sisi negatifnya.

Dalam beberapa kasus ikatan sosial bisa menjadi jauh lebih sehat, namun nampaknya  para murid membuat guru mereka sendiri bagus untuk mereka.  Setelah bersama guru dalam waktu yang lumayan, murid tidak mau lagi menguji kemungkinan bahwa apa yang mereka pelajari bukanlah yang terbaik atau bahkan sangat keliru, karena ini mengancam identitas yang mereka bangun dalam group.

Mentalitas pengkultusan ini mengancam kemajuan gongfu yang sejati dan juga kesehatan mental pribadi. Maka berkenaan dengan hal ini, buka mata, perhatikan perilaku Anda sendiri, apakah Anda seperti ini? Jika demikilan larilah! …tidak sebegitunya juga. Buka mata dan jangan takut melihat yang lebih baik ketimbang apa yang selama ini Anda percayai.

Kemajuan Taijiquan tingkat tinggi membutuhkan keterbukaan pikiran dan hati.  Mereka yang terlalu bernafsu untuk menang dan tidak bisa bekerja sama untuk mengeksplorasi dengan yang lain tidak akan pernah belajar lebih dari teknik pendek yang tidak mengantisipasi kemungkinan di luar perubahan pertama dalam pertarungan. Sikap egois dan licik secara serius akan menghambat kultivasi Qi dan ketrampilan fisik.

Malangnya, dunia Taijiquan dipenuhi kebingungan. Sebagian orang berpikir bahwa mereka memiliki yang asli, padahal itu versi KW empat, sementara orang lain menilai bahwa itu palsu, tetapi mereka tidak mengatakannya demi keuntungan finansial.  Paling menguntungkan adalah menemukan seseorang yang bersedia mengakui kekurangannya, walaupun kecil kemungkinannya namun yang seperti ini sebaiknya lebih dipilih. Di atas semuanya itu, lebih baik melakukan sesuatu dan tetap sehat daripada lesu dan tidak aktif.  Tidak selalu perlu mendapatkan yang terbaik jika yang terbaik tidak tesedia.

 

Artikel ini adalah terjemahan dari artikel berbahasa Inggris yang bisa diakses di:

http://taijigongfu.com/tips-for-students-practitioners-and-seekers/

Advertisements

Sophia Delza dan Gerda Geddes: Pionir Taijiquan di Dunia Barat

September 17, 2018

Sebagaimana terjadi di banyak bidang pengetahuan atau seni timur, tersebarnya pengetahuan tersebut ke seluruh penjuru dunia dari negeri asalnya adalah peran dunia Barat, dalam pengertian seni atau pengetahuan tersebut dibawa ke Barat dan dari sana menyebar ke seluruh penjuru dunia atau ada orang Barat yang mempelajari seni atau ilmu tersebut dan menyebarkannya.  Barangkali persebaran Taijiquan di dunia tidak bakalan seluas sekarang jika tidak ada yang membawa seni ini ke dunia Barat dan tidak ada orang-orang Barat yang mempromosikannya.  Selain itu, berkat keseriusan orang-orang Barat mempelajari Taijiquan, banyak dari teks-teks atau buku Taijiquan diterjemahkan dari Bahasa Cina ke dalam Bahasa Inggris, dan ini sangat membantu para peminat Taijiquan yang tidak punya akses ke Bahasa Mandarin untuk memahami konsep-konsep atau teori-teori Taijiquan.  Sebagaimana diketahui pemahaman akan konsep dan teori sangat membantu meningkatkan kualitas latihan.

Tokoh Taijiquan yang mulai mengajar di Barat adalah Choy Hok Pang, murid dari Yang Chengfu, yang merupakan orang pertama yang mengajar Taijiquan di Amerika Serikat di tahun 1939.  Di tahun 1964 Zheng Manqing mulai tinggal di Amerika Serikat dan mulai mengajarkan Taijiquan untuk umum.  Adapun orang Barat yang belajar dan memperkenalkan Taijiquan di dunia barat adalah dua orang perempuan, yaitu Sophia Delza dan Gerda Geddes.  Keduanya adalah penari yang pernah tinggal di Cina dan mengenal Taijiquan di sana.  Sophia Delza memperkenalkan Taijiquan di Amerika Serikat, sementara Gerda Geddes memperkenalkannya di Inggris.  Keduanya berfokus pada Taijiquan untuk kesehatan dan pengembangan kreativitas.

Sophia Delza dan Gerda Geddes kurang begitu dikenal di dunia Taijiquan, termasuk di tanah air.  Tidak banyak tulisan mengenai keduanya, terutama yang berkaitan dengan Taijiquan, yang bisa ditemukan di Internet, apalagi yang berbahasa Indonesia.  Berikut sekilas kehidupan mereka yang diambil dari beberapa sumber yang bisa ditemukan di Internet.

Pada tahun 1948, Sophia Delza menemani suaminya, A. Cook Glassgold, ke Shanghai.  Suaminya bekerja pada the American Jewish Joint Distribution Committee, sebuah lembaga bantuan berbasis di New York, yang pada saat itu mengkoordinasikan bantuan kepada para pengungsi Yahudi pasca perang di  perkampungan kumuh di Shanghai.  Pada saat di Shanghai itu, selain bekerja sebagai instruktur tari,  dan menjadi orang Amerika pertama yang mengajarkan tari modern di Cina,  Sophia Delza belajar Taiji aliran Wu di bawah bimbingan Ma Yueliang.  Selain itu, dia juga mempelajari teater  dan tari teatrikal Cina.  Delza dan suaminya kembali ke Amerika pada tahun 1951, dan sepanjang hidup mereka tinggal di Manhattan. Pada tahun 1954 Sophia Delza memberikan demo Taiji untuk publik Amerika di Museum of Modern Art.  Di tahun itu pula, dia mendirikan Delza School of Tai Chi Chuan di Carnegie Hall. Kemudian dia mulai mengajar Taiji sebagai bentuk latihan di  PBB dan Actors Studio.  Di antara murid-muridnya di Actors Studio adalah John Strasberg, yang mencatat bahwa seni yang diajarkan oleh Delza tidak berfokus pada aspek bela dirinya.  Delza juga menunjukkan kebolehannya di televisi. Pada tahun1961 dia menulis buku T’ai Chi Ch’uan: Body and Mind in Harmony, yang merupakan buku pertama dalam bahasa Inggris yang membahas Taiji.

Sophia Delza meninggal dunia di Beth Israel Medical Center  New York City pada 27 Juni 1996 di usia 92, setelah menerbitkan buku terakhirnya, The T’ai-Chi Ch’uan Experience.

Gerda Geddes tinggal di Shanghai pada tahun 1948, bersamaan dengan waktu Sophia Delza di Shanghai. Kalau Sophia Delza bertemu dengan Ma Yueliang waktu di Shanghai. Gerda Geddes baru bertemu dengan guru Taijiquannya setelah pindah ke Hongkong pada tahun 1955/1956.  Guru pertamanya adalah Choy Hok Peng, salah seorang murid Yang Chengfu, yang seangkatan dengan Zheng Manqing.  Dia hanya belajar selama enam bulan secara intensif sebelum gurunya meninggal dunia. Dia berlatih dua jam setiap hari.  Kemudian dia belajar dari anaknya yang bernama Choy Kam Man selama dua setengah tahun.  Choy Kam Man akhirnya pindah ke San Fransisco, di mana dia membangun perguruan dengan banyak murid.  Gerda Geddes atau Pytt Geddes lahir pada 17 Juli 1917 dan meninggal dunia di usia 89 tahun pada 4 Maret 2006.

Wawancara dengan Sifu Adam Mizner untuk Taichimag

July 23, 2018

Kembali ke Sumber

Setelah penyederhanaan jurus oleh Yang Chengfu dan Wu Jianquan di tahun 30an, Taijiquan banyak dikenal publik sebagai latihan kesehatan. Sekarang, tidak banyak guru seni ini yang masih mampu menunjukkan aspek bela dirinya dan menerapkan teori kosong isi ketika menghadapi lawan yang agresif, termasuk di Cina. Adam Mizner termasuk di antara orang-orang yang sedikit itu yang bisa membuktikan bahwa jurus sederhana Yang style masih mengandung prinsip-prinsip bela diri yang masih sama dengan aslinya di aliran tersebut.

Oleh  Emmanuel Angletiner – Taichimag n°7

Kemampuannya untuk melepaskan dalam situasi apapun dan kepiawaiannya dalam Tuishou berada di tingkat yang langka. Selain itu, Adam Mizner mampu menggunakan prinsip-prinsip tersebut dalam situasi-situasi yang paling berbahaya, mengeluarkan kerangka pelatihan yang ketat, atau bahkan menangani lawan berpengalaman dari berbagai disiplin lain secara bebas.  Ketika berada di Eropa pada suatu waktu untuk mengajarkan seni ini, dia setuju untuk memberikan wawancara ini.

 

Mohon Anda perkenalkan diri Anda kepada pembaca Taichimag ? Berapa usia Anda dan berapa lama Anda telah berlatih Taijiquan?

Saya berusia 37 tahun dan telah berlatih Taijiquan selama 20 tahun. Sebenarnya di tahun-tahun awal saya tidak benar-benar melakukan Taijiquan namun hanyalah Waijia yang diperlahankan.

 

Di mana Anda mulai belajar Taijiquan dan mengapa Anda sampai pada aliran gongfu ini?

Saya mulai berlatih Taijiquan di Australia pada saat yang sama saya mulai berlatih Chow Gar Tong Long, Saya didorong oleh guru-guru saya pada saat yang sama untuk berlatih taijiquan untuk membantu membangun relaksasi lebih dalam Tong Long saya.  Seperti sudah saya katakan bahwa ini hanya mirip kulit luar tanpa pengembangan internal sejati sebagaimana begitu umum di kalangan mereka yang berniat berlatih Taijiquan. Ketika hanya ada kulit luar dan belum memasuki pintu internal lewat pengendapan dan mobilisasi Qi maka seperti apa yang suka saya sebut “ Taijiquan palsu”.

Setelah sekitar 4 tahun saya bertemu dengan seseorang dengan Taijiquan betulan dan minat saya kemudian gairah saya terpicu. Kekuatan tanpa upaya dan keanggunan adalah segalanya yang saya inginkan dari kungfu. Jelas bagi saya bahwa Taijiquan adalah jalan maju. Saya tidak meninggalkan latihan kungfu eksternal saya sampai kurang lebih setahun berikutnya, ketika menjadi sangat jelas bagi saya bahwa kekuatan keras lawan keras berlawanan dengan praktek spiritual dan meditasi.  Pada saat itu saya melepaskan latihan eksternal untuk selamanya dan sejak saat itu berfokus pada meditasi dan Taijiquan.

 

Apakah latihan Anda dipengaruhi oleh beberapa orang atau master?

Ya, tentu saja. Saya mempunyai tujuh guru utama, semuanya sangat berpengaruh.  Di sepanjang perjalanan, saya sudah bertemu dengan banyak praktisi senior lain yang dalam derajat tertentu juga berpengaruh pada saya. Saya juga dipengaruhi oleh kehidupan dan ketrampilan para master hebat dari masa lalu.

 

Dalam pengajaran Anda, jurus (Taolu) yang mana yang Anda ajarkan dan seberapa penting Anda tekankan pada jurus-jurus tersebut?

Latihan Taolu tentunya merupakan latihan yang sangat penting dan merupakan intisari dari latihan Taijiquan. Menurut pendapat saya, latihan Taolu merupakan tingkat latihan yang paling tinggi, untuk bisa melakukannya dengan benar orang harus melalui serangkaian latihan perubahan tubuh dan pengembangan Qi.  Ini berbentuk latihan-latihan membuka tubuh, jibengong, song gong dan Zhan Zhuang. Ketika area latihan ini dicapai maka seseorang siap untuk benar-benar memainkan Taijiquan dan ini saat yang tepat untuk berlatih Taolu.

Kebanyakan orang modern tidak memiliki kesabaran dan atau waktu untuk jadual pelatihan seperti itu, dan sialnya di kebanyakan aliran pelatihan dimulai dengan Taolu. Saya suka memperkenalkan Taolu di awal sembari memberi fokus pada Zhan Zhuang dan song gong dan sejalan dengan para murid berlatih kita memberi fokus lebih banyak pada kerja Taolu secara internal dan eksternal.

Saya berlatih sejumlah rangkaian dari Yang style Taijiquan dari metode Huang Sheng Shyan dan dari metode Yang Shao Hou. Perangkat mengajar saya yang utama adalah rangkaian Huang yang merupakan variasi dari jurus 37, walaupun saya punya beberapa murid yang sangat senior dan sangat trampil yang memiliki pengembangan internal yang dibutuhkan dan telah mulai berlatih rangkaian Taolu yang diturunkan lewat Yang Shao Hou. Pada umumnya semua semua pelatihan saya mempengaruhi setiap bagian yang lain, semuanya Yang taijiquan.

 

Apakah perbedaan utama antara Yang Shaohou’s style dan Huang Xingxian’s (Huang Sheng Shyan) style of Taijiquan ?

Kedua metode tersebut adalah Yang style Taijiquan, di mana hanya ada jumlah postur yang terbatas pada Yang style dan urutan jurusnya sangat mirip. Saat kita melihat rangkaian Taolu yang tidak adal kemiripannya dengan Yang style, itu karena memang bukan Yang style, terlepas klaim yang dibuatnya.

Taijiquan adalah seni yin dan yang, yin dan yang harus diwujudkan dalam setiap fungsi tubuh, energi dan pikiran. Ketrampilan mengelola yang harus dibangun adalah mendengarkan atau Ting yang sesungguhnya merupakan kualitas mengetahui di saat sekarang dan Song yang suka saya terjemahkan sebagai pelepasan. Dua ketrampilan internal ini dikombinasikan dengan pengaturan spesifik yin dan yang dalam pikiran dan tubuh memunculkan Taijiquan dan 13 postur.

Metode Yang family yang lebih lama seperti yang ditransmisikan lewat Yang Shou Hou lebih kompleks dan lebih menuntut secara internal dan eksternal, metode tersebut menuntut tingkat kemampuan atletik yang lebih tinggi dan tingkat pengembangan internal yang lebih tinggi. Banyak dari “gerakan-gerakan” benar-benar tidak terlihat oleh mata, karena itu metodenya sangat susah untuk dicapai. Berlawanan dengan hal ini, metode Yang family Taijiquan yang lebih modern kurang begitu kompleks dan kurang menuntut, gerakan-gerakannya terlihat oleh mata. Saya percaya adalah mungkin untuk mencapai tingkat tinggi dengan metode lama namun sebagian besar orang mencapai lebih banyak dengan metode yang lebih baru. Metode yang lebih lama menuntut semacam komitmen yang hampir tidak mungkin di jaman kita sekarang ini.

Beberapa orang percaya bahwa rangkaian Taolu rahasia atau lama akan memberi mereka ketrampilan spesial. Tentunya masalahnya bukan di sini.  Pengembangan tubuh yang benar dan kinerja internal yang memberikan ketrampilkan. Aspek ini sering hilang atau disalahpahami, bahkan di beberapa penerus lineage dengan jurus otentik yang lama telah kehilangan kinerja internalnya dan dengan demikian hanya tinggal kulit luarnya saja.

 

Apakah menurut Anda Taijinya Huang Xingxian dipengaruhi oleh  Hequan (Tinju Bangau) ?

Ya, metode Huang dipengaruhi oleh Bangau Putihnya, setiap guru mengajarkan seninya karena dia telah menguasainya, tak ada cara lain. Dari generasi sekarang yang mengajar metode Huang, beberapa guru telah menjaga lebih banyak pengaruh Bangau Putih ketimbang yang lain berdasarkan pengalaman dan preferensi mereka. Metode personal saya dan apa yang saya ajarkan sedemikian banyak terpengaruh oleh metode lama Yang sehingga pengaruh Bangau Putihnya hampir tidak ada.

 

Nampaknya sebagian besar praktisi Taiji practitioners tidak bisa menggunakan teknik dan teori mereka untuk bertarung saat ini, mengapa demikian dan bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Kebenaran yang menyadarkan adalah bahwa sebagian besar “praktisi Taiji” tidak mempraktekkan Taiji sama sekali.  Ini bukan karena kesalahan mereka sendiri, ini semata karena tanpa metode yang benar dan pengembangan internal seseorang tidak bisa begitu saja melakukan Taijiquan.  Untuk melakukan Taijiquan seseorang harus melewati beberapa perubahan besar dalam tubuh untuk membangun tubuh dan pikiran yang mampu menjalankan Taijiquan.  Ini adalah tujuan utama metode latihan tradisional.

Begitu seseorang melewati pintu gerbang tersebut dan benar-benar melakukan Taijiquan maka tentunya ada lebih banyak kerja yang dibutuhkan untuk bisa mengaplikasikan seni tersebut dalam pertarungan bebas.  Metode untuk melakukan demikian perlu diajarkan oleh seseorang dengan ketrampilan tertentu.  Semata-mata berusaha bertarung ketika Anda belum mencapai tubuh Taiji dan tidak menggunakan 13 postur yang sejati hanyalah menghasilakan pertarungan eksternal biasa yang secara keliru dilabeli sebagai Taijiquan.

Saya berpendapat bahwa ketika seseorang telah membangun tubuh dan pikirannya, telah mengendapakan Qi, bisa menggerakkan Qi dan menghasilkan berbagai jin, maka dia mampu melatih bertarung dengan seni tersebut. Saya punya sedikit murid yang bisa benar-benar bertarung dengan seni ini, namun ini tidak untuk setiap orang.

 

Seberapa penting tuishou dan bagaimana seharusnya dilatih menurut Anda?

Tuishou merupakan inti untuk membangun ketrampilan aplikasi Taijiquan. Tanpa tuishou seseorang mempelajari hanya sebagian dari seni ini.  Tujuan dari tuishou adalah untuk membangun ketrampilan menempel, menyambung, mendesak,  dan mengikuti. Walaupun ini mungkin nampak sangat sederhana, ini sangat dalam dan dalam menguasai ketrampilan ini ketrampilan kungfu Taiji sejati muncul. Begitu seseorang mempunyai ketrampilan menempel, menyambung, mendesak,  dan mengikuti maka seseorang bisa berlatih meminta, menetralisisr, menangkap dan melepaskan.

Tuishou adalah sarana untuk membangun ketrampilan ini dan tidak didesain untuk kompetisi. Latihan bisa bervariasi dari yang bersahabat dan sesuai aturan ketika saling membantu belajar dinamikanya, dan kuat ketika ketrampilan sudah maju. Dengan penyelidikan mendalam di bawah bimbingan guru piawai yang mempunyai ketrampilan ini, seseorang bisa membangun kungfu taiji otentik dan kekuatan yang misterius yang seni ini terkenal karenanya.

 

Seberapa penting penggunaan intensi (yi) ketika berlatih Taijiquan ?

Mengatakan bahwa Yi adalah dasar adalah pernyataan yang mengecilkan. Adalah Yi yang kita gunakan sebagai perkakas utama sejak dari awal, Yi adalah bagaimana kita memerintah song dan mobilisasi Qi, yang tanpanya kita jatuh pada metode gerakan waijia. Poin pentingnya adalah bahwa Shen, Yi dan Qi harus diselaraskan, dan ini adalah tujuan sejati Yang taijiquan.  Jika seseorang bisa benar-benar mencapainya, ketrampilannya akan menjadi ajaib.

Kita bisa melihat dengan jelas bahwa jika Yi melakukan sesuatu yang tidak selaras dengan qi maka kita menyimpang dan mengikuti metode yang salah. Pengolahan Yi harus sederhana namun dalam, jika terlalu rumit atau melibatkan semua jenis pembayangan maka tidak ada gunanya pada waktu real.

 

Apakah Anda mengajarkan teknik-teknik peregangan tertentu untuk meningkatkan relaksasi dan jika demikian, dari mana asal teknik-teknik tersebut?

Ya, saya mengajarkan peregangan-peregangan spesifik untuk membuka gerbang-gerbang tubuh. Tidak ada hubungannya dengan peregangan seperti dalam pengertian dalam Yoga, namun semuanya tentang membuka fascia untuk mengijinkan gerakan Qi yang lebih besar. Latihan-latihan tersebut berasal dari metode-metode yang lebih lama dari keluarga Yang dan konon berasal dari metode-metode rahasia Daoist untuk kultivasi QI.

 

Apakah ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para pembaca Taichimag ?

Pikiran adalah raja, tubuh harus dibangun dan ketrampilan bela diri itu menyenangkan dan bermanfaat, namun tujuan utamanya adalah menembus kekosongan dan mencapai kedamaian.

 

Diterjemahkan dari:

http://discovertaiji.com/en/interview-with-sifu-adam-mizner-for-taichimag_94.html

Tiga Model Pembelajaran Taijiquan

March 12, 2018

Waysun Liao mengatakan bahwa kesulitan pertama yang dihadapi oleh mereka yang ingin belajar Taijiquan adalah menemukan orang yang menguasai Taijiquan.  Ketika sudah menemukan orang yang menguasai seni ini, problem berikutnya adalah apakah orang tersebut bersedia mengajarkan ilmunya atau tidak.  Tentunya yang dimaksud oleh Waysun Liao ini berlaku untuk pembelajaran model tradisional. Berikut akan dipaparkan tiga model pelatihan atau pembelajaran Taijiquan bersama guru atau pelatih yang ada di masyarakat.

 

Pelatihan massal di Sasana

Sasana Taijiquan biasanya merupakan komunitas praktisi atau peminat Taijiquan yang melakukan latihan secara massal.  Di beberapa kota di Indonesia ada beberapa sasana yang terbuka untuk umum yang berminat untuk berlatih Taijiquan.  Mereka yang berminat tinggal bergabung dan mengikuti latihan sesuai jadual.  Peserta baru tinggal menirukan gerakan yang dilakukan oleh pelatih atau teman-teman lainnya. Karena latihan dilakukan secara massal, pelatih kurang bisa memberi perhatian atau koreksi secara individual.  Secara biaya terjangkau karena anggota sasana hanya membayar iuran bulanan yang ditentukan oleh pengurus sasana.  Jenis Taijiquan yang dilatih di sasana biasanya jurus-jurus Taijiquan modern, seperti Taijiquan gaya Beijing, dll.  Karena sifatnya yang terbuka untuk umum, barangkali model pelatihan di sasana merupakan model yang paling mudah diakses publik yang ingin berlatih Taijiquan.

 

Kelas Privat

Pembelajaran kelas privat adalah pembelajaran perorangan atau kelompok kecil berdasarkan kesepakatan  antara peserta dan guru/pelatih mengenai jadual, materi, dan biaya.    Materi yang diajarkan tergantung kebutuhan peserta dan tentunya yang dikuasai oleh guru/pelatih.  Karena guru atau pelatih hanya melatih satu orang atau kelompok kecil, peserta bisa mendapat perhatian penuh dari guru atau pelatih. Secara biaya, belajar lewat cara privat tentunya lebih mahal bila dibandingkan dengan biaya belajar secara massal di sasana.  Apabila mendapatkan guru yang baik model pembelajaran ini bisa optimal selama peserta mau mengikuti materi yang ditentukan oleh guru.  Namun model pembelajaran ini bisa menjadi kurang optimal kalau peserta mengatur materi sesuai selera peserta dan mengabaikan petunjuk guru atau pelatih.

 

Rumen (入门)

Rumen (入门)atau Jinmen (进门), yang artinya masuk gerbang, adalah model pembelajaran yang biasanya dipakai di perguruan tradisional.  Model ini tidak hanya berlaku pada perguruan Taijiquan saja, namun juga umum berlaku di perguruan seni bela diri tradisional Cina atau TCMA (Traditional Chinese Martial Arts) yang masih meneruskan tradisi dari jaman kuno. Pembelajaran model ini sifatnya tertutup karena tidak semua orang bisa masuk  ke perguruan tradisional ini.  Diterimanya seseorang untuk bisa masuk perguruan tergantung kriteria yang ditetapkan oleh perguruan atau shifu yang merupakan representasi perguruan tersebut.  Setelah seorang memenuhi persyaratan yang ditentukan, ada semacam tradisi atau ritual yang harus dijalankan untuk masuk ke perguruan yang disebut dengan baishi atau mengangkat guru.  Setelah menjalani ritual baishi, murid tersebut disebut sebagai murid dalam.  Murid yang tidak atau belum mengikuti baishi disebut murid luar.  Guru wajib mengajarkan inti dari Taijiquan yang sifatnya rahasia bagi orang di luar perguruan kepada murid dalam.  Materi yang diajarkan dalam model ini adalah Taijiquan tradisional tergantung si guru berada di Taijiquan lineage yang mana.

Apakah Taijiquan itu Kungfu?

February 12, 2018

Tempo hari ada seorang teman bertanya kepada saya, “Apakah Taijiquan itu Kungfu?”  Pertanyaan yang nampaknya sepele ini nampaknya tidak bisa dijawab dengan sekedar ya atau tidak.  Barangkali perlu diklarifikasi dulu apa yang dimaksud dengan Kungfu kemudian dilihat apakah Taijiquan bisa masuk ke dalamnya.

 

Istilah kungfu sudah sedemikian populernya dalam masyarakat barangkali sejak masuknya film laga dari Hongkong di tahun 70 an.  Dalam masyarakat umum yang dimaksud dengan kungfu adalah bela diri dari Cina yang direpresentasikan oleh film-film Hongkong tersebut, bahkan film-film laga seperti itu biasanya disebut sebagai film kungfu. Transliterasi baku dari Bahasa Mandarin 功夫 adalah gongfu, namun penulisan yang umum dikenal adalah kungfu. Dalam Bahasa Mandarin kata Gongfu atau Kungfu ini berarti suatu ketrampilan yang dicapai sebagai hasil latihan yang tidak hanya untuk ketrampilan bela diri.  Seseorang yang mempunyai ketrampilan memasak yang hebat bisa dikatakan bahwa dia memiliki Kungfu yang hebat.

 

Selain istilah kungfu ada istilah yang perlu kita ketahui maknanya, yaitu wushu.  Arti kata wushu (武术) di masa lalu adalah seni perang atau bela diri.  Dalam pengertian ini istilah Zhongguo wushu (中国武术) mencakup berbagai macam jenis bela diri yang berkembang di Cina.  Dalam pengertian modern yang lebih spesifik lagi, wushu bisa berarti salah satu cabang olah raga bela diri.

 

Dari segi bahasa sejauh ini bisa diketahui perbedaan Kungfu dan Wushu.  Kungfu adalah suatu ketrampilan yang diperoleh melalui proses latihan, dan tidak hanya mencakup bidang bela diri saja, sementara wushu adalah bela diri.  Namun demikian, makna dari pertanyaan “Apakah Taijiquan itu Kungfu?” nampaknya lebih mengarah ke makna Kungfu yang dipahami umum, sehingga pertanyaan itu sama dengan, “Apakah Taijiquan itu bela diri?”

 

Dalam sejarahnya Taijiquan adalah bagian dari Zhongguo wushu atau bela diri Cina di mana di jaman dulu orang belajar Taijiquan untuk keperluan membela diri dari berbagai macam ancaman.  Dalam perkembangannya di jaman modern, banyak orang yang belajar Taijiquan lebih untuk keperluan kesehatan ketimbang untuk bela diri.  Dari sini metode berlatih pun menjadi berbeda.  Teknik-teknik bela diri yang ada dalam Taijiquan tidak dilatih, dan Taijiquan direduksi menjadi senam.  Jurus Taijiquan yang sebelumnya merupakan kumpulan teknik bela diri menjadi senam untuk menjaga kesehatan.  Jurus dilombakan untuk dinilai dari aspek keindahan bentuk luarnya.  Ini adalah gambaran umum dari Taijiquan yang umum di temukan dalam ruang publik.  Namun demikian, sampai saat ini masih ada perguruan Taijiquan yang berorientasi bela diri dan menempuh jalan tradisional, di mana perguruan tersebut bersifat tertutup dan tidak mudah diakses oleh khalayak umum.

 

Kembali ke pertanyaan awal, “Apakah Taijiquan adalah Kungfu atau bela diri?”  Jawabannya adalah ya ada sebagian komunitas Taijiquan yang melatih Taijiquan bela diri dan ada sebagian (besar) komunitas Taijiquan yang melatih Taijiquan sebagai senam untuk menjaga kesehatan.

Mengapa Taijiquan susah untuk didiskusikan?

January 15, 2018

Ada banyak group Taijiquan di media sosial, terutama di Whatsapps group dan tentunya semua anggota groupnya adalah praktisi ataupun mereka yang punya minat pada Taijiquan. Namun demikian, kebanyakan anggota di group tersebut lebih suka memosting hal-hal yang tidak berhubungan dengan Taijiquan.  Suatu ketika timbul perdebatan yang memanas karena topik yang berbau politik di salah satu group tersebut, dan salah seorang anggota mencoba menghentikan ketegangan tersebut dengan mengatakan “mari kita kembali membahas Taiji.”  Tulisan ini tidak akan membahas mengapa  kebanyakan dari kita susah berdiskusi tentang perbedaan pandangan (politik) secara adem ayem, namun lebih kepada mencoba membahas mengapa kebanyakan anggota di group Taiji di media sosial enggan atau malas membahas atau berdiskusi tentang Taijiquan, sesuatu yang mestinya menjadi alasan mengapa group media sosial tersebut pada awalnya dibentuk.

 

Di dalam group Taijiquan tersebut biasanya ada beberapa anggota yang suka posting video atau artikel Taijiquan, dan ada beberapa yang berkomentar atau lebih sering merespon dengan emoji gambar jempol untuk menunjukkan bahwa video sudah dilihat atau artikel sudah dibaca.  Kalaupun ada diskusi biasanya juga diikuti oleh anggota yang itu-itu saja, dan dari observasi saya topik yang biasanya agak seru dibahas biasanya topik yang abstrak seperti “Qi” atau “Fajin,” dan sejenisnya.  Dari pengalaman bermedia sosial tersebut saya menarik kesimpulan bahwa nampaknya ada beberapa persyaratan untuk memastikan bahwa suatu diskusi tentang Taijiquan bisa berjalan dengan baik dan dengan demikian manfaat, selain silaturahmi, bisa didapatkan dari diskusi tersebut.  Setidaknya ada tiga hal persyaratan yang dibutuhkan agar diskusi Taijiquan bisa berjalan, yaitu adanya pengalaman berlatih, referensi atau pemahaman teori dan konsep, dan hasrat untuk berbagi.

 

Apabila orang tidak mengenal Taijiquan dan tidak mepunyai pengalaman berlatih tentunya susah untuk bisa berbicara tentangTaijiquan karena hal tersebut berada di luar wawasan dan pengalamannya.  Namun bagi mereka yang belum pernah berlatih namun pernah membaca atau mendengar kisah tentang Taijiquan mungkin bisa bercerita sebatas apa yang diketahuinya. Diskusi tentang Taijiquan yang sehat sebaiknya dilakukan oleh mereka yang mempunyai pengalaman latihan dan pemahaman teori yang memadai.

 

Mereka yang praktek latihan dan pemahaman teorinya selaras tentu bisa bisa berdiskusi dengan mudah karena apa yang disampaikan sejalan dengan pengalamannya.  Tentu saja diskusi hanya bisa berjalan bila setidaknya ada dua orang yang telah berlatih dan memahami teorinya serta adanya hasrat untuk berbagi.  Namun demikian, perlu diingat bahwa diskusi Taijiquan hanyalah salah satu aspek dalam pembelajaran Taijiquan.

 

Penguasaan Taijiquan diperoleh melalui latihan yang teratur dan didukung oleh pemahaman teorinya.  Ada semacam dialektika antara latihan dan pemahaman teori.  Latihan semakin maju apabila didukung oleh teori, dan kebenaran teori dibuktikan dengan praktek latihan.  Berlatih saja tanpa memahami teori mungkin bisa memperoleh kemajuan, namun kemajuan akan dicapai dengan lebih cepat bila dibimbing oleh pemahaman teori.  Dan yang paling penting untuk diingat adalah untuk berlatih Taijiquan harus ada di bawah bimbingan guru. Dalam Taiji Klasik, The Song of Thirteen Postures diungkapkan bahwa “untuk memasuki pintu Anda harus dibimbing secara lisan.  Berlatih tanpa henti dan teknik dicapai melalui penelusuran diri.”

Kisah Para Master: Beberapa Kejadian dalam Keluarga Yang

August 17, 2017

Ketika kakek dari guru saya, Yang Lu-ch’an, pertama kali berjalan memasuki  istana pada Dinasti Ching, dia diserang dua ekor anjing.  Kedua anjing tersebut menggigit kakinya, dan kemudian dengan suara yang aneh melarikan diri.  Tuan Yang tidak memperhatikannya dan mengikuti para kasim dengan senyum tenang.  Para kasim kagum dengan ketenangannya.  Belakangan diketahui bahwa kedua anjing tersebut tidak mau makan pada malam itu.  Rupanya gigi anjing-anjing tersebut patah waktu menyerang, karena begitu kuatnya kaki Yang.

****

Di saat yang lain, paman tertua guru saya Yang Pan-hou – anak tertua Yang Lu-ch’an – sedang tidur di kebun pada suatu sore di musim panas sambil menunggu makan malam.  Seorang pembantu menyentuh tubuhnya untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap dan Yang, masih tertidur lelap, menendang pelayan yang sial tersebut hampir setinggi langit-langit rumah.

****

Di suatu pagi, ayah guru saya, Yang Chien-hou, anak ketiga Yang Lu-ch’an, didekati oleh seorang pelayan yang mengatakan bahwa ada tikus mati yang nyangkut di dinding kamar tidur.  Apakah tuan mengetahuinya?  Yang sejenak berpikir dan kemudian berkata: “Tikus tersebut pastinya berusaha mengambil kacang yang ada di kantong saya ketika saya tidur.  Saya pastinya telah menangkapnya dan melemparkannya ke dinding dengan kekuatan seperti itu sehingga nyangkut di dinding.

****

Suatu hari sekitar 30 tahun yang lalu, guru saya, Yang Ch’eng-fu, cucu Yang Lu-ch’an, dan saya sedang menyeberang di salah satu jembatan di Shanghai.  Seorang pria bertubuh besar dan gempal berjalan dengan cepat dan mendorong Yang dan tiba-tiba mundur beberapa kaki dan terjerembab.  Dia bangun dan menatab dengan marah pada Yang yang diam saja.  Nampaknya orang tersebut terkejut karena gagal menggeser Yang, dan kemudian pergi tanpa berkata-kata.

****

Saya, Man-ch’ing, menilai empat kejadian ini sebagai ilustrasi dari tindakan yang dilakukan tanpa upaya sadar apapun.  Klasik T’ai-chi Chu’an mengatakan bahwa saat orang memahami “menginterpretasikan energi” – secara perlahan orang sampai pada ranah supernatural.

Diterjemahkan dari buku karya Cheng Man-ch’ing berjudul T’ai Chi Ch’uan A Simplified Method of Calisthenics for Health and Self Defense, halaman 132 – 133

Kisah Para Master: Chen Kung dan Manuskrip Keluarga Yang

July 31, 2017

Banyak peristiwa menarik dalam sejarah Taijiquan.  Pada mulanya sejarah Taijiquan merupakan sejarah lisan di mana kisah-kisah di jaman dulu disampaikan dari generasi ke generasi.  Seringkali ada beberapa versi untuk peristiwa yang sama, dan ini adalah hal yang lumrah dalam sejarah karena menyangkut perspektif dan berada di posisi mana si pelaku ataupun saksi sejarah. Kita beruntung ketika ada yang menuliskan kisah-kisah dalam sejarah Taijiquan dan mempublikasikannya.  Dengan demikian, apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh sedikit orang bisa diketahui lebih banyak orang dan bisa menjadi inspirasi untuk berlatih, mempelajari, dan mengeksplorasi Taijiquan.  Berikut adalah kisah tentang Chen Kung.

 

Sekitar tahun 1930, Chen Kung, saudagar kaya dan murid Yang Cheng-fu, mohon meminjam transkrip keluarga untuk semalam sehingga dia bisa membacanya untuk meningkatkan latihannya. Karena Chen murid yang berdedikasi dan setia, maka Yang Cheng-fu menyetujuinya, sepenuhnya menyadari bahwa satu malam akan sulit bahkan bagi pembaca cepat untuk menyelesaikan buku tersebut. Yang tidak diketahui Yang Chengfu adalah bahwa  Chen telah mengupah tujuh penyalin untuk bekerja semalaman menyalin seluruh buku. Setelah menghilang (sekitar tahun1932) dia beralih profesi dari saudagar menjadi tabib pengobatan Cina. Di tahun yang sama beberapa bagian dari manuskrip mulai muncul di berbagai jurnal, yang membuat keluarga Yang marah.

 

Belakangan, di tahun 1943, seluruh catatan salinan Chen muncul dalam bentuk buku dan penjualannya laris di seluruh Cina.  Ini semakin membuat marah keluarga Yang, yang kemudian meluncurkan buku mereka sendiri dengan klaim bahwa terbitan Chen adalah palsu dan bahwa karya mereka yang baru dan lebih kecil adalah materi asli. Chen, dalam gaya tipikal Cina, mengklaim bahwa bukunya berisi teorinya sendiri dan dia hanya menggunakan nama keluarga Yang untuk otentitasnya.

 

Kisah ini tertulis dalam buku Tai Chi Qi & Jin yang merupakan karya Chen Kung yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stuart Alve Olson.  T.T. Liang menceritakan kisah ini kepada Stuart Alve Olson, dan T.T. Liang mendengarkan kisah ini dari gurunya, Zheng Manqing, yang mendapatkan tuturan ini dari gurunya, Yang Chengfu.  Dengan testimoni lisan semacam ini, Stuart Alve Olson tidak yakin akan detail dari kisah ini, namun Master Jou Tsung-hwa mendapat konfirmasi kebenaran kisah ini dari Chen Kung sendiri ketika mereka bertemu di tahun 1976.  Dan cucu dari Chen Kung, Donald Chen, juga mengkonfirmasinya.

 

Terlepas dari permasalahan etika yang ditimbulkannya, ada sisi positif dari peristiwa ini.  Seandainya Chen Kung tidak mempublikasikan bukunya, keluarga Yang barangkali tidak akan mengeluarkan buku mereka sendiri, dan membuka apa yang sebelumnya menjadi rahasia keluarga.  Dengan demikian, masyarakat luas mendapatkan keuntungan karena mereka bisa mengakses dan membandingkan apa yang ditulis oleh Chen Kung dan apa yang ditulis keluarga Yang.  Dengan lebih banyak sumber belajar, tentunya pengertian kita tentang Taijiquan menjadi lebih baik.

Lima Prinsip Ketrampilan Tai Chi Ch’uan yang Baik

June 30, 2017

Wawancara dengan Mr Benjamin Lo dari San Francisco.

 

Benjamin Lo menekankan lima prinsip dasar untuk membangun ketrampilanTai Chi Ch’uan yang baik:

1) Relaksasi.

2) Memisahkan Ying dan Yang.

3) Memutar pinggang.

4) Menjaga tubuh tetap tegak.

5) Mempertahankan tangan seperti tangan wanita cantik.

Lo, yang mengajar di wilayah San Francisco, menempatkan prinsip yang paling sulit dari prinsip-prinsip tersebut di tempat pertama: relaksasi.

“Orang-orang selalu mengatakan kepada saya, ‘Anda selalu menekankan relaksasi. Tapi bagaimana saya melakukannya?’  Saya berkata, ‘latih jurus. ” Itulah satu-satunya jalan.   Banyak orang bertanya kepada saya: ‘ Apakah Anda memiliki postur khusus yang dapat membantu saya rileks?’ Saya katakan ya. Mereka bertanya, ‘Apa itu?’  Saya jawab: ‘Latih jurus’ ”

“Seandainya kami punya jenis latihan atau jurus lain yang bisa membuat tubuh Anda rileks, tentunya kami akan mengajarkannya pada Anda, dan kami tidak akan mengajarkan Tai Chi Ch’uan. Tapi sejauh ini, belum ada jenis latihan atau jurus seperti itu. ”

Lo mengatakan relaksasi melibatkan seluruh tubuh pada saat yang sama, “bukan hanya satu pergelangan tangan, satu telapak tangan, di kaki, dan sebagainya” “Kami ingin seluruh tubuh Anda kendor pada saat yang sama.   Sejauh yang saya tahu, Tai Chi Ch’uan melakukan hal ini. Tentu saja, seni bela diri lain mungkin juga memilikinya juga. Tapi saya tidak tahu..”

Prinsip penting kedua adalah memisahkan Yin dari Yang.

“Yin dan Yang adalah kata Cina dan memiliki makna kosong dan isi. Terkadang dalam pembicaraan umum tentang Tai Chi Ch’uan kita membahas tentang memisahkan berat badan. Tapi itu tidak tepat.” “Saya bisa meletakkan berat badan saya pada satu kaki dan kaki yang lain tidak memiliki berat badan. Tapi sementara itu, kaki lainnya bisa kaku, juga. Yin harus lembut dan tidak memiliki berat badan. Lembut dan santai. Tapi pada saat yang sama ada pada saat bersamaan. Bahkan kaki Yang harus santai. ”

“Bahkan jika Anda tidak menggunakan tenaga, lengan Anda bisa tegang. Itu karena kita adalah manusia. Kita memiliki keterbatasan. Tapi kita mencoba untuk menggunakan otot lebih sedikit dari yang biasanya kita lakukan.” “Kebanyakan orang menggunakan 10% dari otot mereka, tapi mungkin kita menggunakan lima atau empat atau tiga persen di tingkat senior. Anda tidak bisa mengatakan bahwa benar-benar tidak menggunakan otot. Bila Anda membutuhkannya, Anda menggunakannya. Bila Anda tidak membutuhkannya, rileks. ”

Selama tuishou, Lo, yang telah berlatih selama 40 tahun, mengatakan tujuannya adalah untuk menggunakan kekuatan internal dan menghindari penggunaan tenaga. “Biasanya, saya katakan pada murid saya untuk tidak menggunakan tenaga. Sebaliknya, gunakan sung. Bagaimana Anda menerjemahkan sung? Relaksasi bukanlah terjemahan yang tepat. Relaksasi hanya bisa ambruk tapi itu bukan arti sung.”

Lo mengatakan ada perbedaan tingkatan relaksasi dan bahwa dalam tuishou ini sering menjadi jelas. “Jika Anda bertemu seseorang yang lebih baik dalam tuishou, maka Anda menjadi keras. Ketika mereka bertemu seseorang yang lebih baik dari mereka, mereka menjadi keras. Itulah alasan kita harus berlatih dan berlatih. Ini adalah tantangan seumur hidup. Tidak ada akhir. ”

Dia juga mengatakan kelembutan yang bisa seperti air, yang dapat menjadi sangat kuat, atau angin, yang lembut, tetapi dapat memiliki kekuatan tornado dan menghancurkan kota.

Seperti bagaimana murid bisa menggabungkan dan memisahkan kelembutan dan kekuatan, ia berkata: “Murid harus perlahan-lahan berlatih berlatih. Dan berlatih…”

“Saya selalu mengatakan kepada murid, ‘Jika saya memberitahu Anda dan Anda bisa memahaminya segera, itulah pembelajaran. Tapi jika saya katakan dan Anda tidak bisa segera memahaminya, maka Anda harus berlatih perlahan lahan sampai Anda memahaminya. Berlatih secara bertahap selama waktu tertentu. Tanpa berlatih Anda tidak bisa memahaminya. Jika orang telah memberitahu Anda dan Anda tidak bisa memahaminya, itu karena Anda belum berlatih.”

Lo mengatakan bahwa berlatih melibatkan kesabaran dan ketekunan. “Para murid ingin mencari guru yang baik. Kenapa? Karena ia dapat menunjukkan kepada mereka arah yang benar. Jika Anda memiliki guru yang tepat, seorang guru yang baik, itu masih bukan jaminan bahwa Anda akan menjadi baik. Anda harus berlatih. Kadang-kadang guru dan murid sama-sama frustrasinya. Namun Anda harus sabar dan terus berlatih. ”

“Saya memberitahu orang-orang ketika mereka belajar Tai Chi Ch’uan bahwa kesabaran tidak cukup karena orang selalu kehilangan kesabaran. Jadi saya memberitahu orang-orang Anda harus memiliki ketekunan. Kami belum pernah mendengar tentang kehilangan ketekunan.”

“Kesabaran itu baik tapi tidak cukup. Setelah lima tahun Anda dapat berhenti. Saya telah melihat orang yang berlatih 20 tahun dan berhenti. Jika Anda memiliki 20 tahun kesabaran, itu cukup bagus, tetapi jika Anda memiliki kesabaran seumur hidup, itu namanya ketekunan. ”

“Tentu saja, banyak orang berhenti. Tentu saja, guru merasa frustrasi juga. Terkadang mereka merasa, ’Saya meluangkan banyak waktu dan energi dan orang-orang ini tidak bisa belajar’ Jadi guru pun  membutuhkan banyak kesabaran dan ketekunan juga.”

Perjuangan batin yang terjadi selama belajar dan berlatih Tai Chi Ch’uan juga penting, kata Lo. Dan ini melibatkan murid yang harus berjuang melawan dirinya sendiri.

“Ketika Anda berlatih Tai Chu Ch’uan, tidak hanya fisik. Anda berusaha membuat kekuatan tekad Anda lebih kuat, juga. Ketika tekad Anda lebih kuat, Anda tidak akan mudah menyerah. Setiap orang merasa frustrasi, termasuk saya sendiri. Tapi Anda harus mengatasinya. Jika tidak, tidak ada orang lain yang bisa membantu Anda. ”

“Bagian ini cukup sulit. Itulah mengapa kita harus berjuang di dalam. Beberapa orang bisa menerima banyak tekanan. Beberapa orang mudah jatuh. ​​Tiap orang punya kapasitas yang berbeda.”

Kata dia, tuishou memerlukan penekanan yang sama pada lima prinsip sebagai bentuk dan memiliki nilai tambah yang memungkinkan murid untuk memeriksa kemajuan mereka sendiri, apakah itu relaksasi atau bentuk.

“Saya selalu katakan pada murid saya, ‘pasangan latihan Anda adalah guru Anda ketika Anda berlatih tuishou.’ ” “Biasanya, orang menjadi lebih baik,” kata Lo. Namun dia mengatakan dia memberitahu murid untuk tidak mengharapkan peningkatan lurus atau stabil, agak seperti kurva yang bisa naik dan turun.

“Anda harus terus berlatih. Bila Anda bisa melakukan terobosan, maka Anda melompat. Namun kadang-kadang Anda bisa tinggal di satu tempat dan tidak dapat melakukan terobosan. Ketika kita mencapai tingkat tertentu, kita berpikir bahwa itulah batas kita. Namun tidak ada yang tahu potensi kita. Saya pikir murid harus selalu lebih baik daripada gurunya.”

Namun dia mengatakan bahwa murid tidak harus membandingkan kemajuan mereka dengan orang lain. “Bandingkan dengan diri sendiri. Misalnya, sebelum Anda berlatih Tai Chi Ch’uan setiap tahun Anda sering kena flu dan jatuh sakit. Setelah latihan, Anda jarang jatuh sakit.”

“Atau, setelah Anda berlatih bertahun-tahun, Anda tidak pernah sakit. Itu bagus. Itu berarti untuk membandingkan dengan diri sendiri. Jika Anda membandingkan diri Anda dengan orang lain maka Anda menciptakan masalah untuk diri sendiri.” Namun, ia menambahkan, bahwa kadang-kadang baik untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain karena orang lain bisa menjadi sumber rangsangan untuk berlatih.

“Kadang-kadang orang bertanya kepada saya apakah murid Amerika bisa melakukan Tai Chi Ch’uan yang baik. Dan saya selalu menjawab, ‘Mengapa tidak?’ Murid Cina dan Amerika tidak berbeda. Namun demikian, yang penting adalah bahwa murid Amerika perlu lebih banyak disiplin. Semua guru pendapat yang sama seperti itu. Tanpa disiplin, Anda tidak bisa bertahan. Jika tidak, dalam beberapa tahun Anda berhenti .

“Saya pikir itu didasarkan pada latar belakang budaya.  Orang China mengatakan., ‘Oke, saya berlatih Tai Chi Ch’uan dan jika itu membutuhkan 10 tahun, tidak masalah.’ Tapi di sini, dalam 10 bulan mereka harus melihat hasilnya.”

Mengenai tujuan dalam berlatih, Lo mengatakan: “Ketika saya mulai Tai Chi Ch’uan, saya sangat sakit aku sakit parah.  aku bisa berjalan mungkin 15 meter.  Apakah Anda pikir saya memiliki tujuan?  Tentu, saya ingin sembuh. Lalu saya berlatih dan menjadi sehat dan kemudian saya ingin menjaganya dengan cara ini.”

“Kemudian, ketika saya mulai mengajar, saya ingin menjadi sehat dan melanjutkan riset dan studi saya. Tentu saja, setiap orang memiliki keterbatasan, termasuk diri saya. Namun saya hanya melakukan yang terbaik. Itulah yang saya katakan pada murid-murid saya. Jika Anda merasa Anda melakukan yang terbaik, ya tidak ada masalah.”

Lima poin utama Lo juga termasuk memutar pinggang, menjaga tubuh tegak dan menjaga tangan seperti tangan wanita cantik.

Anda harus mematuhi lima poin tersebut, katanya. “Jika Anda tidak dapat mematuhi lima, namun hanya empat. Tentu saja, lebih baik untuk mematuhi empat daripada tiga. Tapi itu tetap tidak baik. Lebih baik mematuhi ke lima nya.”

Dari lima prinsip, yang pertama, relaksasi, adalah yang paling sulit, katanya. Empat lainnya semua orang bisa melakukannya, kata dia. “Anda bahkan tidak harus tahu Tai Chi Ch’uan untuk melakukannya dengan sempurna. Masalahnya adalah bahwa ketika Anda melaksanakan semuanya bersama-sama, Anda tidak bisa melakukannya, terutama bila kaki Anda mulai panas, sakit, gemetar dan Anda lupa tentang semua prinsip. Banyak orang yang seperti ini.”

“Ini semua sangat, sangat sederhana tetapi sulit untuk melakukannya. Bicara mudah. ​​Satu menit Anda dapat mengetahui lima prinsip, tapi mungkin dalam 50 tahun Anda tidak akan mendapatkannya, terutama relaksasi.”

“Semua orang berpikir bahwa mereka rileks, tapi ketika Anda bertemu seseorang yang lebih baik daripada Anda, Anda menjadi keras. Jadi kita tidak bisa sempurna. Ini adalah tantangan seumur hidup. Kita hanya menjalankannya terus menerus. Hanya hal-hal dasar.”

 

Diterjemahkan dari artikel:

Five principles of good Tai Chi Ch’uan skills

An interview with Mr. Benjamin Lo of San Francisco

http://www.wuweitaichi.com/articles/Benjamin_Lo_Five_Basics.htm

 

Pernapasan dalam Taijiquan Menurut William Chen

May 30, 2017

Pernapasan yang tepat memainkan peranan penting dalam gerakan Taijiquan.  Pernapasan ini dikendalikan oleh kontraksi dan pelepasan diafragma.  Oksigen yang diambil dari udara mendukung kebutuhan langsung jutaan sel tubuh dan menyingkirkan karbondioksida dari darah.  Ini penting bagi kehidupan kita.  Hidup tanpa air atau makanan selama beberapa hari tidak menimbulkan akibat yang fatal, namun beberapa menit tanpa oksigen akan menimbulkan kerusakan otak atau kematian.

 

Taijiquan didasarkan atas cara bernapas yang alami: perlahan, lembut dan dalam.  Bernapas alami meningkatkan kapasitas paru-paru, memasok cukup oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu relaksasi selama bergerak.  Bernapas alami juga membantu mengendorkan semua jalur, yang memungkinkan distribusi oksigen lebih efektif dan lebih merata.  Saat menarik napas, diafragma turun, yang memperbesar rongga paru-paru dan membuat lebih banyak udara masuk.  Saat mengeluarkan napas diafragma naik dan menekan limbah udara keluar.  Gerakan mekanis ini mirip dengan gerakan mekanis puputan.

 

Udara yang masuk atau keluar melewati filter alami rambut hidung.  Mulut harus ditutup, agar tidak kering.  Dalam pertarungan, menjaga mulut tetap tertutup akan membantu menghindari tergigitnya lidah, patahnya rahang, dan kelelahan.  Mulai bernapas dengan diafragma, bukan hidung.  Bila tidak, manfaat napas alami akan berkurang.  Ketika napas dimulai dengan hidung, hanya paru-paru bagian atas terisi udara; dada akan menjadi tegang, menyebabkan tubuh kehilangan pusat gravitasi.  Bernapas dengan cara ini biasanya pendek, tidak sehat dan kadang pertanda sakit.

 

Dalam proses melakukan Taijiquan dengan perlahan, gerakannya lunak, lembut dan mengalir tanpa putus.  Pikiran dan tubuh relaks, napas panjang, dalam dan tenang.  Ketika menarik napas, diafragma berkontraksi ke perut dalam bagian bawah, tekanan perut dalam meningkat dan energi mulai mengalir.  Pada saat ini, lengan bergerak keluar atau ke atas.  Saat mengeluarkan napas, diafragma dilepas, tekanan perut dalam akan turun dan aliran energi mereda.  Pada saat ini,  lengan bergerak ke dalam atau turun.

 

Ketika pikiran yang sepenuhnya sadar dan kendor bisa menyatukan gerakan Taijiquan dengan aliran energi, prinsip harmoni, Yin dan Yang, tercapai.  Pada akhirnya, tubuh dan energi menjadi satu kesatuan, yang menghasilkan dorongan, pukulan dan tendangan yang kuat.

 

 

Diterjemahkan dari Body Mechanics of Tai Chi Chuan, karya Willam C.C. Chen, hal. xvii – xviii