Archive for the ‘Tarot’ Category

Pertanyaan Yang Memberdayakan dalam Pewacanaan Tarot

December 21, 2014

Pada dasarnya Tarot, dengan berbagai macam tekniknya, bisa menjawab semua jenis pertanyaan. Namun demikian, untuk mendapatkan manfaat optimal dari pewacanaan Tarot kita perlu menyusun pertanyaan yang memberdayakan. Pertanyaan yang memberdayakan adalah pertanyaan yang jawabannya mengasumsikan adanya pilihan bebas dan adanya rasa tanggung jawab. Mungkin karena kegalauan atau ketidaktahuan sering kali pertanyaan seperti contoh berikut diajukan:

  • Apakah saya akan naik pangkat?
  • Bagaimana perasaan dia terhadap saya?
  • Siapa yang ambil uang saya?
  • Kapan saya bertemu jodoh saya?
  • Seperti apa ciri-ciri jodoh saya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kurang begitu bermanfaat untuk memberdayakan diri, dan lebih sekedar menggambarkan rasa ingin tahu tanpa adanya rasaa tanggung jawab apa pun. Agar pewacanaanTarot lebih memberdayakan jenis pertanyaan seperti di atas perlu disusun ulang. Mari kita analisis pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas dan bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa disusun ulang.

Apakah saya akan naik pangkat?

Pertanyaan seperti ini kurang memberdayakan karena hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak tanpa ada adanya tanggung jawab dari penanya mengenai hal-hal yang perlu ditindaklanjuti. Pertanyaan ini bisa disusun ulang menjadi: Apa yang perlu saya ketahui atau lakukan agar saya bisa naik pangkat? Dengan demikian pewacanaan akan lebih berfokus pada tanggung jawab dan tindak lanjut atau usaha dari si penanya.

Bagaimana perasaan dia terhadap saya?

Pertanyaan mengenai orang ketiga melepas tanggung jawab kita. Kita tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain terhadap kita. Orang bisa suka atau benci pada kita dan kita tidak bisa apa-apa. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola diri kita sendiri atas sikap orang lain kepada kita. Untuk mengambil alih tanggung jawab, pertanyaan ini sebaiknya diubah menjadi Bagaimana saya mengambil sikap kepada dia?

Siapa yang ambil uang saya?

Pertanyaan seperti ini perlu kita sikapi dengan penuh kehati-hatian. Walau dengan teknik tertentu Tarot bisa menjawabnya, namun perlu kita pertimbangkan implikasinya. Jawaban dari kartu Tarot berdasarkan interpretasi terhadap simbol dan intuisi yang sulit untuk dijadikan dasar dari suatu tuduhan kriminal. Akan lebih baik apabila pertanyaan tersebut disusun ulang menjadi Pelajaran apa yang bisa diambil dari kehilangan saya? atau Bagaimana saya menyikapi kehilangan tersebut?

Kapan saya bertemu jodoh saya?

Isu mengenai kapan sesuatu akan terjadi sebaiknya lebih diorientasikan sebagai sasaran atau tujuan di mana ada tanggung jawab dari penanya untuk melakukan sesuatu agar apa yang dijadikan sasaran bisa tercapai berdasarkan kerangka waktu yang ditunjukkan oleh Tarot. Pertanyaan Kapan saya bertemu jodoh saya? sebaiknya dimodifikasi menjadi Apa yang bisa saya lakukan agar saya bisa bertemu dengan jodoh saya?

Seperti apa ciri-ciri jodoh saya?

Pendekatan Tarot tradisional bisa menggambarkan sosok orang secara detail, namun pendekatan yang lebih modern nampaknya lebih tertarik pada isu-isu yang lebih menggali ke dalam diri sendiri. Dalam kasus pertanyaan ini, sebaiknya pertanyaan ini perlu disusun ulang menjadi Kualitas seperti apa yang saya harapkan dari pasangan ideal dan bagaimana saya bisa mendapatkannya?

Dari contoh-contoh di atas,secara umum bisa ditarik kesimpulan bahwa jenis pertanyaan yang mengandung unsur-unsur berikut ini perlu diwaspadai.

  • Pertanyaan YA/TIDAK
  • Pertanyaan menyangkut orang ketiga
  • Pertanyaan yang mempunyai implikasi hukum
  • Pertanyaan menyangkut kapan sesuatu akan terjadi
  • Pertanyaan menyangkut detail yang sempit (ciri-ciri orang, lokasi, dll)

Bila mendapati pertanyaan yang mengandung salah satu atau lebih dari unsur-unsur tersebut, modifikasi pertanyaan tersebut dengan bijak sehingga menjadi pertanyaan yang jawabannya mendorong penanya untuk mempunyai tanggung jawab atas masalahnya dan pilihan bebas mengenai apa yang harus diputuskan atau dilakukan.

 

 

Advertisements

6 Strategi Membangun Makna Kartu Tarot

December 11, 2014

Inti dari pewacanaan Tarot adalah menginterpretasikan kartu dan menghubungkannya dengan masalah yang sedang dibaca. Dari interpretasi dan eksplorasi kartu bisa didapatkan opsi-opsi atau wawasan untuk dipertimbangkan sebagai solusi masalah. Pembelajar Tarot biasanya mengalami kesulitan ketika harus menafsirkan kartu yang muncul karena takut salah. Seringkali mereka tergantung pada kata kunci atau deskripsi dalam buku panduan. Berikut ini adalah 6 strategi untuk membangun makna selain merujuk pada buku panduan. Strategi-strategi ini diadaptasi dari buku Creative Brainstorming with the Bright Idea Deck karya Mark McElroy.

  1. Membuat daftar dan asosiasi

Amati apa saja yang ada di kartu tersebut, dan tulis daftarnya di secarik kertas. Perhatikan detailnya. Kemudian tuliskan asosiasi yang muncul dari tiap benda tersebut, misalnya gambar rumah, mengingatkan pada kenyamanan di rumah atau cicilan rumah yang belum lunas.

  1. Bercerita

Anggaplah kartu itu sebuah foto. Apa yang sedang terjadi di sana? Apa yang terjadi sebelumnya? Apa yang akan terjadi? Ambil 2 kartu, buat sebuah kisah dari 2 kartu tersebut. Apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh di dalam kartu tersebut? Apa yang membuat tokoh-tokoh tersebut sampai pada situasi tersebut? Apa yang akan mereka lakukan? Dengan teknik yang sama, ambil 3 kartu, dst.

  1. Personalisasi

Bayangkan bahwa orang-orang yang ada di kartu tersebut adalah nyata, dan coba berempati dengan mereka. Apakah yang mereka pikirkan atau rasakan? Mengapa? Apa yang mereka katakan pada kita? Atau nasehat apa yang akan kita berikan kepada mereka?

  1. Memaknai secara ekstrem

Kira kira apa makna paling baik dari kartu tersebut, dan apa kira-makna terburuknya? Apa yang akan dikatakan oleh orang optimis tentang kartu tersebut, dan bagaimana pendapat orang pesimis? Dari dua kutub ekstrem, barangkali kita bisa menemukan pemaknaan di tengah-tengahnya yang cukup moderat.

  1. Membongkar kode

Berpura-puralah kartu ini berisi pesan rahasia yang dikirimkan oleh mentor berpengalaman yang sangat kita percayai yang hanya bisa berkomunikasi dengan kita lewat kode-kode simbol dalam kartu. Pesan apa yang ingin disampaikan oleh mentor kita?

  1. Mendeskripsikan

Gambarkan apa yang terlihat di dalam kartu. Apa yang kita lihat? Apa yang terjadi? Apa yang paling menonjol di sana? Dari gambaran yang diperoleh kemudian dihubungkan dengan masalah yang sedang dibaca.

 

Sekelumit tentang Sejarah Tarot di Indonesia

December 8, 2014

Kapan Tarot pertama kali masuk Indonesia merupakan pertanyaan yang susah dijawab dengan akurat karena tidak ada dokumentasi tertulis yang menjelaskan tentang hal ini. Karena Tarot adalah bagian dari budaya Eropa, spekulasi paling mungkin mengenai masuknya Tarot ke nusantara tentunya adalah ketika ada persentuhan Indonesia dengan kebudayaan Barat.   Apakah Tarot masuk ke Indonesia berbarengan dengan masuknya kolonialisme Belanda ataukah belakangan? Mungkinkah Tarot dibawa oleh kaum Teosofis? Siapa sajakah para perintis Tarot awal? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara akurat diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menelusuri sejarah masuknya Tarot di Indonesia.

Minat kepada Tarot mulai muncul ke publik dalam skala nasional setelah terbitnya buku Bunga Rampai Wacana Tarot yang ditulis oleh Ani Sekarningsih pada bulan April 2001. Buku ini adalah buku Tarot berbahasa Indonesia yang ditulis oleh orang Indonesia. Hadirnya buku ini nampaknya menandai awal sejarah modern Tarot di Indonesia. Pada waktu yang bersamaan Ani Sekarningsih juga menerbitkan satu set kartu Tarot yang bernuansa Indonesia, yaitu Tarot Wayang. Untuk penerbitan Tarot Wayang ini dia mendapat pengakuan tertinggi dari Tarot Certification Board pada American Tarot Association sebagai Grandmaster Tarot pertama di Indonesia. CTGM di belakang namanya adalah singkatan dari Certified Tarot Grandmaster.

Perkembangan teknologi internet ikut membantu penyebaran Tarot di Indonesia menjadi masif. Milis clubtarot@yahoogroups.com yang didirikan pada September 2000 berhasil menarik para peminat Tarot yang mempunyai akses internet untuk bergabung. Milis ini tidak bisa lepas dari peranan Ani Sekarningsih dan Leonardo Rimba. Milis ini adalah tempat untuk belajar, berbagi, dan bersilaturahmi. Selainn itu, milis ini juga menginspirasi terciptanya komunitas-komunitas Tarot di beberapa kota, seperti di Surabaya, Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta.

Jejak sejarah Tarot di Indonesia bisa ditelusuri lewat penerbitan buku-buku Tarot yang ditulis oleh orang-orang Indonesia. Karya terjemahan tidak dimasukkan dalam daftar berikut ini.

 

Judul Penulis Tahun
Bunga Rampai Wacana Tarot Ani Sekarningsih 2001
Tarot Wayang (plus kartu) Ani Sekarningsih 2002
Meramal dengan Kartu Tarot Eka Surya 2007
Psikologi Tarot Leonardo Rimba dan Audifax 2008
The Real Art of Tarot   (plus kartu ) Hisyam A. Fachri 2009
Easy Tarot (plus kartu) Lidia Pratiwi 2009
Tarot Psikologi Hisyam A. Fachri 2010
Tarot Past, Future & Life Hisyam A. Fachri 2012
Tarot Kisah Perjalanan Kehidupan Leonar Yogi Hartanto 2012
Tarotivator Indra Ferdianto 2012
Meramal Semudah Membalik Kartu Tarot (plus kartu) Hermes Fortune 2013
Belajar Mudah Bermain Tarot Klub Tarot Jakarta 2013
Tarot & Psikologi Simbol Leonardo Rimba dan Audifax 2013

 

Manfaat Tarot Selain untuk Meramal

December 3, 2014

Beberapa tahun terakhir ini minat terhadap Tarot semakin meningkat. Indikasinya antara lain adalah semakin banyak layanan Tarot di café-café, lapak Tarot di event-event, publikasi buku Tarot dalam bahasa Indonesia, munculnlya komunitas-komunitas Tarot di beberapa kota di Indonesia.

Namun demikian, persepsi masyarakat tentang Tarot masih didominasi oleh pandangan bahwa Tarot adalah ramalan. Hal ini bisa dipahami mengingat dalam budaya pop, seperti dalam film, seringkali digambarkan ketika kartu tertentu muncul di salah satu adegannya, biasanya the Death, kemudian ada karakter dalam film tersebut yang mati secara tidak wajar. Selain itu, mayoritas pengguna layanan Tarot menginginkan layanan yang bersifat ramalan menyangkut masa depan ataupun solusi dari masalah mereka. Sebagai konsekuensinya, untuk memenuhi kebutuhan pasar, sebagian Tarot reader memenuhi kebutuhan ini dengan menyediakan jasa pembacaan Tarot dengan pendekatan ramalan.

Tidak ada yang salah dengan mendekati Tarot sebagai alat untuk meramal. Yang seringkali menjadi kontroversi adalah bagaimana istilah “meramal” itu didefinisikan yang bisa menimbulkan perdebatan atau bahkan perdebatan yang emosional. Alih-alih membahas kontroversi tentang Tarot untuk meramal, artikel ini akan menunjukkan bahwa ada beberapa manfaat lain yang bisa didapat lewat Tarot.

Tarot Sebagai Alat Bantu Konseling

Manfaat tarot sebagai alat konseling nampaknya menjadi pandangan dominan kedua setelah pandangan tentang Tarot sebagai alat meramal. Pendekatan Tarot sebagai alat konseling relatif lebih bisa diterima oleh mereka yang cenderung berpikir ilmiah dan rasional. Kalau dalam pendekatan ramal klien ditunjukkan tentang apa yang akan terjadi dengan dirinya, dalam pendekatan konseling klien diajak untuk mellihat lebih dalam tentang aspek-aspek tentang permasalahan yang sedang dihadapi dan melihat pilihan-pilihan yang bisa diambil serta konsekuensinya. Di dalam pembacaan ramal, Tarot reader menjadi otoritas yang dominan dan klien lebih sebagai subyek pasif, dalam pembacaan konseling klien diharapkan lebih aktif dalam mengambil keputusan untuk memecahkan masalahnya. Buku Psikologi Tarot karya Leonardo Rimba dan Audifax, kemudian diikuti oleh buku Tarot Psikologi karya Hisyam A. Fachri adalah dua buku berbahasa Indonesia yang memaparkan Tarot dengan pendekatan konseling atau psikologi.

Tarot Sebagai Pemicu Kreativitas

Kalau dalam pendekatan ramal dan konselling biasanya melibatkan Tarot reader dan klien untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi klien, dalam pendekatan kreatif pada umumnya dipakai oleh penulis atau seniman. Mereka, penulis atau seniman, memanfaatkan image visual yang ada di kartu-kartu Tarot untuk merangsang daya kreatif mereka. Buku Tarot for Writers karya Corrine Kenner memaparkan bagaimana penulis atau mereka yang berminat dalam dunia menulis bisa memanfaatkan Tarot untuk menghasilkan karya fiksi atau pun non-fiksi serta membantu memecahkan masalah hambatan menulis yang kadang menghadang penulis (writer’s block).

Tarot Sebagai Alat Bantu Perencanaan

Perencanaan yang baik dibutuhkan dalam kehidupan personal dan kehidupan bisnis. Dalam kehidupan personal seringkali kita mengalir begitu saja mengikuti irama hidup. Sementara dalam dunia bisnis, perencanaan yang dilakukan perusahaan seringkali lebih sebagai formalitas dan rutin dibuat dalam rapat kerja tahunan, dan setelahnya tidak dilihat lagi sampai rapat kerja tahun berikutnya. Keputusan-keputusan yang dibuat dalam kehidupan personal atau bisnis seringkali dilakukan karena tekanan eksternal. Apakah kita dalam keadaan tertekan atau tidak, perencanaan selalu baik untuk dilakukan. Tentu saja perencanaan sebagus apa pun tidak akan banyak manfaatnya kalau tidak dilakukan eksekusi. Untuk itu, Tarot bisa menjadi alat brainstorming dalam perencanaan baik dalam kehidupan personal ataupun kehidupan bisnis. Bright Idea Deck adalah satu set kartu yang diciptakan oleh Mark McElroy dirancang untuk berbagai keperluan kreatif, termasuk perencanaan. Yang menarik dari deck yang dibarengi dengan buku panduan berjudul Creative Brainstorming with the Bright Idea Deck ini adalah bahwa tidak ada kata “Tarot” di dalam halaman-halaman buku panduan tersebut. Biasanya buku-buku yang membahas Tarot masuk dalam kategori New Age/Divination, namun buku dan kartu ini masuk dalam kategori Self-Help/Business.

Tarot Sebagai Alat Bantu Pengembangan Diri

Karena kesibukan sehari-hari, kita seringkali lupa melihat ke dalam dan menggali potensi-potensi diri yang ada di dalam diri kita. Kadang kita tergugah dan terinspirasi oleh motivator ataupun kutipan-kutipan inspirasional yang kita baca. Namun demikian, motivasi ataupun inspirasi yang menggugah tidak bisa bertahan lama, kita kembali terbenam ke dalam rutinitas dan tidak melakukan apa-apa atas hidup kita. Untuk menggunakan Tarot sebagai alat bantu pengembangan diri dibutuhkan disiplin yang kuat. Karena pegembangan diri adalah urusan hidup kita pribadi berarti kita harus melakukannya sendiri. Untuk itu, kita perlu meluangkan waktu khusus untuk mencermati dan merenungi apa yang disarankan oleh kartu Tarot untuk meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia yang menyimpan potensi-potensi luar biasa yang belum sepenuhnya tereksplorasi.

4 Syarat Belajar Tarot

December 2, 2014

Tarot adalah satu set kartu, yang biasanya berjumlah 78, yang biasanya dikenal oleh masyarakat sebagai media meramal atau konseling. Proses penggunaan Tarot untuk meramal atau konseling disebut Tarot reading atau membaca kartu Tarot di mana ada seorang Tarot reader membacakan kartu yang ditebar untuk kliennya. Bagi yang ingin belajar membaca kartu Tarot berikut beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.

1. Punya Kartu
Ini merupakan syarat utama untuk belajar Tarot. Tidak ada kartu, tidak bisa belajar. Namun demikian, masalahnya tidak semata-mata punya kartu. Dengan banyaknya pilihan kartu Tarot, atau yang biasa disebut dengan deck, memilih kartu yang tepat untuk mengawali belajar kadang menjadi persoalan tersendiri. Untuk pemula biasanya disarankan untuk memulai dengan deck yang tiap kartunya mengandung gambar naratif yang jelas, bukan kartu yang penuh dengan simbol-simbol yang barangkali susah untuk ditafsirkan. Deck yang seringkali disarankan untuk pemula adalah deck Rider Waite Smith (RWS) atau deck-deck yang berbasis RWS.

2. Keterbukaan Pikiran
Ada sebagian orang yang memandang bahwa Tarot identik dengan praktek perdukunan, bertentangan dengan agama, klenik, dan lain sebagainya. Mengingat masih adanya pandangan negatif seperti itu di masyarakat, keterbukaan pikiran sangat dibutuhkan dalam belajar Tarot.

3. Semangat Bermain-main
Salah satu hambatan dalam belajar Tarot adalah takut salah menafsirkan kartu. Hambatan mental dan pikiran seperti ini harus dihilangkan. Prinsip pembacaan Tarot adalah interpretasi atas gambar yang ada di kartu, dan kartu yang sama bisa ditafsirkan secara sama atau berbeda oleh orang yang berbeda. Tidak ada interpretasi yang salah. Untuk itu dibutuhkan semangat bermain-main dalam menafsirkan gambar-gambar di kartu. Takut salah hanya akan menghambat intuisi kita bekerja.

4. Ketekunan
Mempelajari apa pun dibutuhkan ketekunan, termasuk belajar Tarot. Barangkali hanya dibutuhkan beberapa jam untuk memahami dasar-dasar Tarot, namun untuk bisa mencapai pemahaman mendalam dan memperoleh manfaat yang optimal dibutuhkan jam terbang.

What’s next?
Setelah ke empat syarat tersebut dipenuhi, apa yang selanjutnya harus dilakukan? Cara paling cepat untuk memulai belajar Tarot adalah belajar dari praktisi Tarot yang sudah berpengalaman atau cari dan bergabung dengan komunitas Tarot di mana para peminat Tarot berkumpul. Namun apabila praktisi atau komunitas Tarot susah ditemukan, alternatif belajar Tarot adalah mencari buku panduan belajar Tarot yang baik atau mencari sumber-sumber belajar Tarot online.

Antara Marxisme dan Tarot

November 27, 2014

Catatan: tulisan ini pindahan dari posting di multiply, mungkin tahun 2008 an menanggapi kawan saya almarhum Dadang Rusbiantoro.

Tadinya saya sudah memulai tulisan ini di guestbook untuk menjawab pertanyaan iseng Mas Dadang tentang hubungan Marx dan Tarot, namun karena  pertanyaan iseng ini memancing keisengan saya untuk mengeksplorasi  hubungan antara  keduanya  punya potensi  memakan tempat di guestbook maka jawaban iseng saya tuliskan di sini.

Kata para spritualis, seperti juga dikatakan dalam The Celestine Prophecy, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Selalu ada pelajaran dalam setiap perjumpaan, kalau tidak salah Paulo Freire mengatakan bahwa setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru. Antara Marxisme dan Tarot barangkali kesamaannya adalah sama-sama ilmu tafsir dan ilmu tentang perubahan. Dalam salah satu point Theses on Feuerbach Marx mengatakan bahwa banyak filsuf telah menafsirkan dunia, namun yang penting adalah merubah dunia. Tentunya untuk bisa merubah dunia kita perlu menafsirkannya dulu. Dan cara yang paling mungkin untuk merubah dunia adalah dengan merubah diri sendiri menjadi mahluk yang lebih baik. Dulu seorang kawan pernah mengatakan kalau dia merubah dirinya menjadi lebih baik, paling tidak jumlah bajingan di dunia ini berkurang satu, dan saya sependapat dengan kawan ini. Dan tarot, sebagaimana Marxisme, menawarkan cara yang revolusioner untuk merubah dunia

Ada sebagian orang yang menganggap Tarot sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kecenayangan dan mampu menjawab segala macam pertanyaan. Orang datang ke pewacana Tarot (tarot reader) dan menanyakan tentang orang lain, misalnya “apakah pacar saya selingkuh?” “apakah boss saya jujur soal keuangan perusahaan?” dan seringkali juga beberapa pewacana Tarot melayani jenis pertanyaan seperti ini, yang meletakkan tanggung jawab pada orang lain. Pendekatan yang saya pakai dalam bertarot adalah bahwa pokok persoalan dan tanggung jawab atas masalah-masalah kita adalah kita sendiri, bukan orang lain. Pertanyaan yang lebih baik adalah: “Apa yang perlu saya lakukan untuk memperbaiki hubungan saya dengan pacar saya?” atau “Apa yang bisa saya lakukan supaya saya bisa memahami boss saya dengan lebih baik?” Apabila pertanyaan kita pada Tarot berfokus pada tanggung jawab orang lain, maka bisa dikatakan bahwa Tarot adalah candu bagi kita, dalam arti jawaban Tarot meninabobokan kita serta menggeser tanggung jawab kita pada orang lain. Apabila pertanyaan kita berpusat pada tanggung jawab kita dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri kita, maka seperti juga Marxisme, Tarot bukanlah dogma, namun panduan untuk bertindak. Jadi singkatnya antara Marxisme dan Tarot tidak beda jauh. Karena keduanya bersifat membebaskan kita dari belengu mentalitas korban yang diciptakan oleh masyarakat kapitalis ataupun yang kita ciptakan sendiri, yang membentuk kesadaran palsu kita. Dan tugas Tarot readers adalah membongkar kesadaran palsu ini sehingga awal dari transformasi diri bisa dimulai.
Tarot readers of all countries, unite!

Perkenalan Saya Dengan Tarot

September 22, 2007

Perkenalan saya dengan Tarot dimulai akhir tahun 2004.  Saat ini lagi ada “masalah” dan saya ingin “mengintip” masa depan lewat Tarot.  Saya tidak mempunyai pengetahuan apapun tentang Tarot, kecuali Tarot dipakai untuk meramal. Kartu Tarot saya yang pertama adalah Rider-Waite deck yang saya beli di konter sulap di toko buku Gramedia Sudirman Yogyakarta.  Berbekal deck tersebut saya memulai petualangan yang mengasyikkan di dunia Tarot.  Saya mulai mencari resources tentang Tarot di internet dan di buku-buku.  Buku Bunga Rampai Wacana Tarot yang ditulis oleh Ibu Ani Sekarningsih, CTGM adalah satu-satunya buku Tarot yang ditulis orang Indonesia. Deck kedua saya adalah Tarot Wayang yang dibuat oleh Ibu Ani juga. Saya kesulitan belajar lewat Tarot Wayang karena gambar-gambar di deck tersebut tidaklah sekaya Deck Rider-Waite.  Situs internet favorit saya adalah situs Joan Bunning dimana saya bisa download materi pelajaran Tarot.

Tarot adalah seni eksplorasi mengenai masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari. Dari kartu-kartu yang kita tebarkan kita mendapat wawasan lebih dalam tentang diri kita sendiri. Soal ramal-meramal dengan Tarot saya kurang mempercayainya.  Bagaimanapun juga, masa depan kita bukanlah sesuatu yang pasti karena masih tergantung pada apa yang kita lakukan pada saat ini.  Kalau ada teman yang minta diramal, saya jawab: Saya sendiri tidak tahu nanti mau makan apa, apalagi kamu suruh melihat nasibmu yang lebih tidak jelas lagi.

Saya lebih banyak memanfaatkan Tarot untuk keperluan pribadi, dalam arti setiap pagi saya selalu mencabut satu kartu dan mencoba membaca pesan dari kartu tersebut untuk hari itu. Saya sudah banyak terbantu oleh Tarot. Sementara membaca Tarot untuk orang lain lebih saya lihat sebagai kegiatan yang bersifat entertainment yang bertujuan untuk menghibur, walau beberapa orang yang saya baca mengatakan bacaan saya cocok dengan situasi mereka.  Karena tahapan pembelajaran saya, saya belum berani melakukan pembacaan yang “lebih serius”.

Saya masih terus berproses bersama Tarot dan proses saya selama ini dibantu oleh buku-buku, bahan-bahan dari internet, Bu Ani Sekarningsih dengan buku dan milis clubtarot@yahoogroups.com dan Pak Hisjam yang saya temui di FKY awal bulan Juli 2007 di stand Tarotnya.