Posts Tagged ‘Cheng Man Ching’

Wawancara Paul Alexander dengan Wee Kee Jin

April 10, 2017

PA: Apa yang menginspirasi Anda belajar bela diri?

WKJ: Saya mulai pada usia 14 tahun di Chin Woo association. Saya belajar di sana selama 4 tahun,kemudian mengabdi pada national service di Singapora, kemudian saya berhenti. Ketika saya berusia 24 tahun, saya mengunjungi paman saya di Taiwan, saya mellihatnya memainkan jurus Taiji. Setelah itu dia meminta saya untuk mendorongnya dan tentunya saya terlempar ke sana kemari.  Dia menyebutkan bahwa seorang guru bernama Huangxingxian  di Malaysia dan Singapura, jika saya tertarik saya harus mencarinya. Maka dari situlah awalnya

.

 

PA: Saya tahu bahwa Anda tinggal bersama dengan Master Huang, bisakah Anda ceritakan tentang hal ini?

WKJ: Saya tinggal bersamanya selama empat tahun. Saya berlatih penuh, 7 hari seminggu, 8 jam sehari. Tidak ada liburan,tidak ada tahun baru. Beliau mengatakan bahwa saya perlu belajar Bangau Putih dan Taiji, maka saya belajar keduanya. Pada waktu makan beliau biasanya berbicara tentang Taiji, kami biasanya berdiri dan melakukan tuishou, kemudian duduk kembali dan minum. Ketika kami melihat mesin, misalnya,beliau biasanya bertanya kepada saya, “apa prinsip-prinsip Taiji yang ada di sana?”  Ketika saya berada di sana, saya adalah satu-satunya murid yang tinggal di sana. Sebelumnya ada empat murid yang tinggal bersama beliau, saya yang terakhir.

 

PA: Apa cara paling aneh dari guru Anda untuk membantu Anda belajar?

WKJ: Di tahun 1954, beliau membawa Chen Man Ching school dan White Crane school ke dalam kompetisi. Beliau melatih muridnya dengan cara menuangkan air di lantai, dan kemudian dia menyuruh murid-muridnya untuk melakukan tuishou.  Jika Anda bisa tetap mengakar di lantai yang licin di ruang sempit, ini adalah ketrampilan yang bagus.

 

PA: Saya sudah membaca buku Anda, dan saya mendapati bahwa Anda menekankan latihan dasar. Seberapa penting latihan dasar, menurut Anda?

WKJ: Ketika orang-orang mengatakan bahwa Taiji saya sangat tinggi, ini bukan karena saya melakukan sesuatu yang berbeda.  Tingkat tinggi dalam Taiji adalah bahwa Anda mempunyai pemahaman yang lebih dalam tentang prinsip-prinsipnya.  Setelah 5 tahun, 10 tahun, murid pemula,murid tingkat tinggi, melatih prinsip-prinsip yang sama, namun dengan pemahaman berbeda. Saya berlatih jurus, jurus pendek 37, 20 tahun berjalan saya masih akan menjalankan jurus tersebut.   50 tahun…..masih melakukan jurus yang sama!  Apa yang terjadi di dalam jurus berubah.  Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa tingkat tinggi hanyalah pemahaman lebih dalam tentang prinsip-prinsip dasar.  Bukan sesuatu yang berbeda.

 

PA: Anda pasti masih menjalankan latihan dasar , bukan?

WKJ: Ya. Inilah sebabnya, ketika ditanya apa yang saya lakukan ketika berlatih, saya tidak pernah mengatakannya karena publik akan berpikir bahwa hal ini sedemikian membosankan! Ketika orang mulai belajar hal-hal sederhana, mereka kemudian mulai mencari hal-hal yang rumit.  Ketika Anda mencapai level tertentu Anda mendapati bahwa tidak perlu melanjutkannya, alih-alih Anda harus kembali. Ketika Anda kembali, Anda akan menemukan tempat yang berbeda dari tempat di mana Anda mulai di sana. Saya selalu mengatakan bahwa hal-hal dasar adalah yang paling monoton dan membosankan, yang paling sederhana namun paling sulit dijalankan.

 

PA:  Ada pepatah, “belajar menyenangkan, namun berlatih membosankan, ” Anda setuju?

WKJ: Tidak, itu tidak benar. Itulah sebabnya mengapa , jika Anda belajar seni apapun, pertama-tama Anda harus bersiap untuk mendisiplinkan diri sendiri.  Jika tidak punya pikiran atau ruang untuk mendisiplinkan diri untuk berlatih tiap hari secara konsisten, maka jangan belajar. Setelah bertahun-tahun berlatih, tidak  lagi menjadi disiplin, pastinya menjadi kegembiraan.  Jika masih menjadi disiplin maka ada faktor yang memaksa.  Ketika Anda menikmatinya, menjadi berbeda.  Saya menikmatinya.

 

PA: Jadi sudah menjadi bagian utama hidup Anda?

WKJ: Ya…..selain istri saya.  Prinsip-prinsip Taiji mengatakan Anda harus menyeimbangkan segalanya.

 

PA: Apa perbedaan antara White Crane dan Taiji?

WKJ: Sebelum wafat di tahun 1992,guru saya mengatakan pada saya bahwa beliau merasa telah bertindak tidak adil pada guru White Crane beliau karena beliau lebih banyak mempromosikan Taiji ketimbang White Crane.  Jadi saya berharap saya bisa mempromosikan White Crane untuk beliau. Namun semakin saya mendalami Taiji, semakin saya menyadari mengapa pada akhirnya guru saya berhenti menjalankan White Crane.  White Crane dan Taiji pada dasarnya didasarkan atas prinsip-prinsip yang sama. Jika Anda mengambil berlian, White Crane adalah berlian yang belum dipotong, Taiji adalah berlian yang sudah diasah.  Jadi saya perhatikan bahwa ketika seseorang menjadi semakin halus, dia tidak ingin melakukan hal-hal yang kasar.

 

PA: Jadi orang akan bergerak menuju Taiji secara alami?

WKJ: Ya. Taiji adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang berusia 50 ataur 60.  Gaya yang lebih keras sebagian besar untuk orang muda. Memang seharusnya begitu.  Tetapi harus saya tekankan bahwa White Crane bukanlah seni eksternal.

 

PA: Banyak orang nampaknya masih disibukkan dengan apakah suatu seni itu eksternal atau internal.   Menurut Anda apa perbedaan di antara keduanya?

WKJ: Sebenarnya ini adalah miskonsepsi. Dikatakan bahwa eksternal adalah gaya yang keras, internal gaya yang lembut. Makna sebenarnya dari internal adalah bahwa seni eksternal dimpor dari luar Cina, seni internal adalah seni yang berasal dari dalam Cina.  Shaolin dibawa dari India. Itulah sebabnya mengapa disebut seni eksternal. Di dalam apa yang disebut seni internal dan seni eksternal ada gaya keras dan lembutnya. Jadi White Crane adalalh gaya lembut dan demikian juga dengan Taiji.

 

PA: Apakah Anda masih berlatih White Crane “keras”? Apakah Anda sudah mengadaptasi lebih banyak Taiji ke dalamnya?

WKJ: White Crane sendiri adalah gaya lembut, bukan gaya keras. Orang keliru memahaminya karena jika Anda melakukan White Crane tanpa mengikuti prinsipnya, Anda melakukan hal yang sama dalam bela diri gaya keras.  Ketika guru saya, Master Huang,pertama kali bertemu Chen Man Ching, beliau tidak percaya bahwa guru saya tidak melakukan Taiji.  White Crane harus relaks, relaks, relaks…dan juga ingat bahwa pendirinya adalah seorang wanita.

 

PA: Apakah Anda berpendapat bahwa sisi bertarung Taiji sangat penting?

WKJ:  Tidak begitu penting dalam pengertian bahwa kesehatan adalah fondasinya.  Pada awalnya mulailah untuk kesehatan, kemudian masuklah lebih ke dalam Taiji, lebih ke dalam bela diri. Saya selalu menyarankan pemula untuk mencari kesehatan dulu. Apakah artinya menjadi petarung hebat yang selalu sakit?  Untuk sisi seni bela diri, Anda harus masuk ke sisi filosofinya. Filosofi Taiji adalah tentang bagaimana menjadi manusia. Itu lebih penting. Bagi murid yang tidak bisa memutuskan apakah mereka ingin belajar Taiji, Saya selalu mengatakan – jika Anda ingin menendang dan memukul Anda berlatih Shaolin atau Karate, jika Anda ingin melempar orang Anda berlatih Aikidoatau Judo, jika Anda ingin kesabaran dan ketekunan Anda berlatih Taiji.  Jika Anda ingin bela diri terbaik, jangan berlatih…cari senjata api untuk Anda! Penting untuk ditekankan bahwa Taiji hanyalah untuk pertahanan.Dalam Taiji, mengatasi gerakan dari diam, mengatasi tindakan orang lain tanpa bertindak. Ketika Anda mencapai level Taiji  yang lebih tinggi, ketika orang mendorong Anda,  Anda bahkan tidak perlu menetralisasinya, Anda hanya membawa tenaga ke bawah karena tenaga itu akan memantul balik ke atas. Level tertinggi Taiji disebut “menerima tenaga.” Namun bagi saya ini masih belum level tertinggi Taiji.  Karena itu Anda harus masuk ke dalam sisi filosofinya, ketika Anda belajar untuk menjadi manusia. Anda begitu baik sehingga tak seorang pun ingin bertengkar dengan Anda. Itulah level tertinggi.

 

PA: Jika Anda harus memberi label pada gaya yang Anda ajarkan, apakah itu keluarga Yang?

WKJ: Gaya Yang yang sangat kuat. Chen Man Ching dari Yang Cheng Fu,dia menyederhanakan jurus 37 berdasarkan gaya Yang. Guru saya adalah murid Chen Man Ching,namun cara kami melakukannya, khususnya saat transisi, berbeda dari kebanyakan aliran Chen Man Ching.  Guru saya telah melampau guru-gurunya.  Ketika guru saya pergi ke Singapura pada tahun 1956, Chen Man Ching memberi tahu dia, ” Dalam 7 tahun kamu akan lebih bagus daripada saya “.  Maka guru saya memasukkan pemahamannya.  Maka saya tidak ingin mengatakan apakah gaya Yang saya Chen Man Ching atau Huang….Saya lebih suka menyebutnya Taiji Quan. Gaya diciptakan oleh manusia, gaya hanyalah jenis gerakan yang diciptakan untuk mengikuti prinsip-prinsip Taiji.

 

PA:  Jadi Anda berpikir bahwa jurus Taiji adalah hal yang paling penting?

WKJ: Jurus adalah satu set gerakan yang diciptakan agar Anda bisa memasukkan prinsip-prinsip ke dalam tubuh. Jurus hanyalah satu set perkakas. Pada akhirnya gerakan apa pun yang Anda lakukan harus mengikuti prinsip-prinsip Taiji. Guru saya mengatakan, “Anda harus belajar prinsip-prinsipnya, bukan gerakannya. ” Banyak orang suka belajar banyak gerakan, namun sedikit yang suka belajar satu gerakan saja. Banyak orang suka mengajarkan banyak gerakan, tetapi sedikit yang suka mengajarkan satu gerakan saja. Jika Anda mengajarkan gerakan, begitu Anda selesai mengajarkan jurus, maka Anda harus mengajarkan jurus yang lain lagi. Jika Anda mengajarkan prinsip maka tidak akan ada akhirnya. Cara saya mengajar sama dengan cara guru-guru saya mengajar. Mereka membiarkan Anda merasakan tubuh sehingga Anda tahu apa yang terjadi dalam tubuh. Disuruh relaks atau mengendap bisa jaadi membingungkan, namun  jika saya membiarkan Anda merasakan tubuh, maka Anda tahu apa yang sedainsng terjadi. Walaupun Anda belum bisa melakukannya saat ini, Anda tahu apa yang seharusnya terjadi.  Maka gunakanlah pikiran untuk memvisualisasikan rencananya.  Begitu cara guru saya mengajar.

 

PA: Bagaimana sekolah Anda di New Zealand?

WKJ: Kelas saya di New Zealand tidak besar karena saya mengajar di Eropa setengah tahun.  Di  New Zealand saya hanya punya murid yang sudahlama  berlatih dengan saya , mungkin10 tahun.  Mereka melatih pemula di sekolah mereka masing-masing. Saya katakan pada mereka bahwa mereka tidak harus melatih di bawah sekolah saya, mereka bisa pergi dan melatih. Ketika murid mereka sudah berlatih selama 3 atau 4 tahun dan benar-benar bersemangat, mereka bisa datang dan berlatih bersama saya.  Sebagai guru, ketika waktunya tiba, Anda harus membiarkan murid Anda pergi dan mengajar.  Karena ketika mereka mengajar, mereka memperoleh kemajuan.  Mengajar meruupakan tahapan belajar, kita juga bisa mendapat lebih banyak orang belajar Taiji. Saya tidak ingin organisasi, karena dengan organisasi mereka cenderung lebih banyak menghabiskan waktu bicara pollitik ketimbang berlatih dan mengajar!

 

PA: Saya dengar Anda menyukai tuishou, apakah menurut Anda tuishou sangat penting dalam berlatih Taiji?

WKJ: Ya,ini merupakan bagian yang sangat penting dalam latihan. Dalam jurus Anda berusaha untuk sinkron, seimbang, terhubung dan relaks tanpa adanya tekanan eksternal.  Dalam tuishou Anda mendapatkan tekanan tenaga eksternal.   Anda belajar untuk mendengarkan tenaga yang datang, lebih penting lagi Anda menyelaraskannya.  Anda kemudian bertanya pada diri sendiri, “Apa reaksi saya terhadap tenaga tersebut?”.

 

PA: Jika Anda harus mengukur latihan antara tuishou dan jurus, apakah Anda membaginya 50/50?

WKJ: Tidak. Saya akan menggunakan 2/3 dari waktunya untuk berlatih jurus, 1/3 tuishou. Kebanyakan orang melakukan sebaliknya.  Jurus adalah fondasi.  Apa yang Anda lakukan dalam jurus adalah sama dengan apa yang Anda lakukan dalam tuishou.

 

PA: Menurut Anda apakah tuishou perlu dikompetisikan?

WKJ: Saya tidak keberatan dengan kompetisi, selama prinsip-prinsip Taiji diikuti. Jika tuishou berubah menjadi gulat, menjadi adu tenaga, bukan prinsip Taiji. Dalam praktek tuishou saya kira kebanyakan orang hanya berpikir untuk mendorong, namun itulah produk tuishou.  Fondasinya adalah menerima. Belajar menerima tenaga. Jika Anda bisa menerima tenaga maka Anda bisa membawa tenaga tersebut ke tanah, dorongan itu menjadi netral. Itulah mengapa latihan tuishou, dalam latihan Taiji secara umum,jika Anda ingin bagus dalam Taiji Anda harus melepas kesombongan dan ego. Itu hal yang paling sulit. 100% yakin untuk tidak menggunakan tenaga kasar dan tidak mengalahkan orang lain namun mengalahkan diri sendiri.

 

PA: Apakah Anda berlatih dengan senjata?

WKJ: Di White Cranekami hanya menggunakan tongkat jalan.  Dalam sistem Taiji kami, kami punya tongkat, tombak dan pedang.

 

PA: Apa senjata favorit Anda?

WKJ: M16………….bukan, pedang.

 

PA: Apakah Anda sering berlatih senjata?

WKJ: Tidak, saya berlatih jurus. Jurus adalah tanah, pedang adalah air, tombak adalah api, golok adalah logam, tongkat adalah kayu. Semuanya berasal dari tanah. Senjata adalah perpanjangan lengan, maka semuanya kembali ke latihan dasar lagi.

 

PA: Kisah para master jaman dulu sangat mistis. Apakah menurut Anda kisah-kisah itu benar-benar terjadi?

WKJ: Ya. Saya percaya ada kebenarannya, namun setelah bertahun-tahun  dibesar-besarkan, seperti gosip di Cinas. Beberapa hal benar, beberapa hal yang lain barangkali mistis.  Para guru mestinya tidak memistiskan sesuatu. Fakta adalah fakta, kalau bukan fakta ya bukan fakta.  Ketika orang melihat rekaman video saya membuat orang mental-mental, mereka bertanya pada saya apakah itu betulan. Kemudian saya menjelaskan pada mereka, jika guru saya tidak punya ketrampilan tersebut, tentunya saya tidak akan menghabiskan empat tahun hidup saya bersamanya. Saya dulu mencoba menjelaskannya pada mereka, namun sekarang saya bahkan tidak ingin mencoba menjelaskannya.Saya katakan jika Anda mempercayainya sebagai kebenaran maka itu benar. Namun jika Anda tidak mempercayainya, maka itu tidak benar. Lebih baik saya menggunakan waktu untuk berlatih daripada membuangnya untuk menjelaskan pada orang-orang yang tidak bisa menerima kebenaran.

 

PA: Apakah menurut Anda Taiji sudah direndahkan selama bertahun-tahun?

WKJ: Saya melihatnya begini. Jika semua prinsipnya dijalankan maka itu adalah Taiji.  Jika prinsip-prinsipnya tidak ada maka itu bukan Taiji.  Beberapa orang mungkin hanya menginginkan senam, itu bagus. Namun Anda harus menjelaskan prinsip-prinsipnya pada mereka…..untuk berdiri tegak, dll. Apakah mereka datang hanya sekedar untuk senam atau tidak itu terserah mereka.

 

PA: Bagaimana Anda melihat kemajuan sekolah Anda beberapa tahun mendatang?

WKJ: Tujuan saya adalah menolong orang. Banyak orang tahu tentang Taij. Mereka tidak harus berlatih dengan saya, yang penting adalah mereka berlatih Taiji.  Jika Anda berlatih bela diri, harus latihan yang yang bisa Anda jalankan sepanjang  hidup Anda. Tidak ada gunanya melakukan sesuatu yang Anda tidak bisa lagi melakukannya ketika Anda berusia 30 atau 40 tahun.  Jika,ketika Anda 60 tahun, Anda tidak bisa melakukannya berarti waktu yang Anda curahkan sebelumnya terbuang sia-sia. Selain itu, jika Anda berlatih bela diri atau latihan apa pun, Anda harus memilih latihan yang tidak mencederai Anda.  Jika mencedarai Anda,maka apa gunanya melatihnya?  Sejauh ini bagi sayakemajuan sekolah saya  tidaklah begitu penting.  Saya hanya senang berlatih, biarkan orang lain yang mengurusi sekolah saya.

 

PA: Menurut Anda apa syarat murid yang baik?

WKJ: Murid tidak boleh punya pendapatyang  bias.Ketika berlatih pikiran harus terbuka. Jika Anda melihat banyak gaya yang berbeda Anda tidak akan belajar apa-pa darinya, Anda akan mencari kesalahan mereka. Usahakan mellihat yang bagus dari gaya-gaya tersebut. Tidak masalah siapa yang mengajar di kelas, masuklah dengan konsep –apa yang bisa saya pelajari dari orang ini?  Selalu ada yang bisa kita pelajari. Ketika Anda bisa menemukan kesalahan berarti Anda memperoleh kemajuan. Paling tidak Anda tahu bahwa ada kesalahan. Jika Anda belum bisa menemukan kesalahan Anda,maka Anda belum meningkat.  Yang lebih penting,jika Anda menemukan kesalahan orang lain, tanyakan pada diri sendiri –apakah saya punya kebiasaan itu? Kemukdian koreksi diri Anda sendiri. Menurut saya penting bagi murid untuk terbuka. Selain itu, juga penting untuk tidak mengidolakan guru.

 

PA: Menurut Anda apakah hal itu banyak terjadi dalam bela diri?

WKJ: Ya. Saat Anda mengidolakan guru, apapun yang dikatakannya Anda ikuti tanpa berpikir.Pemujaan buta.Guru tidak boleh membiarkan murid mengidolakan dirinya. Jika guru punya murid yang mengidolakannya,dia terbawa perasaan, maka dia mulai mempercayai hal-hal yang tidak benar. Yang terbaik adalah realistis.  Jika Anda realistis, Anda terhubung, menyatu.

 

PA:  Menurut Anda apa syarat guru yang baik?

WKJ: Dalam buku saya, saya mengatakan bahwa guru yang baik tidak harus guru yang terkenal, atau guru yang telah menulis buku yang bagus. Guru yang baik harus bisa menjelaskan dan menunjukkan prinsip-prinsip,mengajar murid apa yang diketahui tanpa menyimpan rahasia. Jangan perlakukan murid sebagai budak karena “ini murid saya!”, ini bukan murid Anda, namun murid Taiji! Kebanyakan guru berusaha mengekang murid, Anda harus membiarkan mereka bebas.

 

PA: Anda mengajar workshop keliling Eropa, apakah workshop Anda cocok untuk pemula?

WKJ: Dalam workshop saya selalu mulai dengan latihan dasar. Sistemnya mempunya 5 gerakan atas dan bawah, kemudian jurus, selanjutnya tuishou. Ketika ditanya mengapa saya mengajar orang yang telah berlatih 2 tahun dan 10 tahun di kelas yang sama, saya mengatakan bahwa saya mengajarkan hal yang sama, namun apa yang mereka serap berbeda.

 

PA: Jadi jika ada orang dengan pengalaman 10 tahun, apakah masih bisa mendapatkan sesuatu dari workshop?

WKJ: Anda harus memahami dasar dari sistem Anda. Jika Anda tidak memahami dasar-dasarnya, maka Anda tidak memahami cara menjalankan jurus atau melakukan tuishou. Cara Anda melakukan latihan dasar dan tuishou adalah sama, jika semuanya berbeda maka tidak nyambung.  Seperti akan belajar Bahasa Inggris, belajar ABC, kemudian menyusun kata-kata, kemudian kalimat, lalu esei.  Anda tidak pergi ke kelas Bahasa Inggris untuk belajar ABC, menulis dalam Bahasa Jerman dan berbicara dalam Bahasa Cina……tidak masuk akal!

 

PA:  Bisakah Anda memberi saran untuk mereka yang baru memulai perjalanan bela diri mereka?

WKJ: Saya kira sebagai pemula Anda harus pergi ke banyak tempat untuk melihat-lihat, namun suatu saat Anda harus membuat keputusan untuk mengambil salah satu style yang Anda nyaman, dan mengikuti satu guru yang Anda percaya.  Jika Anda tetap menjalankan berbagai style yang berbeda-beda, ini seperti mencoba berbagai maskapai penerbangan yang berbeda untuk pergi ke tempat yang sama.  Selama guru mengikuti prinsip-prinsipnya, Anda akan sampai pada tujuan yang sama.  Sebagian membutuhkan waktu lebih lama, sebagian lagi lebih singkat, namun Anda akan sampai di tempat yang sama. Jika Anda mempelajari berbagai style yang berbeda, akhirnya Anda akan kebingungan.

 

PA: Menurut Anda apakah penting untuk berlatih di pagi hari?

WKJ: Keuntungan yang Anda dapatkan dari satu jam berlatih di pagi hari adalah sama dengan berlatih empat jam di siang hari.  Ini karena pikiran masih segar. Saya mulai jam  4 pagi dan berlatih tiga jam di pagi hari.  Saya tidur sekitar jam 9 atau 10 malam.

 

PA: Apakah ada kata-kata nasehat terakhir bagi praktisi Taiji?

WKJ: Anda tidak hanya belajar atau menjalankan jurus.  Anda harus memahami jurus. Bagaimana gerakan diciptakan, bagaimana memahami rahasia menerima adalah karya yang terbesar. Semuanya menjadi terhubung, ketika Anda melakukan tuishou, saya terhubung seperti spons.  Spons hanya masuk ke dalam sejauh Anda menekannya, maka ketika Anda melepaskannya, spons itu melepaskan juga. “Jangan hanya belajar gerakannya, pahami prinsip-prinsipnya “

 

Versi lengkap  artikel ini diterbitkan dalam UK magazine ‘Martial Arts Illustrated’ in 2004

Versi pdf nya bisa diunduh di https://www.taiji.org.uk/publications/

Studi Komparatif antara Tai Chi Gaya Yang Tradisional Yang Cheng Fu dan Gaya Yang Cheng Man Ching

February 13, 2017

Oleh Justin Meehan

 

Di bulan Juli, 1990 Taste of China seminar di Winchester, Va., America mendapat kesempatan langka untuk mempelajari Tai chi Chuan standar Gaya Yang dari Yang Zhenduo, anak laki-laki ketiga Yang Chengfu. Yang Zhenduo, yang berusia 65 tahun (pada tahun 1990), mulai belajar dari ayahnya, Yang Chengfu (1883-1936), ketika dia berusia 6 tahun, namun hanya menjalaninya selama empat tahun di bawah bimbingan ayahnya yang tersohor.  Namun demikian, dia juga belajar dari kakak-kakaknya dan barangkali juga dari murid-murid senior ayahnya.

 

Dalam seminar tersebut jelas bahwa Yang Zhenduo bermaksud mengajarkan jurus ayahnya tepat seperti yang diterimanya selama beberapa tahun dan dengan penekanan khusus pada pembenaran setiap dan masing-masing postur dengan foto dan gambar tinta gerakan ayahnya. Dalam permbandingannya dengan sumber-sumber ini, saya melihat hanya ada sedikit variasi yang bisa dijelaskan sebagai hasil dari praktek gaya keluarga atauk bahkan bisa merupakan usaha untuk sedikit membedakananya dari murid-murid ayahnya yang menonjol, seperti otoritas gaya Yang, Fu Zhongwen, yang sangat dihormati di kalangan praktisi Tai Chi di seluruh dunia.

Standardisasi

Namun pesannya jelas: sekarang bisa dinyatakan bahwa Gaya Yang dengan jelas sudah distandarkan sebagai satu jurus. Banyak praktisi Gaya Yang di Amerika yang akan dipaksa untuk mengakui bahwa jurus mereka agak berbeda dari yang asli. Beberapa praktisi secara berlebihan menekankan aplikasi potensial tersembunyi, sedangkan yang lainnya secara berlebihan telah menekankan pengalaman chikung pasifnya. Tidak masalah orang-orang ini pada tingkat tertentu menggunakan jurus untuk kepentingan mereka sendiri. Kendatipun demikian, mereka akan dipaksa menyadari bahwa mereka mempraktekkan suatu variasi dari Gaya keluarga Yang standar.

 

Sung

Dalam kasus gaya Cheng Manching yang belakangan ini disalahpahami sebagai Gaya Yang, seminar ini membuktikan bahwa tidak banyak kebingungan antara dua gaya internal ini. Pada kenyataannya, Yang Zhenduo menjabarkan panjang lebar untuk membedakan antara tipe gerakan yang ada dalam gaya Cheng Manching dan gaya ayahnya; dan dia membuatnya jelas bahwa dia ingin menekankan persyaratan penting gaya ayahnya. Perbedaan gaya ini bisa diringkas sebagai perbedaan penafsiran atas kata Mandarin “sung.” Bagi praktisi gaya Cheng Manching kata ini selalu mempunyai gagasan mengendap, kendor dan kosong. Namun demikian, Yang Zhenduo menekankan karakteristik membuka, merentang dan penuh.

 

Bagi Yang Zhenduo, gaya Cheng Manching nampak lemah dan roboh. Bagi praktisi gaya Cheng, gaya Yang mungkin nampak terlalu terentang atau eksternal.

 

Posisi

Dengan contoh spesifik, posisi depan gaya Yang bertujuan meluruskan kaki belakang bertentangan dengan tenaga yang digunakan pada kaki depan yang ditekuk, yang mendorong ke balik dorongan ke depan dari kaki.

 

Dalam gaya Cheng, kaki belakang ditekuk sehingga lutut kaki belakang mengantung dalam satu garis lurus ke bawah dengan bahu di sisi kaki belakang. Selanjutnya, gaya Cheng style tidak membiarkan adanya tegangan dinaamis antara kaki depan dan kaki belakang. Sebagai akibatnya, posisi gaya Yang jauh lebih panjang daripada posisi gaya Cheng. Selain itu, gaya Yang mendukung condong ke depan bagian tubuh atas di posisi depan. Dalam gaya Cheng tubuh atas dipertahankan dalam posisi tegak lurus dari lantai.

 

Berkaitan dengan posisi kaki belakang, gaya Yang membiarkan 30 persen berat badan tetap di kaki depan. Gaya Cheng mendukung mengosongkan berat atau kaki depan dan menyelesaikan transfer seluruh berat ke kaki belakang. Alasannya dalam gaya Yang ada dalam simbol yin/ yang (dua ikan). Tujuh puluh persen berat pada satu kaki merepresentasikan yang di dalamnya, yang juga mempunyai elemen yin, sementara 30 persen berat di kaki satunya merepresentasikan yin dengan elemen yang. Sebagaimana dengan posisi depan, gaya Yang mendukung adanya kontra ketegangan dinamis antara dua kaki, sementara dalam gaya Cheng tidak ada. Dalam kedua gaya tersebut tubuh bagian atas tegak atas bawah, tidak condong, melebihi kaki belakang.

 

Lengan

Perbedaan serupa ada dalam bentuk lengan. Lengan dalam gaya Yang terbuka dan terentang nampak diluruskan namun tidak lurus, sementara dalam gaya Cheng lengan dijaga lebih dari sudut 90 derajat pada siku. Dalam kedua gaya bahu mengendap, tidak naik, dan siku menunjuk ke bawah. Dalam gerakan lengan ke depan seperti menekan, mendorong atau memukul, rentangan gaya Yang membiarkan tangan melampaui kaki depan, sementara tangan gaya Cheng bergerak tidak lebih jauh dari kaki depan. Bentuk telapak tangan gaya Cheng, yang disebut “tangan wanita cantik,” adalah telapak tangan yang kendor tanpa tekukan di pergelangan tangan. Bentuk tangan gaya Yang ada di antara bentuk tangan dan bentuk sisi telapak “daun willow”, dengan pergelangan tangan ditekuk (pergelangan tangan mengendap atau “duduk”).

 

Gerak Kaki

Salah satu perbedaan penting antara gaya Yang dan gaya Cheng ada di gerak kaki. Dalam jurus gaya Cheng, praktisi mulai dengan sepenuhnya memindahkan berat badan dari satu kaki ke kaki yang lainnya dan kemudian melangkah dengan kaki yang kosong untuk membentuk kaki depan dalam arah yang baru. Kaki belakang kemudian berputar dengan sumbu tumit kaki belakang membuat sudut 45 derajat untuk mendukung posisi kaki depan yang baru.

 

Dalam jurus gaya Yang tidak ada pengaturan kaki belakang. Sebelum bergerak, kaki dasar yang baru diletakkan dalam posisi untuk menghilangkan keperluan pengaturan selanjutanya ataupun bersamaan dari kaki belakang, ketika merentangkan telapak tangan atau kepalan.

 

Selain itu, dalam urutan tendangan gaya Yang dan dalam gerakan “ayam emas berdiri satu kaki,” kaki yang mendukung hampir lurus, sementara gaya Cheng style mempunyai posisi lutut yang menekuk dan lebih dalam.

 

Peng

Sebagai hasilnya, dalam serangan posisi depan, gaya Yang nampak mengantungkan pada struktur biomekanik tubuh untuk memaksimalkan potensial membawa ke atas melalui tubuh tenaga mendorong dari tanah dan mengirimkan tenaga secara langsung ke titik kontak.

 

Secara perbandingan, gaya Cheng nampak secara sadar berusaha menjaga postur jurusnya tetap netral dan kendor di semua postur untuk dalam posisi berubah secara pasif dari posisi yang ke posisi yin untuk menetralisir. Saya percaya postur gaya Yang menekankan peng atau posisi pendukung dalam setiap postur dan di semua bagian tubuh utama yang terlibat dalam postur tersebut. Selain itu, bahwa gaya Cheng mengendorkan posturnya ketimbang merentangnya agar lebih peka terhadap variasi atau perubahan paling kecil dari respon lawan, yang menekankan netralisasi atas tenaga peng.

 

Menurut Yang Zhenduo, delapan tenaga (yang dikenal sebagai peng, lu, ji, an, cai, lie, zhou dan kao) dan lima arah (maju, mundur, putar kanan, putar kiri, dan menjaga tengah) disatukan dalam setiap gerakan jurus, setidaknya secara potensial. Ini tidak mungkin tanpa adanyanya peng dan stabilitas pusat. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa aspek peng diekspresikan dengan lebih jelas dalam gaya Yang dan tersembunyi dalam gaya Cheng.

 

Yang Zhenduo terus menerus menguji bentuk yang tepat dan posisi akhir dari postur jurus praktisi dengan memberi tekanan kepada bentuk postur dan menekan posisi tangan praktisi di postur final. Misalnya, dalam postur mendorong, Yang menekan telapak tangan praktisi yang terentang untuk mengetahui apakah tubuh praktisi terkoordinasi dengan tepat. Nampak bahwa praktisi gaya Cheng akan lebih tertarik untuk memutar tubuh atau menetralisir tekanan tersebut, dengan menggunakan tenaga empat ons, daripada menciptakan perlawanan peng yang tidak bisa ditembus.

 

 Postur

Sementara sebagian besar orang mengetahui bahwa gaya Cheng adalah versi ringkas dan pengorganisasian kembali dari koreografi gaya, gaya Cheng juga telah mengubah cara bagaimana beberapa postur tertentu dilakukan.

 

Perubahan yang paling menonjol adalah dalam postur Cambuk Tunggal. Dalam gaya Cheng pinggul menghadap ke depan dan tangan “kait” belakang hanya sedikit di belakang pinggul kanan sekitar sudut 1O0 derajat dari telapak tangan depan. Dalam gaya Yang pinggul kanan dibuka ke luar (tantien menghadap kamera) dan kedua lengan mendekati sudut 160 derajat. Dalam gaya Cheng tantien menghadap ke depan searah dengan kaki kiri depan. Dalam gaya Yang lengan direntang, pergelangan tangan mapan dan ujung jari diangkat dengan telapak tangan terentang. Dalam gaya Cheng pergelangan tangan lurus dan siku kiri tidak terentang. Siku kiri gaya Yang terentang dan selaras dengan lutut kiri; dan kaki belakang ditekuk dalam gaya Cheng’s dan lurus dalam gaya Yang. (lihat di atas: Posisi)

 

Pinggul juga lebih terbuka dalam gerakan Peng dan Shan Tong Bi.

 

Cheng Manching mengakui mengubah gerak kaki dari urutan “mundur dan mengusir kera ” karena alasan kesehatan, dengan kaki melangkah mundur dalam formasi paralel.

 

Gaya Yang melangkah mundur menjadi posisi sempit 45 derajat dan kemudian mengatur kembali kaki bagian depan untuk menghadap ke depan. Gaya Cheng langsung melangkah ke belakang seperti kedua kaki berjalan di atas rel yang terpisah, dengan kedua kaki menunjuk ke depan selebar bahu. Tujuan melangkah yang tidak biasa itu terkait dengan membuka daerah tulang punggung bawah antara dan tepat di atas bokong sehingga “chi” dengan mudah mengalir ke atas. Tidak ada perubahan dari postur jurus standar Yang yand dilakukan dalam jurus gaya Cheng melanggar Tai Chi Klasik yang memuat prinsip fundamental tai chi chuan, jelas bahwa ada perbedaan gaya antara Gaya Yang dan Gaya Cheng.

 

Semangat

Dengan perbedaan pendekatan gaya substansial di antara keduanya, bisa juga dipahami bahwa cara dan semangat di mana kedua gaya ini dilakukan juga bervariasi. Sementara kedua gaya ini bergerak lambat dan berkelanjutan, penampakan mereka secara kualitatif berbeda dan bisa diamati.

 

Yang Zhenduo menunjukkan penampakan yang lebih menonjol bela dirinya, sementara gaya Cheng Manqing belakangan lebih diarahkan ke dalam dan ketenangan. Penampakan ini melampaui pengetahuan bahwa banyak foto dan film Cheng Manching diambil belakangan di kehidupannya ketika dia menjadi tua. Ini juga melampui tipe tubuh fisik Cheng Manching yang lebih ramping dibandingkan dengan penampakan yang lebih ramping Cheng Manching dalam perbandingan penampakan lebih kekar dan kuat dari Yang Zhenduo dan ayahnya.

 

Seperti disebutkan sebelumnya, keunggulan dari gaya Yang standar adalah keterbukaan, ekspansif dan bulat.

 

Juga ada penekanan besar oleh keluarga Yang family pada semangat tidak dalam pengertian spiritualitas sebagaimana yang kita pikirkan dalam tai chi chuan, namun lebih kepada pengertian semangat vitalitas dan semangat bela diri. Mengutip dari Klasik, Yang Zhenduo menekankan bahwa pikiran praktisi tai chi chuan harus pada semangat dan bukan pada “chi.” Dia mengatakan bahwa semangat dari jurus harus bisa dilihat dalam cara postur-postur jurus ditampilkan dan terutama di mata yang memainkannya, yang semestinya terbuka dan memanifestasikan semangat penampilan bela diri. Dia menambahkan bahwa mata harus mirip kucing yang siap menerkam tikus atau burung elang yang siap menyergap mangsanya.

 

 

Chi

Banyak praktisi tai chi chuan cenderung berkonsentrasi pada apa yang mereka persepsikan sebagai “chi.” Yang Zhenduo bersusah payah untuk memisahkan pendekatan gaya Yang dari apa yang mungkin dianggap sebagai pendekatan chikung, dengan mata yang sebagian besar tertutup dan melihat ke dalam. Dia dengan jelas menentang fokus yang diarahkan ke dalam, menyerahkannya pada bidang latihan chikung dan tidak mengganggu gaya Yang standar. Saya merasakan ekspresi dan semangat dalam presentasi Yang Zhenduo. Klasik menyatakan bahwa chi harus distimulasi. Yang Zhenduo mengatakan bahwa ini akan terjadi secara alami sebagaimana yang dibayangkan; ketika berlatih jurus kita harus benar-benar menghadapi lawan yang siap menyerang.

 

Aliran Cheng Manching mungkin akan mengingatkan kita untuk mempertimbangkan kalimat dalam Klasik yang disinggung di muka bahwa “semangat vitalitas harus disimpan di dalam.”

 

Nafas

Sementara masih membahas chi, latihan pernafasan (yang sangat erat hubungannya dengan chi) harus juga dibandingkan. Dalam kedua gaya tersebut pemula didorong untuk bernafas secara natural dan tidak begitu terfokus untuk “menyelaraskan gerakan dengan nafas “. Namun demikian, pada tahapan selanjutnya Yang Zhenduo menyatakan bahwa semua gerakan keluar seperti pukulan, dorongan, dan tendangan harus dibarengi dengan keluar nafas dan semua gerakan masuk harus dilakukan dengan tarik nafas. Ini ekspresi sangat alami ketika melepas tenaga.

 

Beberapa aliran gaya Cheng menyarankan kebalikannya. Secara psikologis saya percaya bahwa ini barangkali menunjukkan orientasi dari aliran Cheng yang lebih berorientasi ke dalam atau “yin” dan orientasi yang lebih keluar atau “yang dari aliran Yang.

 

Apakah lebih besar lebih baik?

Jelas bahwa gaya Yang dan gaya Cheng harus dipisahkan ketika membahas berbagai aliran tai chi chuan.

 

Apakah ini berarti bahwa gaya Cheng secara otomatis lebih rendah daripada gaya Yang? Saya katakan tidak. Gaya Cheng telah membuktikan haknya yang berbeda. Fakta bahwa penampakan luarnya berbeda tidak secara otomatis banyak berbicara tentangnya. Gaya “besar” Yang Chengfu nampak berbeda dari kakaknya, Yang Shaohou.

 

Sebelumnya seni keluarga Yang family dilakukan dalam gaya “kecil” oleh Yang Banhou dan gaya “medium” oleh saudaranya, Yang Jianhou, yang belajar dari ayah mereka, Yang Luchan.

 

Sebagaimana diketahui atau seharusnya diketahui setiap orang sekarang, Yang Luchan belajar seni ini dari keluarga Chen dan kemudian mengubah jurusnya agar lebih mudah dipelajari oleh orang lain.

 

Praktisi gaya Cheng dengan mudah menunjuk kata-kata dalam Tai Chi Klasik yang ditulis oleh Wang Chung Yueh bahwa orang harus mencara postur terbuka dan besar dulu, dan kemudian membuatnya lebih kecil dan lebih menyatu.

 

 Membela Gaya Cheng

 Yang ditawarkan gaya Cheng Manching adalah kesederhanaan, keringkasan dan menyatunya dengan tekanan pada pengendoran. Gaya ini lebih mudah diakses oleh orang tua atau yang kurang sehat, orang dengan keterbatasan waktu, dan pria atau wanita yang kurang suka dengan posisi besar dan terbuka. Dalam hal mengikuti urutan gaya Yang, gaya Cheng lebih dekat mengikuti gaya Yang ketimbang gaya 24 dari pemerintah Cina (yang lebih mirip memainkan urutan not musik ketimbang melodinya). Dan gaya Cheng ini tentunya merupakan salah satu dari gaya Tai chi chuan yang paling populer di Amerika Serikat.

 

Cheng Manching adalah salah satu dari sedikit master tai chi chuan yang diakui di Barat yang muncul dari aliran Yang Chengfu. Dan para muridnya, termasuk William C. C. Chen, Ben Lo, Abraham Liu, Robert Smith dan bahkan T. T. Liang, telah memperoleh rasa hormat dan tempat kehormatan dalam komunitas Amerika.

 

Kompetisi

Dalam hal kompetisi, Lenzie Williams harus diakui sebagai salah satu kompetitor tuishou yang paling penting di Amerika Serikat. Dia meraih posisinya ini bukan karena dia besar atau dia tahu teknik tuishou komptetitif tertentu. Berbicara dengan mereka yang pernah bertanding melawannya dan dalam bertuishou dengan dirinya, saya belajar bahwa ketrampilannya, seperti juga kepribadiannya, didasarkan antas kecerdasan, kepekaan, kelembutan dan dedikasi pada prinsip-prinsip tai chi. Dia merupakan bukti hidup dari kehebatan gaya Cheng dan membawa kehormatan besar bagi gurunya, Ben Lo, dan guru dari gurunya, Cheng Manching. Sementara gaya Cheng belum mengumpulkan banyak pujian dalam pertandingan jurus, ini mungkin lebih merupakan hasil dari kompetitior Cheng bertanding di bawah Divisi gaya Yang. Karena popularitas gaya Cheng style dan perbedaan yang menonjol antara gaya Yang dan gaya Cheng, saya menyarankan penambahan jurus-jurus gaya Cheng dalam lomba jurus Tai chi di masa depan.

 

Kepraktisan Beladiri

Dalam hal kepraktisan bela diri, William C.C. Chen, guru tai chi chuan pertama saya, mungkin telah melakukan lebih banyak hal ketimbang orang lain di Amerika untuk membuktikan efektivitas beladiri dari seni bela dirinya (yang walaupun tumbuh dari gaya Cheng telah berevolusi menjadi sesuatu yang unik dan original). Selain telah membuktikan keefektivan gayanyanya di “jalanan,” dia juga telah membuktikannya dengan para petintju gaya Barat. Apakah di gym atau di “jalanan,” sebagian besar petarung yang paling berhasil menyarankan posisi sempit dengan lutut ditekuk, seperti di dalam gaya Cheng. Selanjutnya, lengan dan kaki tertekuk menyimpan kekuatan potensial. Dengan demikian, pengikut gaya Cheng bisa dengan yakin membenarkan kepraktisan posisinya dari perspektif realistik. Menarik untuk dicatat bahwa William C. C. Chen juga menyarankan tekukan tubuh bagian atas ke depan sebelum melepas daya ledaknya.

 

Dua gaya, satu seni

Gaya Cheng style tidak sendirian dalam berevolusi menjadi gaya yang lebih menyatu dan tanpa bentuk. Gaya-gaya kerangka lebih kecil yang terkenal lainnya meliputi gaya Wu yang dihormati yang diciptakan oleh Wu Yuhsiang dan gaya Sun yang diciptakan oleh Sun Lutang. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa perbedaan gaya antara Yang dan Cheng hanyalah dua jalan yang berupaya mencapai tujuan yang sama. Kedua gaya ini membenarkan upaya mereka melalui syair-syair klasik; namun demikian, tiap gaya mempunyai interpretasi individualnya dan cara mengekspresikannya. Gaya Yang dan Cheng memang berbeda, namun keduanya sama-sama layak dihormati. Pada akhirnya keduanya adalah satu tai chi chuan.

 

Diterjemahkan dari

A Comparative Study between Traditional Yang Style Tai Chi of Yang Cheng Fu and Cheng Man Ching’s Yang Style http://www.taichiandqigong.com/yang_compare.php

Benjamin Pang Jeng Lo dan Lima Prinsip Taijiquan

September 22, 2016

Benjamin Pang Jeng Lo adalah salah satu murid Zheng Manqing yang paling menonjol.  Ben mulai belajar Taijiquan dengan Zheng Manqing di tahun 1949 di Taiwan.  Pada awalnya dia mencari Profesor Zheng Manqing untuk berobat, dan mulai belajar Taijiquan dengan alasan “untuk membuat tubuhnya lebih kuat sehingga bisa menyerap obat yang diberikan kepadanya.” Ben belajar Taijiquan dengan Zheng Manqing selama 26 tahun hingga akhir hayat sang profesor di tahun 1975.

 

Ben datang ke Amerika Serikat mengajar Taijiquan di tahun 1974, tinggal di San Fransisco dan mendirikan the Universal Association of Tai Chi Chuan, dan sejak saat itu telah melatih ribuan murid, yang banyak di antara mereka telah mendirikan sekolah Taijiquan mereka sendiri.

 

Berkat Ben beberapa buku penting Taijiquan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, di antaranya adalah:

  • The Essence of Tai Chi Chuan
  • Cheng Tzu’s Thirteen Treatises on Tai Chi Chuan karya Zheng Manqing
  • T’ai Chi Ch’uan Ta Wen: Questions and Answers on T’ai Chi Ch’uan karya Chen Weiming

 

Berikut adalah lima prinsip Taijiquan menurut Ben Lo.

  1. Kendorkan seluruh tubuh (全身放松 – quánshēn fàngsōng)
  2. Pisahkan kosong dan isi (分清虚实 – fēnqīng xūshí)
  3. Putaran dari pinggang (转动在腰 – zhuǎndòng zài yāo)
  4. Tubuh tegak (立身中正 – lìshēn zhōngzhèng)
  5. Tangan wanita cantik (美人手 – měirén shǒu)

 

Karena tidak ada penjelasan mengenai poin-poin tersebut di atas dari tulisan Ben Lo sendiri, penjelasan di bawah ini didasarkan pada sumber-sumber yang sudah dipublikasikan.

 

Kendorkan seluruh tubuh (全身放松 – quánshēn fàngsōng)

Seringkali prinsip ini diterjemahkan sebagai relax atau relaxation sebagaimana banyak ditemui dalam teks-teks berbahasa Inggris yang membahas hal ini.  Terjemahan dalam Bahasa Indonesia barangkali mengambil dari terjemahan Bahasa Inggris di mana Song diterjemahkan menjadi rileks atau relaksasi. Namun terjemahan ini kurang tepat menggambarkan istilah aslinya dalam bahasa Mandarin fangsong (放松) atau sering disingkat menjadi song (松) saja.  Menurut Ben Lo ini merupakan prinsip yang paling sulit. Rileks tidak sama dengan song karena rileks bisa berarti struktur tubuh rusak atau ambruk.  Song adalah seluruh tubuh kendor namun strukturnya tidak rusak.

 

Pisahkan kosong dan isi  (分清虚实 – fēnqīng xūshí)

Secara definisi Taijiquan adalah tinju atau bela diri yang didasarkan atas prinsip Taiji, dan prinsip Taiji itu sendiri adalah Yin Yang atau kosong isi. Konsep Yin Yang itu sendiri adalah bagian dari filosofi Cina yang jauh lebih tua dari Taijiquan. Namun demikian, konsep ini mewujud secara prinsip dan aplikasi dalam Taijiquan.  Pada tingkatan awal belajar Taijiquan, pemisahan kosong isi diwujudkan dalam perpindahan berat badan.  Dalam gerakan jurus Taijiquan, kecuali pada gerakan pembukaan dan penutupan, berat badan selalu ditopang oleh satu kaki, yang merupakan manifestasi dari pemisahan kosong isi.

 

Putaran dari pinggang  (转动在腰 – zhuǎndòng zài yāo)

Tidak bisa disangkal bahwa pinggang mempunyai peranan yang sangat penting dalam Taijiquan.  Dalam Taiji Klasik dikatakan bahwa pinggang adalah panglima, yang maksudnya adalah bahwa pinggang sebagai komando di mana kaki dan tangan tidak bergerak sendiri melainkan mengikuti gerakan pinggang.  Salah satu poin dalam Yang Chengfu’s Ten Essential Points adalah song yao atau pinggang kendor.  Dengan kendornya pinggang, tubuh jadi mudah bergerak dan energi bisa mengalir dengan lancar.

 

Tubuh tegak  (立身中正 – lìshēn zhōngzhèng)

Tubuh tegak artinya bahwa tubuh tidak boleh condong ke depan, ke belakang, atau ke samping, atau ke mana pun.  Tulang ekor dan titik di ubun-ubun harus lurus.  Keadaan seperti ini harus tetap dijaga ketika memainkan jurus Taijiquan, pikiran tenang dan diarahkan ke dalam, dengan demikian kestabilan postur bisa dijaga.

 

Tangan wanita cantik  (美人手 – měirén shǒu)

Bentuk tangan seperti wanita cantik ini merupakan salah satu ciri khas dari Zhengzi Taijiquan atau Taijiquan aliran Zheng Manqing, di mana lengan, telapak tangan, dan jari-jari membentuk garis lurus namun tetap kendor.  Ketika pergelangan tangan ditekuk terjadi ketegangan dan energi yang mengalir hanya sampai di pergelangan tangan. Tujuan pergelangan tangan harus lurus atau dalam posisi mei ren shou adalah untuk mengurangi ketegangan dan agar energi bisa mengalir sampai ke ujung jari.

 

Selain kelima prinsip tersebut di atas, ada satu hal lagi yang perlu diingat yaitu melakukan kelima prinsip tersebut di atas secara bersamaan dan sepanjang waktu.  (五项同时做到 – wǔ xiàng tóngshí zuò dào )

Mengenal Zhengzi Taijiquan

September 6, 2016

Taijiquan (Hanzi tradisional: 太極拳; Hanzi yang disederhanakan: 太极拳; Pinyin: tàijíquán; Wade-Giles: t’ai chi ch’üan) adalah sebuah bentuk seni beladiri dan senam kesehatan yang berasal dari Tiongkok. Ada berbagai aliran atau “gaya” dalam Taijiquan, yang pada dasarnya berasal dari satu akar dan konsep dasarnya hampir sama, namun bentuk gerakannya berbeda-beda, sehingga menambah khazanah pengetahuan para pecinta Taijiquan. Tulisan ini bermaksud sZedikit memperkenalkan salah satu varian dari Taijiquan, yaitu Zhengzi Taijiquan (Wade-Giles: Cheng Tzu T’ai Chi Ch’uan).

Zhengzi Taijiquan adalah Taijiquan yang dikembangkan oleh Zheng Manqing (Wade-Giles: Cheng Man-ch’ing). Jenis Taijiquan ini juga dikenal dengan nama Yang-Style Short Form, Yang-Style Simplified Form, atau Taijiquan 37. Taijiquan 37 merupakan penyederhanaan dari Yang-Style Long Form atau Taijiquan 108, di mana Zheng Manqing menghilangkan repetisi gerakan yang ada dalam Taijiquan 108 dan memberi penafsiran baru pada beberapa aspek seperti bentuk tangan dan posisi lebar kaki.

Karena keahliannya di lima bidang seni, yaitu Taijiquan, pengobatan, syair, melukis, dan kaligrafi, Zheng Manqing sering disebut sebagai Master of Five Excellences. Dari lima keahlian tersebut, yang paling disukai adalah Taijiquan. Zheng Manqing (1900 – 1975) belajar Taijiquan dari Yang Chengfu (1883 –1936) selama enam tahun dan mulai memperkenalkan Simplified Form 37 di tahun 1938, ketika dia menjabat sebagai Direktur di the Hunan Martial Arts Academy. Pengajaran bela diri di akademi tersebut adalah hal yang wajib, dan dalam upaya mempromosikan Taijiquan dia memutuskan untuk mengajarkan Taijiquan kepada para instruktur bela diri dari berbagai daerah dalam suatu pelatihan selama dua bulan. Karena jurus panjang tidak mungkin untuk diajarkan dalam jangka waktu yang sangat pendek, diciptakanlah Simplified form ini.

Di tahun 1949, Zheng Manqing pindah ke Taiwan. Sekedar untuk diketahui, Zheng Manqing adalah tabib pribadi Jiang Jieshí atau lebih dikenal dengan Chiang Kai-shek dan salah satu guru melukis Madam Chiang Kai-shek. Dia memulai Shih Chung Taiji Association di Taipei, di mana murid-muridnya yang kemudian terkenal berlatih dengan dia, seperti Benjamin Lo, William Chen, Huang Xingxian, Robert W. Smith, Liu Hsi-heng, Hsu I-chung, dr Qi Jiang Tao, dll. Di tahun 1964 di tinggal di Amerika. Zheng Manqing berjasa dalam memperkenalkan Taijiquan di Amerika Serikat. Di New York dia mendirikan dan mengajar di Shr Jung Taiji School, di mana dia dibantu oleh enam murid senior yang dikenal dengan “Big Six”: Tam Gibbs, Lou Kleinsmith, Ed Young, Mort Raphael, Maggie Newman, dan Stanley Israel. Di lingkaran berikutnya dikenal “Little Six” yaitu Victor Chin, Y Y Chin, Jon Gaines, Natasha Gorky, Wolfe Lowenthal, dan Ken VanSickle. Walau Zheng Manqing tinggal di Amerika Serikat, Shih Chung Taiji Association di Taipei masih terus dijalankan oleh murid-muridnya. Zheng Manqing adalah pioner yang memperkenalkan Taijiquan di dunia Barat di tahun 1960 an. Berawal dari Amerika Serikat dan Taiwan, Zhengzi Taijiquan mulai menyebar ke seluruh dunia. Saat ini Zhengzi Taijiquan berkembang di beberapa kota di Indonesia antara lain: Medan, Jakarta, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, dan Magelang.

Walaupun Taijiquan 37 sering disebut sebagai Yang-Style Short Form, Yang-Style Simplified Form, di mana secara otomatis diasosiasikan sebagai bagian dari Yang Style, dalam perkembangannya Taijiquan 37 ini adalah aliran tersendiri yang berada di luar aliran keluarga Yang. Penciptaan ini bukannya tanpa kontroversi. Penyederhanaan dari Yang Style Long Form secara resmi tidak pernah diakui oleh keluarga Yang. Namun demikian, Zheng Manqing tetap melanjutkan gagasan ini. Zheng Manqing menuliskannya dalam buku Thirteen Treatises dan menunjukkannya kepada Chen Wei-ming, kakak seperguruannya di bawah Yang Cheng-fu. Chen Wei-ming mendukung gagasan Zheng Manqing tersebut.

Ada beberapa hal yang menjadi ciri khas Zhengzi Taijiquan antara lain:
• Pergelangan tangan lurus, namun tetap kendor atau yang dikenal dengan istilah Mi ren shou (tangan wanita cantik)
• Kelebaran kaki lebih sempit
• Dalam kuda-kuda busur (Gong Bu), lutut kaki belakang ditekuk sedikit
• Ketika melakukan gerakan mundur Mengusir Kera (Dao Nian Hou), kedua kaki sejajar
• Tumit sebagai poros dalam sebagian besar perubahan kaki

 

Berikut nama-nama gerakan dalam Zhengzi Taijiquan:

No Hanzi Pinyin Terjemahan Indonesia
1 预备太极拳起式 yu bei tai ji quan qi shi Persiapan
2 揽雀尾 lan que wei Menarik buntut burung
(terdiri dari peng, lu, ji, an)
3 单鞭 dan bian Cambuk tunggal
4 提手 ti shou Mengangkat tangan
kao mendekat
5 白鹤亮翅 bai he liang chi Bangau putih membuka sayap
6 左搂膝拗步 zuo lou xi ao bu Mengusap lutut
7. 手挥琵琶 shou hui pi pa Berpain Pi pa
8. 左搂膝拗步 zuo lou xi ao bu Mengusap lutut
9. 进步搬揽捶 jin bu ban lan chui Maju, mengalihkan, dan memukul
10. 如封似闭 ru feng si bi Menarik dan mendorong
11. 十字手 shi zi shou Tangan bersilang
12. 抱虎归山 bao hu gui shan Memanggul harimau kembali ke gunung
13. 斜单鞭 xie dan bian Cambuk tunggal
14. 肘底看捶 zhou di kan chui Kepalan di bawah siku
15. 倒辇猴 dao nian hou Mengusir kera
16. 斜飞势 xie fei shi Terbang diagonal
17. 云手 yun shou Tangan awan
18. 单鞭 dan bian Cambuk tunggal
19. 蛇身下势 she shen xia shi Ular merayap
20. 金鸡独立 jin ji du li Ayam emas berdiri satu kaki
21. 左右分脚 zuo you fen jiao Tendangan ujung kaki
22. 转身蹬脚 zhuan shen deng jiao Berputar tendangan tumit
23. 左右搂膝拗步 zuo you lou xi ao bu Mengusap lutut
24. 进步栽捶 jin bu zai chui Melangkah maju memukul
25. 上步揽雀尾 shang bu lan que wei Melangkah maju menarik buntut burung
26. 单鞭 dan bian Cambuk tunggal
27. 玉女穿梭 yu nü chuan suo Wanita cantik memintal
28. 揽雀尾 lan que wei Menarik buntut burung
29. 单鞭 dan bian Cambuk tunggal
30. 蛇身下势 she shen xia shi Ular merayap
31. 上步七星 shang bu qi xing Melangkah maju menuju tujuh bintang
32. 退步跨虎 tui bu kua hu Mundur menunggang harimau
33. 转身摆莲 zhuan shen bai lian Memutar tubuh tendangan teratai
34. 弯弓射虎 wan gong she hu Memanah harimau
35. 进步搬揽捶 jin bu ban lan chui Maju, mengalihkan dan memukul
36. 如封似闭 ru feng si bi Menarik dan mendorong
37. 十字手合太极 shi zi shou he tai ji Penutup

Zhengzi Taijiquan adalah salah satu dari banyak varian Taijiquan yang ada dan berkembang.  Walau ada perbedaan dalam bentuk dan penafsiran, namun semua aliran Taijiquan mengikuti prinsip-prinsip yang sama yang telah diturunkan oleh para master dari zaman dahulu. Demikian sedikit uraian tentang Zhengzi Taijiquan.  Semoga bermanfaat.

Mungkinkah Berlatih Taijiquan tanpa Guru?

February 6, 2016

Dalam khasanah beladiri tradisional Cina hanya mereka yang berjodoh yang bisa belajar bela diri dari guru yang bagus. Dalam konteks belajar Taijiquan hal ini cukup rumit. Mencari orang yang menguasai Taijiquan sudah cukup sulit. Para pelatih yang bisa diakses publik dengan mudah, biasanya mereka yang mengajarkan Taijiquan untuk kesehatan, belum tentu menguasai Taijiquan yang benar, dan mereka yang mempunyai kualifikasi mengajar Taijiquan dengan lineage otentik belum tentu bersedia mengajarkannya. Ketika guru Taijiquan yang bagus sulit didapatkan, sementara hasrat berlatih sangat tinggi, pertanyaannya adalah mungkinkah berlatih Taijiquan tanpa guru.

 

Sebelum ada internet, sumber belajar Taijiquan di luar guru yang nyata adalah buku. Belajar gerakan Taijiquan lewat buku menggantungkan gambar ilustrasi yang ada di buku tersebut dan penjelasan teksnya. Seringkali gambar ilustrasi gerakan tersebut merupakan hasil akhir dari suatu proses gerakan tanpa ada penjelasan proses sebelumnya bagaimana. Kerumitan belajar lewat buku yang mengandalkan gambar ilustrasi bisa diatasi dengan adanya video dari CD atau pun dari internet. Buku dan video bisa membantu belajar atau berlatih Taijiquan, namun apakah mereka bisa menggantikan kehadiran seorang guru?

 

Di dalam buku Master Cheng’s New Method of Taichi Ch’uan Self-Cultivation, Zheng Manqing menceritakan ada seorang kawan lama yang mengunjunginya di tahun 1936 di Nanking dan memintanya untuk memberikan pelajaran Taijiquan untuk kesehatan. Zheng Manqing memilih dan mengajarinya lima postur: Peng, Lu, Ji, An, dan Dan Bian. Kemudian mereka berpisah dan tidak bertemu lagi sampai tahun 1939 di Szechuan. Kawan tersebut memainkan seluruh jurus Taijiquan dan meminta Zheng Manqing untuk mengkoreksinya. Zheng Manqing menanyakan ke kawan tersebut siapakah gurunya, dan kawan tersebut tertawa dan mengatakan bahwa Zheng Manqing adalah gurunya. Zheng Manqing mengatakan bahwa dia hanya mengajarkan lima postur, bukan seluruh jurus. Kawan tersebut mengatakan bahwa setelah berpisah dia mempelajari Taijiquan dari buku karya Yang Chengfu. Zheng Manqing terkesan dengan kemampuan kawan tersebut yang mampu mempelajari seluruh jurus berdasarkan beberapa jurus yang diajarkan.

 

Di dalam salah satu syair klasik Taijiquan, Song of Thirteen Postures, dikatakan bahwa untuk memasuki pintu dan ditunjukkan jalan, orang harus mendapatkan transmisi lisan, berlatih tanpa henti, dan menggali sendiri. Baris ini diartikan bahwa untuk mendapatkan pelajaran inti Taijiquan harus melewati seorang guru yang mumpuni. Dikatakan juga dalam syair klasik bahwa kesalahan sedikit bisa menyimpang jauh. Zheng Manqing dalam Thirteen Treatises of Cheng Tzu’s Tai Chi Chuan mengutip Yang Chengfu yang mengatakan bahwa kalau tidak ada yang memberi tahu dalam tiga kali kehidupan kita tidak akan bisa memahami Taijiquan.

 

Untuk belajar Taijiquan kondisi idealnya adalah adanya guru yang mengajari inti dari Taijiquan dan diperdalam lewat latihan dan pemahaman lewat buku-buku yang bagus. Namun dalam kenyataan ketika tidak seorang guru pun bisa ditemui dan tidak ada sumber belajar lainnya, jelas pintu belajar Taijiquan tertutup untuk saat ini. Mereka yang mempunyai kondisi seperti ini hanya bisa bersabar untuk terus mencari sumber belajar. Sementara itu ada orang yang sedikit lebih beruntung. Walau tidak mendapatkan seorang guru, mereka mempunyai sumber belajar pengganti guru yaitu buku dan atau video. Dalam prakteknya ada orang yang bisa belajar dan berlatih Taijiquan lewat buku dan video, dan bahkan ada pula cerita tentang orang yang bisa mengajarkan Taijiquan dan beladiri lain berdasarkan apa yang dipelajarinya lewat video. Tidak banyak orang yang bisa belajar Taijiquan secara mandiri, dan orang-orang ini membuktikan bahwa Taijiquan dimungkinkan untuk dipelajari secara mandiri, terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya. Namun tentu saja, mereka tetap disarankan untuk mencari guru untuk memastikan bahwa apa yang mereka pelajari selama ini berada di jalur yang benar.

Taijiquan – Seni Menerima

June 22, 2015

Artikel berikut ini adalah terjemahan dari artikel Taijiquan – The Art of Receving oleh Wee Kee Jin, yang diterbitkan oleh Tai Chi Union Of Great Britain dalam Tai Chi Chuan & Internal Arts Magazine (issue 23, Winter 2006/07)

Taijiquan – The Art of Receiving

Taijiquan tidak ada bedanya dengan latihan atau seni beladiri lain bila dilatih tanpa memahami prinsip-prinsipnya dan tanpa memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam gerakan. Tanpa memperhatikan beragam gaya Taiji atau bentuk, mereka semuanya didasarkan atas sekumpulan teks klasik Taiji. Teks-teks klasik itu adalah: Taiji Klasik Chang Sang Feng, Taiji Klasik Wang Ts’ung Yueh, Syair Tigabelas Postur, Memahami Tigabelas Postur, Syair tentang Substansi dan Fungsi, Syair tentang Tuishou dan, dalam aliran Yang, Sepuluh Poin Penting Keluarga Yang. Para praktisi seharusnya memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam gerakan, daripada mendalami gerakan untuk mencari prinsip. Untuk memasukkan prinsip-prinsip tersebut ke dalam gerakan, para praktisi harus secara terus menerus membaca dan memahami klasik dan, saat berlatih, pikiran harus ‘bertanya’ dan tubuh harus ‘menjawab’ (merespon).

Pondasi berlatih Taijiquan ada di dalam Bentuk Taiji (catatan penerjemah: Bentuk Taiji adalah terjemahan dari Taiji Form yang maksudnya adalah jurus Taiji). Dengan mengabaikan Bentuk Taiji dan hanya berfokus pada tuishou, adalah seperti mengolah fungsi (aplikasi) tanpa substansi (tubuh). Dengan mengenal diri sendiri dan mengenal lawan, kita akan unggul dalam tuishou. Mengenal diri sendiri bersumber dari latihan Bentuk Taiji, di mana kita belajar untuk rileks, seimbang, terhubung, dan sinkron tanpa tenaga eksternal yang mempengaruhi kita. Tenaga rileks Taiji diolah dan dibangun dalam latihan Bentuk Taiji.

Dalam klasik Chang Sang Feng dinyatakan, “Ketika bergerak, tubuh harus ringan, gesit dan yang paling penting adalah menyatu (sinkron)”. Untuk mencapai ini, zhong ding harus dijaga dalam posisinya, dalam perubahan dan saat melepas tenaga, baik dalam Bentuk Taiji dan dalam tuishou. Untuk menjaga zhong ding praktisi harus mengingat prinsip-prinsip berikut: Syair Tigabelas Postur”, Tarik tulang ekor dan jaga kesadaran di puncak kepala (titik meridian pai hui), tubuh akan menjadi gesit jika kepala dipertahankan seakan-akan tergantung dari atas. ”Taiji Klasik Wang Tsúng Yueh, “Jangan miring atau doyong. Berdiri seperti timbangan”. Hanya ketika zhong ding sudah dicapai, orang baru bisa bicara tentang perubahan dan relaksasi. Zhong ding merupakan pondasi Taijiquan. Ini merupakan salah satu dari ‘Tiga belas Postur’ Taiji dan dua belas postur lainnya semuanya harus mempunyai zhong ding di dalamnya.

Berlatih Bentuk Taiji bukanlah tentang apakah kita tahu seluruh Bentuk, ataupun diukur dari berapa banyak jumlah Bentuk atau gaya yang kita ketahui. Ini tentang memasukkan prinsip-prinsip ke dalam Bentuk dan memahami gerakan-gerakan di dalam Bentuk. Bentuk Taiji hanyalah satu alat bagi kita untuk memasukkan prinsip-prinsip dari Taiji Klasik ke dalam tubuh, dan pada akhirnya Bentuk ini harus menjadi tanpa bentuk karena setiap gerakan yang dilakukan harus mengandung prinsip-prinsip di dalamnya.

Selain memiliki prinsip-prinsip Taiji, praktisi juga harus memahami gerakan dalam Bentuk. Setelah belajar Bentuk keseluruhan praktisi harus memahami urutan perubahan yang melahirkan gerakan dan memahami urutan perubahan dalam hubungannya antara gerakan yang satu dan yang lain, dengan demikian, mencapai prinsip yang dinyatakan dalam klasik Memahami Tigabelas Postur, ”Ingat, simpan ini dalam hati, ketika bergerak setiap bagian tubuh bergerak, ketika diam setiap bagian diam”. Dalam postur lain dalam Bentuk Taiji, lengan, kaki dan tubuh mungkin dalam posisi yang berbeda dan mungkin kita menghadap arah yang berbeda, namun urutan perubahan dan apa yang terjadi di dalamnya adalah sama. Itulah sebabnya mengapa para master Taiji di masa lalu selalu mengatakan, ”ketika paham satu gerakan, paham semua gerakan”. Pada kenyataannya cara paling efektif melatih Bentuk adalah latihan postur tunggal.

Perubahan dalam gerakan apa pun selalu mulai dari bawah (kaki, pergelangan kaki, lutut, sendi paha) dan mengendorkan ketegangan dari betis dan otot paha. Bawah melahirkan gerakan tubuh (batang) – relaksasi dada dari dalam, bercampurnya sensasi otot tubuh dan pengendoran ketegangan dari punggung atas, tengah, dan bawah, melahirkan gerakan di punggung. Tubuh melahirkan gerakan lengan – mengendapnya bahu dan jatuhnya siku. Gerakan tubuh lahir dari kultivasi pikiran, maka kesadaran pikiran harus di dalam tubuh untuk mengimaginasikan dan memvisualisasikan gerakan tubuh terjadi. Setelah kultivasi lama gerakan akan mewujud. Gerakan bawah dan lengan hanya akan terhubung jika ada gerakan dalam tubuh, jika tidak gerakan tersebut hanyalah terkoordinasi.

Relaksasi dalam Bentuk Taiji: ada perbedaan antara relaksasi dan menjadi ‘lunak dan loyo‘. “Fang Sung” (relaksasi dalam Bahasa Mandarin) berarti ‘melepaskan’. Melepaskan apa?, melepaskan ketegangan apa pun yang tidak perlu dalam postur (tubuh) dan gerakan. Dalam Taiji kita menggunakan ketegangan minimum untuk menjaga postur dan gerakan, apa pun yang melebihi dari yang diperlukan kita anggap ketegangan. Dengan meningkatnya kesadaran tubuh demikian juga dengan kemampuan kita untuk melepaskan ketegangan yang tidak perlu. Ketika tubuh bagian atas menjadi lebih ringan dan bagian bawah menjadi lebih berat, ini merupakan tanda terjadi relaksasi. Pada akhirnya, tubuh atas menjadi yin dan bawah menjadi yang dan, ketika praktisi mencapai tingkatan tertinggi, hanya bagian kaki saja yang dan bagian tubuh lainnya adalah yin.

Mengendap: mengendap adalah proses mental dan sangat penting dalam praktek Taiji. Ini hanya bisa muncul setelah praktisi bisa relaks. Mengendap membangun akar dalam Taiji, memungkinkan praktisi untuk ‘meminjam energi dari bumi’. Mengendap juga merupakan latihan untuk menyalurkan tenaga yang datang ke tanah (menetralisasi internal) dalam tuishou. Mengendap harus mulai dari titik meridian Pai Hui (puncak kepala), dan ini untuk ‘menelan chi langit’. Ini harus melalui tubuh, tungkai dan kaki, melewati yongquan masuk ke dalam tanah.

Untuk meminjam energi dari bumi, praktisi harus memvisualisasikan kesadaran mengendap memantul dari tanah, bergerak melalui yongquan, melewati kaki, tubuh dan lengan, melewati titik meridian Lau Kung dan ke ujung jari. Ketika praktisi menguasai Bentuk Taiji, maka mereka akan mempunyai struktur untuk menerima tenaga dalam tuishou.

Tuishou: Di jaman dulu dikenal sebagai latihan ‘mengindra dan merasakan’, namun baru belakangan disebut Tuishou atau Tangan Mendorong. Frase Tangan Mendorong adalah frase yang sangat menyesatkan karena pada kenyataannya tidak ada hubungannya dengan mendorong dan tidak ada hubungannya dengan tangan. Kebanyakan tuishou Taiji yang kita lihat seperti pertandingan gulat, atau seperti adu kerbau, yang menggunakan tenaga kasar dan dengan demikian menyimpang dari prinsip-prinsip Taiji. Alasannya adalah bahwa satu orang ingin mendorong, dan yang lainnya tidak ingin didorong. Yang lebih besar menggunakan berat tubuh dan kekuatannya, sementara yang lebih kecil berusaha mempertahankan posisinya. Selalu dibutuhkan dua tangan untuk bertepuk!

Kita harus meneliti prinsip-prinsipnya, memahaminya dan kemudian melanjutkannya ke dalam praktek. Salah satu poin dalam Sepuluh Poin Penting Keluarga Yang mengatakan, “Gunakan pikiran, bukan tenaga kasar”, selama kita menggunakan pikiran kita, pintu tuishou Taiji terbuka bagi kita untuk masuk; jika kita masih ingin menggunakan tenaga kasar, ini seperti mengunci pintu dan berusaha masuk. Jika masih ingin menggunakan tenaga kasar, jangan belajar Taiji karena bahkan memiliki sepuluh kali kehidupan, tidak akan mencapai esensi Taiji.

Dalam Syair tentang Tuishou dikatakan, “Biarkan dia menggunakan tenaga kasar untuk menyerang” dan “Bimbing gerakannya dengan empat tael untuk menetralisir tenaga seribu kati”. Ini dengan jelas menunjukkan bahwa tenaga yang lebih besar tidak akan mendapat kesempatan bila dihadapi dengan menggunakan prinsip-prinsip Taiji.

Pondasi tuishou Taiji adalah menerima, bukan mendorong, dan bentuk tertinggi tenaga Taiji adalah Tenaga Menerima (jie jin), dan karena itu berlatih menerima harus dimulai dari awal. Profesor Cheng Man Ching mengatakan bahwa “Jika tidak siap menerima (tenaga yang datang) jangan belajar Taiji karena hanya akan membuang waktu dalam hidup secara sia-sia karena tidak akan mendapatkan esensi Taiji”. Dalam Taiji klasik Wang Tsúng Yueh dinyatakan, “Sehelai bulu tidak bisa ditambahkan, seekor lalat tidak bisa hinggap” dan dalam Sepuluh Poin Penting Keluarga Yang dikatakan, ”Saya bukan rak daging”. Semua poin ini menekankan bahwa kita harus menerima tenaga, tidak melawannya.

Dalam latihan tuishou tubuh harus mempunyai semua elemen yang ada dalam Bentuk Taiji. Kunci menerima adalah membuang diri (ego) dan investasi kerugian. “Investasi kerugian; rugi sedikit, untung sedikit, rugi besar, untung besar”, betapa indah kata-kata yang diungkapkan profesor Cheng Man Ching. Dengan menerima (memberi jalan) nampaknya kita rugi namun tidak demikian, karena orang yang mendorong sebenarnya memberi kita “uang Taiji”. Semakin dia mendorong dia semakin rugi dan semakin kita menerima kita menjadi semakin kaya. Ada saatnya ketika dia tidak lagi bisa mendorong kita (berarti secara Taiji dia bangkrut), pada saat itu barangkali kita bisa memberi dia bunga dari “uang Taiji” yang dia berikan! Pada awalnya latihan menerima bisa jadi bikin frustrasi karena kita terdorong terus berkali-kali. Begitu kita mengalami kemajuan kita mulai menyadari di mana kita macet, dan mengapa, namun kita masih terdorong karena kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun perlahan-lahan kita belajar untuk “mengurai” diri kita dan mengarahkan tenaga ke tanah. Menerima harus dilakukan dengan penerimaan total, dalam proses menerima jika kita punya sedikit niat atau pikiran untuk melawan, maka berarti menerima tanpa penerimaan total. Ketika kita menguasai seni menerima, kita akan bisa melakukan prinsip yang dinyatakan dalam Syair tentang Tuishou, “Tarik dia ke dalam kekosongan, kumpulkan tenaganya dan lepaskan”.

Menerima (memberi jalan dan menetralisasi) bukanlah menerima tenaga yang datang dengan tubuh karena tubuh mempunyai kapasitas terbatas untuk menyerap tenaga, namun menyalurkannya ke bumi, yang relatif mempunyai kapasitas tak terbatas. Proses menerima tenaga ke bumi mirip dengan proses mengendap dalam Bentuk Taiji kecuali bahwa proses ini mulai dari titik kontak [ketimbang pai hui].

Tubuh bagian atas adalah yin dan bagian bawah adalah yang, maka penyesuaian terhadap gerakan dan tenaga yang datang harus mulai dari bawah dan, sebagaimana dalam Bentuk Taiji, tubuh dan lengan mengikuti perubahan bagian bawah. Tangan digunakan hanya untuk menempel lawan, dan saat ada peluang untuk melepas tenaga harus dilepas melalui kaki dengan dua kaki tetap kokoh di bumi. Sebagaimana dinyatakan dalam Taiji Klasik Chang San Feng, “Akarnya di kaki, disalurkan melalui tungkai (tenaga relaks), dikontrol oleh pinggang (arah) dan diekspresikan ke dalam jari-jari”. Tidak peduli betapa besar atau kecil melepaskannya, tangan tidak pernah melampaui ruang satu inchi (memanjang hanyalah akibat dari mengendapnya bahu).

Dalam tuishou, kita tidak mencari untuk mendorong atau merencanakan peluang untuk mendorong, kita hanya mengikuti perubahan lawan dan membiarkan dorongan terjadi dengan sendirinya. Jika ada keinginan mendorong, maka ada niat dan hasrat. ‘Pada prinsipnya semuanya didasarkan atas prinsip yin dan yang. Ketika yin mencapai ekstremnya akan menjadi yang dan sebaliknya. Dengan demikian ketika kita berpikir bahwa kita dalam posisi yang paling menguntungkan sebenarnya kita ada dalam proses menuju posisi yang tidak menguntungkan dan ketika kita dalam posisi yang tidak menguntungkan kita dalam proses menuju posisi yang menguntungkan. Selalu lebih baik untuk berubah dari posisi yang tidak menguntungkan menuju posisi menguntungkan, daripada sebaliknya. Ketika kita mencapai level tertinggi tuishou, tidak ada dorongan dari kita. Struktur tubuh kita adalah ruang kosong dan semua tenaga yang masuk ke dalamnya akan mengalir ke bumi dan memantul kembali kepada orang yang mengeluarkan tenaga tersebut. Ini level tertinggi tenaga Taiji, Tenaga Menerima, di mana praktisi menetralisasi tanpa menetralisasi dan mengeluarkan tenaga tanpa mengeluarkan tenaga. Untuk mencapai level ini orang harus bisa “Meninggalkan diri dan mengikuti orang tanpa beropini, ikuti hati dan pikiran dan membiarkannya menjadi wajar”.

Meminjam kata-kata professor Cheng Man Ching saat bicara tentang tuishou, “Ini adalah gagasan tanpa motif, tindakan tanpa hasrat. Betapa indahnya seni Taiji; tidak ada hubungannya dengan mendorong, semuanya adalah tentang menerima”. Sebagai praktisi Taijiquan kita harus jujur pada seni ini, tidak hanya berkotbah tentang prinsip-prinsipnya, namun juga mempraktekkan dan setia pada prinsip-prinsip tersebut. Taiji tidak sekedar latihan untuk kesehatan atau seni beladiri, yang paling penting Taiji adalah Dao (filosofi) kehidupan.

Wee Kee Jin, 2006.

Tiga Tidak Takut

March 27, 2015

 

Tiga Tidak Takut

 Cheng Man-Ch’ing

 Ada beberapa alasan mengapa orang mempunyai dorongan untuk mempelajari taichi sebagai suatu latihan. Orang yang sakit mempelajarinya untuk memperoleh kesehatannya kembali, orang yang takut diserang mempelajarinya untuk bela diri, dan orang yang penasaran dengan kelembutan mistis taiji mempelajarinya untuk mendapatkan pembuktian. Terlepas dari hal-hal ini, banyak orang belajar taiji karena sekedar mengikuti tren, mengikuti arus kebanyakan orang, dan kurang tekun. Diskusi saya tentang tidak takut ditujukan hanya bagi orang-orang yang mau berusaha.

Pertama: Jangan takut kerja keras. Jika takut kerja keras, Anda tidak akan mendapatkan kemajuan. Taichi Klasik mengatakan bahwa akar yang benar ada di kaki. Pemula bisa membangun akar dengan hanya meluangkan waktu tiga sampai lima menit, pagi dan malam, berdiri sepenuhnya di atas satu kaki. Kaki bergantian dan secara bertahap ditingkatkan waktunya, sembari mengendap lebih rendah. Kerja keras ini tidak hanya membangun akar, tetapi juga merangsang sistem kardiovaskular, yang bermanfaat bagi otak. Penting untuk mengendapkan qi di dantian, kedua kaki menempel di lantai, tanpa ada tekanan tenaga sama sekali. Ketika melatih Jin Ji Du li, keseimbangan bisa dibantu dengan menyentuh ringan kursi atau meja dengan jari tengah dan jari telunjuk. Setelah beberapa saat gunakan jari telunjuk saja. Ketika bisa berdiri tanpa bantuan, Postur Ti Shou atau Shou Hui Pi Pa bisa dipilih untuk melanjutkan latihan. Postur Dan Pian membangun membuka dan memanjang sementara postur Yu Pei Shih mengembangkan wu chi. Postur-postur ini penting untuk memahami bentuk dan aplikasi Taiji – maka jangan abaikan postur-postur ini.

Kedua: Jangan takut kalah. Prinsip fundamental dalam Taiji adalah: “Meninggalkan diri mengikuti orang.” Memberikan posisi mengikuti lawan sudah pasti rugi. Dalam Bab satu Thirteen Treatises saya mendiskusikan tentang pentingnya investasi kerugian – namun dimulai dari mana? Ketika mendengarkan lawan maju dan menyerang, kita tidak boleh menahan dan bahkan juga tidak boleh menyerang balik. Hanya tempel dan melekat pada dia, maka kita bisa memutar dan menetralisirnya. Kepekaan yang dibutuhkan untuk ini susah bagi mereka yang memiliki pemahaman kasar dan permukaan. Selain itu, pemula tidak mungkin menghindari kerugian dan kekalahan, maka ketika kita takut kalah tentunya kita juga tidak akan memulai. Jika kita ingin belajar, mulailah dengan investasi kerugian. Investasi kerugian menghilangkan keserakahan akan keuntungan semu. Keserakahan akan keuntungan kecil menyebabkan kerugian kecil, sementara keserakahan akan keuntungan besar menyebabkan kerugian besar. Sebaliknya investasi kerugian kecil membawa sedikit keuntungan, sementara investasi kerugian yang besar akan membawa keuntungan jangka panjang.

Orang yang pandai dan peka menyadari kesatuan bentuk dan fungsi. Dari mana kita mulai? Dengan gagasan Lao Tzu, perintah utama Taiji adalah: “Konsentrasikan Qi menjadi lembut dan muda.” Mengkonsentrasikan Qi menjadi lembut adalah satu-satunya metode untuk investasi kerugian – maka kita tidak akan takut kehilangan. Taiji Klasik mengatakan: “Biarkan lawan menyerang dengan sepenuh tenaga, saya akan mengalihkannya dengan tenaga empat ons.” Pada tingkat ini kita telah belajar aplikasi kelembutan.

Ketiga: Jangan takut kekerasan. Lao Tzu menggambarkan ornag-orang yang telah mengembangkan prinsip kehidupan dengan mengatakan: “Badak tidak punya tempat untuk disruduk, macan tidak merasakan cakaran, tentara tidak punya tempat untuk ditusuk.” Mengapa demikian? Karena mereka tidak takut kematian. Daripada memuji kekerasan badak, macan, atau senjata, Lao Tzu mengagungkan kelembutan yang mengatasi semua kekerasan. Ketika kita menembus prinsip-prinsip dasar Taiji, kita memilik semangat besar keberanian. Tidak ada yang bisa membahayakan kita, tidak badak tidak tentara, ketika kita membuang rasa ego diri. Ketakutan membuat tubuh dan jiwa kita tegang, dan membuat kita susah rileks – maka kemudian bagaimana kita bisa menjadi lembut? Jika kita tidak lembut, maka kita keras. Mencius meminta merawat Qi yang luas dan mengalir; Hsun Shih meminta untuk tetap tenang bahkan di depan bola salju. Secara bersamaan sentimen keduanya meniru gagasan Lao Tzu untuk mengkonsentrasikan Qi menjadi lembut. Maka tidak ada kekerasan yang menakutkan.

Sumber: Master Cheng’s New Method of Taichi Ch’uan Self-Cultivation, hal. 11-13

3 Level T’ai Chi Ch’uan Menurut Cheng Man Ch’ing

December 16, 2014

 

Di dalam buku Cheng Tzu’s Thirteen Treatises on Ta’i Chi Ch’uan, Cheng Man Ch’ing menjelaskan level dalam T’ai Chi Ch’uan. Paragraf-paragraf berikut ini adalah bagian dari Treatise ke sebelas dalam buku tersebut yang saya terjemahkan secara bebas.

Ada tiga level dalam Ta’I Chi Ch’uan yaitu: Manusia, Bumi, dan Langit. Level Manusia mengendorkan tendon dan memvitalisasikan darah; Level Bumi “membuka gerbang” sehingga ch’i bisa mencapai persendian; dan Level Langit melatih fungsi sensoris. Ketiga level tersebut masing-masing mempunyai tiga tingkat.

Level Manusia tingkat pertama mengendorkan tendon dari bahu ke jari. Tingkat kedua mengendorkan tendon dari persendian paha sampai “bubbling well” (titik di tengah telapak kaki). Tingkat ketiga mengendorkan tendon dari tulang ekor sampai ke ubun-ubun (ni wan).

Level Bumi tingkat pertama mengendapkan ch’i ke tan t’ien. Tingkat kedua menggerakkan ch’i ke bubbling well. Tingkat ketiga mensirkulasikan ch’i sehingga mencapai ubun-ubun.

Level Langit tingkat pertama adalah t’ing chin (mendengarkan tenaga). Tingkat kedua tung chin (mengerti tenaga). Tingkat ketiga adalah ketidakterbatasan.

 

Level Manusia

1. Teknik mengendorkan ligamen dari bahu ke pergelangan tangan

Jika ligamen bisa kendor, darah akan bersirkulasi dengan lebih baik. Urutannya adalah mengendorkan pergelangan tangan, kemudian siku dan bahu. Jangan menggunakan tenaga otot. Dari kelembutan itu sendiri perlahan-lahan kemajuan akan diperoleh. Semua ini didasarkan atas mencari lurus dalam lengkung. Bentuk bulat – tidak menekuk atau lurus. Tidak putus atau bolong, cekung atau cembung. Pada intinya kendorkan ligamen sampai ke ujung jari tengah.

2. Dari persendian paha sampai tumit

Tekniknya sama seperti sebelumnya. Bedanya pada pemisahan kosong dan isi pada kaki. Kaki harus menahan beban seluruh tubuh dan berbeda dari tangan yang bebas bergerak. Kebanyakan orang kurang memperhatikan kosong isi kaki. Bahkan sebagian praktisi bela diri mengabaikan hal dasar ini. Namun praktisi T’ai Chi Ch’uan harus menempatkan berat badan mereka pada satu kaki dan memindahkannya ke kaki yang lainnya tanpa menggunakan tenaga otot. Dari persendian paha ke lutut hingga tumit – ketiganya harus kendor. Berat bertumpu pada telapak kaki di tanah. Seperti juga tangan, kosong isi kedua kaki harus dipisahkan. Namun demikian, tangan dan kaki harus berlawanan. Jika kaki kanan isi, maka tangan kanan juga isi dan sebaliknya. Jika kaki kiri kosong, maka tangan kiri kosong. Kosong isi antara kaki dan tangan bersilangan. Jika tidak bersilangan maka terjadi apa yang disebut dengan beban ganda (double weight).

3. Dari tulang ekor ke ubun-ubun

Tekniknya masih sama seperti di atas. Tulang belakang dengan banyak ruasnya merupakan tulang utama dalam tubuh. Tulang belakang dirujuk sebagai “pinggang lunak yang bisa ditekuk sampai seratus kali seakan-akan tidak ada tulangnya.” Dari gambaran ini jelas bahwa tulang belakang harus lentur. Tulang belakang lentur karena ligamen. Yang paling penting adalah menjaga tulang ekor tegak dan kepala seakan-akan tergantung pada benang sutra.

 

Level Bumi

1. Mengendapkan ch’i ke tan t’ien

Ini merupakan dasar dari kultivasi ch’i. Tan t’ien berada dalam rongga perut 1.3 inch di bawah pusar, lebih dekat pada pusar daripada tulang belakang. Prinsip yang disyaratkan dalam mengendapkan ch’i adalah bahwa nafas harus halus, panjang, tenang, dan lambat. Perlahan-lahan tarik nafas ke tan t’ien. Ch’i tinggal bersama pikiran, dan dengan berjalannya waktu akan berakumulasi. Ini harus terjadi secara alami dan tidak bisa dipaksakan. Pada awalnya tidak mudah untuk menurunkan ch’i. Untuk menarik ch’i ke perut, bahu dan siku harus sedikit diturunkan. Kendorkan dada ke bawah dan sedikit naikkan punggung; kemudian arahkan ch’i ke tan t’ien. Jika menarik nafas terlalu cepat, ch’i akan naik, dan ini akan menyebabkan bahu naik dan dada mengembang, yang menimbulkan masalah.

2. Ch’i mencapai tangan dan kaki

Setelah ch’i mengendap di tan t’ien, perintahkan dengan pikiran dan arahkan ke persendian paha, kemudian ke tumit. Proses ini disebut “manusia sejati membawa nafas ke tumit.” Ch’i kemudian mencapai bahu, siku, dan pergelangan tangan. Semua persendian empat anggota badan menjadi terbuka. Kemudian ch’i turun ke titik “bubbling well” di telapak kaki dan naik ke lao kung di telapak tangan, bergerak menuju ujung jari tengah. Pada saat itu bisa dialami apa yang dikatakan dalam Klasik “pikiran menggerakkan ch’i dan ch’i menggerakkan badan.”

3. Ch’i bergerak melalui tulang ekor (wei lu) ke ubun-ubun (ni wan)

Hal ini merujuk pada ch’i melewati “tiga gerbang.” Ini merupakan permulaan koneksi antara meridian Jen dan Tu. Membawa ch’i ke tulang ekor adalah bagian yang paling sulit. Setelah sekian lama pada tahapan mengendapkan ch’i ke tan t’ien, tahapan tertentu di mana ch’i secara otomatis melewati tulang ekor akan dicapai. Ini tidak bisa dipaksakan atau usaha ini akan sia-sia dan menimbulkan masalah. Ketika ch’i melewati tulang ekor, ch’i akan menembus dan mendorong ke atas antara bahu menuju daerah kepala dan ke ni wan. Semuanya ini terjadi dengan cara yang sama – pertama-tama memasuki pintu dan kemudian secara perlahan mendekati Tao. Panjang umur dan kesehatan menjadi imbalan alami.

 

Level Langit

1. T’ing chin, Mendengarkan atau Merasakan Tenaga

Apakah Chin dan bagaimana kita bisa mendengarkannya? Ini adalah pertanyaan yang harus dipelajari praktisi dengan hati-hati. Chin berbeda dengan li (kekuatan otot). Transmisi rahasia mengatakan, “Chin berasal dari ligamen dan li berasal dari tulang.” Ini kebenaran yang dalam, namun para murid saat ini tidak melihatnya. Mereka berlatih sampai mati dan tidak pernah tahu apa Chin itu. Chin adalah chin karena berasal dari pembuluh darah yang mempunyai daya seperti pegas. Hanya lewat kelenturan lawan bisa ditempel. Saat kita menempel lawan, ch’i kita dan ch’i lawan terhubung. Melalui kontak ch’i ini upaya-upaya lawan bisa diantisipasi. Ini disebut t’ing. “Lawan bergerak sedikit, saya mendahuluinya,” sebagaimana yang dikatakan Klasik, didasarkan atas t’ing.

2. Mengerti Chin

Ada berbagai tingkatan tung chin dan t’ing chin: dalam dan dangkal, halus dan kasar. Jika lawan bergerak sedikit, saya bisa mendengar dan memahaminya. Ketika saya mengerti chin dia, maka saya bisa bergerak mendahuluinya. Timing dan posisi yang tepat tergantung saya bukan dia. Kemajuan ini dari dangkal menuju dalam. Tetapi dikotomi antara halus dan kasar lebih susah dijelaskan. Transmisi rahasia mengatakan, “Jika lawan bergerak sedikit, saya bisa mendengar dan memahaminya.” Bahkan gerakan yang paling kecil pun masih mudah diketahui. Jika kita bisa mendengarkan sebelum mereka bergerak maka kita telah mencapai tingkat pencerahan. Apa yang terjadi pada tingkatan ini adalah seperti ini: ch’i bergerak melewati ligamen, pembuluh darah, membran, dan diafragma, yang masing-masingnya menghasilkan empat jenis chin: yang bersifat defensif, menyembunyikan, siap menyerang, dan menyerang. Persendian bisa mengembang dan mengerut karena ligamen. Darah bersirkulasi karena pembuluh darah. Membran berada di antara otot dan membungkus ligamen dan tulang. Semua organ dalam berada di dalamnya. Diafragma berada di atas hati. Jika ch’i lawan berasal dari ligamen dan wajar, berarti dia defensif. Jika ch’i lawan berada di pembuluh darah, diketahui bahwa dia menyembunyikannya dan akan berubah. Jika ch’i lawan berada di membran dan naik ke permukaan, berarti dia siap menyerang. Jika ch’i lawan di dalam diafragma, dia sedang mengumpulkan ch’i dan dalam persiapan menyerang. Pada tingkat tertinggi tung chin (mengerti tenaga) ini, tidak ada yang lebih indah.

3. Tingkat Tak terbatas

Tahap pencerahan ini susah untuk dilukiskan. Di akhir Klasik dikatakan, “Melalui seluruh tubuh, i (pikiran) tergantung pada ching shen (spirit), bukan pada ch’i (nafas). Jika pikiran tergantung pada ch’i, akan menjadi mandeg. Jika ada ch’i, tidak ada li (tenaga luar). Jika tidak ada ch’i, ada baja murni.” Kata-kata ini sangat aneh. Kata-kata ini mengimplikasikan bahwa ch’i tidak penting, dan pada kenyataannya memang tidak penting. Ketika ch’i mencapai tingkat tertinggi dan menjadi energi mental, ini disebut kekuatan spiritual atau “kekuatan tanpa tenaga fisik.” Kemana pun mata berkonsentrasi, spirit mencapainya dan ch’i mengikutinya. Ch’i bisa menggerakkan badan, namun tidak perlu memerintahkan ch’i untuk menggerakkannya. Spirit bisa membawa ch’i bersamanya. Kekuatan spiritual ini disebut “kecepatan ilahi.” Dalam fisika, kecepatan digandakan oleh gaya. Potensinya tidak terbatas. Karena itu, kekuatan spiritual menjadi “kecepatan ilahi.”