Posts Tagged ‘Manfaat Tai Chi Chuan’

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk belajar Taijiquan?

January 11, 2017

Pertanyaan ini seringkali ditanyakan oleh mereka yang ingin belajar Taijiquan.  Pertanyaan yang nampaknya sederhana namun tidak bisa sekedar dijawab secara singkat dengan menyebutkan durasi waktu tertentu. Menjawab pertanyaan ini seperti ini seperti menjawab pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bisa menguasai bahasa asing.  Tentunya perlu dikualifikasi terlebih dahulu kemampuan bahasa asing seperti apa yang dimaksudkan.  Kalau untuk mempelajari beberapa kosa kata atau ungkapan sederhana sekedar untuk bersapa akan membutuhkan waktu yang singkat, namun apabila ingin meraih ketrampilan berbahasa yang bisa dipakai untuk menulis karya tulis dan melakukan presentasi ilmiah tentunya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama.  Seperti juga ketrampilan yang lain, Taijiquan bukanlah suatu ketrampilan yang ketika telah dikuasai kita bisa berhenti melatihnya tanpa kehilangan ketrampilan tersebut.  Namun jawaban yang bersifat analogi ini tentunya kurang memuaskan bagi mereka yang mengharapkan semacam perkiraan waktu definitif sehingga mereka bisa merencanakan komitmen waktu untuk belajar Taijiquan.

 

Waktu yang dibutuhkan untuk belajar Taijiquan tergantung pada apa yang dipelajari dan sejauh mana tingkat penguasaan materi tersebut.  Dalam sasana atau komunitas Taijiquan yang berorientasi pada kesehatan, di mana yang dipelajari adalah jurus atau bentuk luar Taijiquan, dibutuhkan waktu yang lebih singkat untuk belajar Taijiquan dibandingkan dengan komunitas Taijiquan yang berorientasi pada bela diri.  Untuk sekedar hafal urutan gerakan dari jurus paling pendek, misalnya jurus 8,  barangkali waktu 1-2 jam sudah cukup.  Untuk jurus yang lebih panjang, misalnya jurus 24, yang paling populer, bisa memakan waktu beberapa kali pertemuan.  Tentunya kecepatan belajar tergantung pada kecepatan pembelajar yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Namun demikian, perlu diingat bahwa hafal urutan gerakan dan bisa melakukannya tidak berarti sudah menguasai.  Menguasai Taijiquan mensyaratkan lebih daripada sekedar hafal urutan gerakan.

 

Barangkali jangka waktu yang ditempuh para master dalam berlatih Taijjiquan bisa dijadikan perbandingan.  Zheng Manqing belajar bersama Yang Chengfu selama enam tahun.  Namun demikian tidak ada informasi berapa jam sehari Zheng Manqng berlatih. Sementara itu, Wee Kee Jin, salah seorang master Taijiquan,  berlatih dengan gurunya, Huang Xingxian, selama empat tahun.  Kendatipun demikian, ukuran jangka waktu berlatih dalam jumlah tahun perlu ditelisik lebih lanjut.  Dalam satu wawancara di tahun 2004, Wee Kee Jin mengatakan bahwa dia tinggal bersama gurunya Huang Xingxian selama empat tahun, dan berlatih selama 7 hari seminggu, 8 jam sehari tanpa ada hari libur.  Dari sini nampaknya yang menentukan kualitas latihan adalah jumlah jam berlatihnya, bukan jumlah tahunnya. Kalau dihitung secara jam, Wee Kee Jin meluangkan waktu selama 8 (jam) x 365 (hari) x 4 (tahun) = 11.680 jam.

 

Kembali ke pertanyaan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berlatih Taijiquan, jawabannya nampaknya tergantung pada tujuan yang sebaiknya Anda tentukan sendiri dari awal.  Untuk sekedar bisa menjalankan jurus-jurus pendek barangkali beberapa jam belajar sudah cukup, namun untuk bisa menguasainya dalam arti memahami prinsip-prinsip Taijiquan dan bisa menerapkannya dalam praktek setidaknya dibutuhkan waktu beberapa tahun, dan tidak ada jaminan bahwa Anda sudah benar-benar menguasainya.  Banyak orang yang sudah berlatih Taijiquan bertahun-tahun, namun pencapaiannya masih belum optimal.  Menengok pengalaman Wee Kee Jin di atas, berapa jam sehari Anda berlatih secara terus-meneruslah yang akan menentukan penguasaan Anda, dan tentunya perlu di bawah bimbingan guru yang berkompeten. Yang perlu diingat adalah bahwa tidak ada batasan waktu dalam menghayati Taijiquan.  Berlatih sepanjang hayat akan membuat Anda semakin memahami dan semakin mencintai Taijiquan.

Taijiquan dan Kreativitas: Sebuah Pengantar

March 8, 2015

Catatan: Tulisan ini disampaikan dalam Workshop Menulis Ilmiah “Pembekalan dan Pendampingan Keikutsertaan PKM”, tanggal 8 Maret 2015, di Wisma Duta Wacana, Kaliurang, Sleman.

 

Taijiquan adalah seni hidup. Alih-alih seni bela diri, istilah seni hidup dipakai di sini untuk memberi makna yang lebih luas pada Taijiquan, di mana bela diri menjadi salah satu aspeknya. Sejarah Taijiquan mengindikasikan adanya kaitan yang erat antara Taijiquan dengan dunia seni. Selain ahli bela diri, para master di jaman dulu juga menguasai beberapa bidang seni seperti kesusasteraan dan kaligrafi. Selain itu, mereka menuliskan prinsip-prinsip Taijiquan dalam bentuk syair, atau yang dikenal dengan Taijiquan Klasik, yang masih dipelajari oleh para pembelajar Taijiquan masa kini.

Banyak manfaat dari Taijiquan yang bisa dipakai untuk meningkatkan kreativitas, seperti misalnya melatih fokus, menghayati saat ini, konsentrasi energi, ekonomi gerakan, ketenangan internal, pengembangan keseimbangan dan fleksibilitas tubuh, penyatuan pikiran, dan pengembangan disiplin. Untuk mendapatkan semua manfaat ini tentu saja dibutuhkan proses.[1]

Proses mempelajari suatu seni bisa dibagi menjadi dua bagian: penguasaan teori dan penguasaan praktek. Jika kita ingin menguasai Taijiquan sebagai suatu seni, tentunya kita perlu mengetahui apa itu Taijiquan dan prinsip-prinsipnya. Setelah kita mendapatkan segala pengetahuan tentang Taijiquan, tidak secara otomatis kita menjadi kompeten. Dibutuhkan banyak waktu untuk melatihnya agar pengetahuan dan praktek kita bisa menyatu menjadi suatu ketrampilan yang alami. Selain kedua hal tersebut, ada satu faktor lagi yang diperlukan untuk menjadi ahli dalam suatu seni, yaitu bahwa penguasaan seni itu menjadi tujuan utama, seakan-akan tidak ada hal lain yang lebih penting selain menguasai seni tersebut.[2] Nampaknya faktor ini yang membedakan pencapaian seorang master dari pencapaian rata-rata.

Chen Xiaowang mengatakan bahwa belajar Taijiquan seperti mendidik diri sendiri dari tingkat dasar sampai ke tingkat universitas. Tanpa menguasai yang dasar kita tidak akan memahami tingkat lanjut, dan tidak ada jalan pintas.[3] Sementara itu, Cheng Man-ch’ing mengingatkan kita untuk menghindari tiga kesalahan dalam berlatih Taijiquan: pertama, kurang tekun; kedua, serakah; ketiga, kurang sabar.[4]

Kalau kita ingin mendapatkan manfaat Taijiquan secara optimal untuk meningkatkan kreativitas ataupun untuk keperluan lainnya, barangkali pembelajaran ini akan memakan waktu sepanjang hidup kita. Namun sebagaimana kata Lao Tzu: Perjalanan satu mil dimulai dengan langkah pertama. Mari berlatih.

 

[1] Peter M. Wayne, PhD, with Mark L. Fuerst, The Harvard Medical Guide to Tai Chi: 12 Weeks to a Healthy Body, Strong Heart & Sharp Mind (Boston: Harvard Health Publications, 2013), p.251

[2] Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper, 2000), p.5

[3] Chen Xiaowang, The Five Levels of Taijiquan (London: Singing Dragon, 2012), p.7

[4] Cheng Man-Ch’ing, Master Cheng’s New Method of Taichi Ch’uan Self-Cultivation (Berkeley: Blue Snake Books, 1999), p.7-10