Posts Tagged ‘Teori Pembelajaran’

Mengapa Taijiquan susah untuk didiskusikan?

January 15, 2018

Ada banyak group Taijiquan di media sosial, terutama di Whatsapps group dan tentunya semua anggota groupnya adalah praktisi ataupun mereka yang punya minat pada Taijiquan. Namun demikian, kebanyakan anggota di group tersebut lebih suka memosting hal-hal yang tidak berhubungan dengan Taijiquan.  Suatu ketika timbul perdebatan yang memanas karena topik yang berbau politik di salah satu group tersebut, dan salah seorang anggota mencoba menghentikan ketegangan tersebut dengan mengatakan “mari kita kembali membahas Taiji.”  Tulisan ini tidak akan membahas mengapa  kebanyakan dari kita susah berdiskusi tentang perbedaan pandangan (politik) secara adem ayem, namun lebih kepada mencoba membahas mengapa kebanyakan anggota di group Taiji di media sosial enggan atau malas membahas atau berdiskusi tentang Taijiquan, sesuatu yang mestinya menjadi alasan mengapa group media sosial tersebut pada awalnya dibentuk.

 

Di dalam group Taijiquan tersebut biasanya ada beberapa anggota yang suka posting video atau artikel Taijiquan, dan ada beberapa yang berkomentar atau lebih sering merespon dengan emoji gambar jempol untuk menunjukkan bahwa video sudah dilihat atau artikel sudah dibaca.  Kalaupun ada diskusi biasanya juga diikuti oleh anggota yang itu-itu saja, dan dari observasi saya topik yang biasanya agak seru dibahas biasanya topik yang abstrak seperti “Qi” atau “Fajin,” dan sejenisnya.  Dari pengalaman bermedia sosial tersebut saya menarik kesimpulan bahwa nampaknya ada beberapa persyaratan untuk memastikan bahwa suatu diskusi tentang Taijiquan bisa berjalan dengan baik dan dengan demikian manfaat, selain silaturahmi, bisa didapatkan dari diskusi tersebut.  Setidaknya ada tiga hal persyaratan yang dibutuhkan agar diskusi Taijiquan bisa berjalan, yaitu adanya pengalaman berlatih, referensi atau pemahaman teori dan konsep, dan hasrat untuk berbagi.

 

Apabila orang tidak mengenal Taijiquan dan tidak mepunyai pengalaman berlatih tentunya susah untuk bisa berbicara tentangTaijiquan karena hal tersebut berada di luar wawasan dan pengalamannya.  Namun bagi mereka yang belum pernah berlatih namun pernah membaca atau mendengar kisah tentang Taijiquan mungkin bisa bercerita sebatas apa yang diketahuinya. Diskusi tentang Taijiquan yang sehat sebaiknya dilakukan oleh mereka yang mempunyai pengalaman latihan dan pemahaman teori yang memadai.

 

Mereka yang praktek latihan dan pemahaman teorinya selaras tentu bisa bisa berdiskusi dengan mudah karena apa yang disampaikan sejalan dengan pengalamannya.  Tentu saja diskusi hanya bisa berjalan bila setidaknya ada dua orang yang telah berlatih dan memahami teorinya serta adanya hasrat untuk berbagi.  Namun demikian, perlu diingat bahwa diskusi Taijiquan hanyalah salah satu aspek dalam pembelajaran Taijiquan.

 

Penguasaan Taijiquan diperoleh melalui latihan yang teratur dan didukung oleh pemahaman teorinya.  Ada semacam dialektika antara latihan dan pemahaman teori.  Latihan semakin maju apabila didukung oleh teori, dan kebenaran teori dibuktikan dengan praktek latihan.  Berlatih saja tanpa memahami teori mungkin bisa memperoleh kemajuan, namun kemajuan akan dicapai dengan lebih cepat bila dibimbing oleh pemahaman teori.  Dan yang paling penting untuk diingat adalah untuk berlatih Taijiquan harus ada di bawah bimbingan guru. Dalam Taiji Klasik, The Song of Thirteen Postures diungkapkan bahwa “untuk memasuki pintu Anda harus dibimbing secara lisan.  Berlatih tanpa henti dan teknik dicapai melalui penelusuran diri.”

Advertisements

Level dan Siklus Pembelajaran dalam Berlatih Taijiquan

February 7, 2017

Ketrampilan apa pun, selain harus memperbanyak praktek dengan berlatih, juga harus mendalami teorinya.  Misalnya dalam membangun ketrampilan berbahasa asing, lebih spesifiknya ketrampilan berbicara, tentunya selain berlatih dengan berbicara dalam bahasa asing tersebut sebanyak mungkin harus dibarengi dengan memahami tata bahasa dan memahami fungsinya.  Seringkali orang salah konsep dan mengabaikan teori.  Masih dalam konteks membangun ketrampilan bicara dalam bahasa asing, ada sebagian orang yang melatihnya dengan melakukan percakapan sebanyak mungkin dan mengabaikan teorinya.  Barangkali orang tersebut bisa berbicara menggunakan bahasa asing tersebut dengan lancar namun dengan tata bahasa yang kacau atau bisa jadi dengan pengucapan kata yang keliru yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.  Agar bisa belajar atau membangun ketrampilan yang kita inginkan, kita perlu memahami teori-teori pembelajaran.  Tulisan ini akan membahas salah satu teori pembelajaran mengenai beberapa tingkatan belajar dan relevansinya dalam membangun ketrampilan Taijiquan kita.

 

Para ahli pembelajaran mengelompokkan level pembelajaran ke dalam beberapa tingkat, yaitu: Unconscious incompetence, Conscious incompetence, Conscious competence, Unconscious competence, dan Mastery.  Kerangka ini adalah konsep yang bisa digunakan untuk melihat proses belajar secara umum.   Di sini kita akan menggunakan kerangka ini dalam konteks belajar Taijiquan.

 

Unconscious incompetence

Unconsious incompetence adalah keadaan ketika kita tidak tahu sama sekali tentang ketidaktahuan kita.  Ketika kita belum tahu apa itu Taijiquan atau bahkan tidak mengenalnya sama sekali, tentunya kita tidak merasa adanya kebutuhan untuk mempelajarinya.  Tahu saja tidak apalagi punya keinginan untuk mempelajarinya.  Singkatnya kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu.

 

Conscious incompetence

Ini adalah kondisi ketika kita mulai sedikit mengenal Taijiquan dan barangkali sudah mulai melatihnya namun belum bisa melakukannya dengan baik.  Ada banyak hal yang harus diingat dan dilakukan pada saat bersamaan yang membuat gerakan-gerakan kita kurang sinkron ketika menjalankan jurus, atau bahkan jurus pun belum hapal.  Ini adalah hal yang wajar bagi siapapun yang mempelajari ketrampilan yang baru.

 

Conscious competence

Kondisi ini adalah ketika kita sudah memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang yang kita pelajari, dalam hal ini Taijiquan, namun kita belum bisa melakukannya secara konsisten.  Barangkali kita sudah hapal jurus dan bisa melakukannya dari awal sampai akhir, namun gerakan kita masih putus-putus karena ketika melakukan satu gerakan kita harus berpikir tentang banyak hal seperti misalnya bagaimana posisi kaki, posisi tangan, gerakan pinggang, dll.  Ada banyak hal yang harus dipikirkan ketika melakukannya dengan sadar.

 

Unconscious competence

Di tingkat inilah penguasaan suatu ketrampilan terjadi.  Dengan meningkatnya pengetahuan dan bertambahnya jam terbang.  Ketrampilan yang kita latih sudah menjadi kebiasaan dan bisa kita munculkan kapan pun secara konsisten tanpa kita harus banyak mengingat langkah-langkah yang harus dilakukan.  Jurus Taijiquan sudah bisa dimainkan dengan memenuhi persyaratan postur fisik dengan cara yang kelihatannya tanpa upaya apapun.

 

Mastery

Tingkat ini adalah pencapaian puncak dari ketrampilan yang dibangun, di mana tidak hanya ketrampilan teknis yang dikuasai tanpa harus berpikir namun juga unsur estetika dan spiritual sudah masuk di dalamnya.  Di tingkatan ini bentuk luar sudah tidak begitu penting, karena prinsip-prinsip Taiji sudah menyatu secara jiwa dan raga.  Demikian konsep tingkatan belajar dalam konteks membangun ketrampilan Taijiquan.

 

Sebagaimana telah diungkap di awal tulisan ini, berlatih Taijiquan tidak bisa dilepaskan dari belajar teori Taijiquan.  Kemajuan berlatih berkaitan erat dengan pemahaman akan prinsip-prinsip Taijiquan yang tertuang dalam teks-teks klasik Taijiquan yang ditulis oleh para master dari jaman dahulu.  Teori Taijiquan hanya bisa dipahami oleh mereka yang sudah menjalankan latihan.  Meminjam konsep pembelajaran modern ada tiga fase yang merupakan siklus pembelajaran, yaitu knowledge, practice, meaning.

 

Proses pembelajaran selalu dimulai dengan mengetahui apa yang akan dipelajari.  Dalam konteks belajar Taijiquan, dengan munculnya minat untuk belajar dan mulai berlatih Taijiquan, kita bergerak dari level unconscious competence ke level conscious competence.

 

Dari latihan atau praktek menjalankan gerakan-gerakan Taijiquan, kita mulai memiliki ketrampilan Taijiquan.  Kalau sekedar memiliki pengetahuan atau teori, namun tidak bisa melakukan prakteknya, tentunya kita belum bisa dianggap memasuki fase kedua dari siklus pembelajaran, yaitu fase practice atau praktek/latihan.

 

Manusia adalah mahluk yang selalu mencari makna tentang apa pun yang dilakukannya.  Setelah menjalani fase pertama dan kedua, tentunya kita kita akan mendapatkan pengalaman dari proses belajar baik secara teori maupun praktek.  Ketika dalam prosesnya kita merasakan bahwa apa yang kita alami sesuai dengan tujuan, kita akan memaknai latihan Taijiquan sebagai sesuatu yang positif, yang pada gilirannya akan membuat kita semakin bersemangat dalam berlatih dan siklusnya kembali berputar ke fase awal pada tataran yang lebih tinggi dan begitu seterusnya.  Sebaliknya, apabila yang muncul adalah pengalaman dan pemaknaan negatif, tentunya siklus pembelajaran akan terhenti, dan tidak ada lagi yang perlu dibahas tentang Taijiquan, dalam bahasa praktisi Taijiquan tradisional artinya kita tidak berjodoh untuk mempelajari Taijiquan.