Posts Tagged ‘Yang Cheng-fu’

Kisah Para Master: Beberapa Kejadian dalam Keluarga Yang

August 17, 2017

Ketika kakek dari guru saya, Yang Lu-ch’an, pertama kali berjalan memasuki  istana pada Dinasti Ching, dia diserang dua ekor anjing.  Kedua anjing tersebut menggigit kakinya, dan kemudian dengan suara yang aneh melarikan diri.  Tuan Yang tidak memperhatikannya dan mengikuti para kasim dengan senyum tenang.  Para kasim kagum dengan ketenangannya.  Belakangan diketahui bahwa kedua anjing tersebut tidak mau makan pada malam itu.  Rupanya gigi anjing-anjing tersebut patah waktu menyerang, karena begitu kuatnya kaki Yang.

****

Di saat yang lain, paman tertua guru saya Yang Pan-hou – anak tertua Yang Lu-ch’an – sedang tidur di kebun pada suatu sore di musim panas sambil menunggu makan malam.  Seorang pembantu menyentuh tubuhnya untuk memberitahu bahwa makan malam sudah siap dan Yang, masih tertidur lelap, menendang pelayan yang sial tersebut hampir setinggi langit-langit rumah.

****

Di suatu pagi, ayah guru saya, Yang Chien-hou, anak ketiga Yang Lu-ch’an, didekati oleh seorang pelayan yang mengatakan bahwa ada tikus mati yang nyangkut di dinding kamar tidur.  Apakah tuan mengetahuinya?  Yang sejenak berpikir dan kemudian berkata: “Tikus tersebut pastinya berusaha mengambil kacang yang ada di kantong saya ketika saya tidur.  Saya pastinya telah menangkapnya dan melemparkannya ke dinding dengan kekuatan seperti itu sehingga nyangkut di dinding.

****

Suatu hari sekitar 30 tahun yang lalu, guru saya, Yang Ch’eng-fu, cucu Yang Lu-ch’an, dan saya sedang menyeberang di salah satu jembatan di Shanghai.  Seorang pria bertubuh besar dan gempal berjalan dengan cepat dan mendorong Yang dan tiba-tiba mundur beberapa kaki dan terjerembab.  Dia bangun dan menatab dengan marah pada Yang yang diam saja.  Nampaknya orang tersebut terkejut karena gagal menggeser Yang, dan kemudian pergi tanpa berkata-kata.

****

Saya, Man-ch’ing, menilai empat kejadian ini sebagai ilustrasi dari tindakan yang dilakukan tanpa upaya sadar apapun.  Klasik T’ai-chi Chu’an mengatakan bahwa saat orang memahami “menginterpretasikan energi” – secara perlahan orang sampai pada ranah supernatural.

Diterjemahkan dari buku karya Cheng Man-ch’ing berjudul T’ai Chi Ch’uan A Simplified Method of Calisthenics for Health and Self Defense, halaman 132 – 133

Advertisements

Kisah Para Master: Chen Kung dan Manuskrip Keluarga Yang

July 31, 2017

Banyak peristiwa menarik dalam sejarah Taijiquan.  Pada mulanya sejarah Taijiquan merupakan sejarah lisan di mana kisah-kisah di jaman dulu disampaikan dari generasi ke generasi.  Seringkali ada beberapa versi untuk peristiwa yang sama, dan ini adalah hal yang lumrah dalam sejarah karena menyangkut perspektif dan berada di posisi mana si pelaku ataupun saksi sejarah. Kita beruntung ketika ada yang menuliskan kisah-kisah dalam sejarah Taijiquan dan mempublikasikannya.  Dengan demikian, apa yang sebelumnya hanya diketahui oleh sedikit orang bisa diketahui lebih banyak orang dan bisa menjadi inspirasi untuk berlatih, mempelajari, dan mengeksplorasi Taijiquan.  Berikut adalah kisah tentang Chen Kung.

 

Sekitar tahun 1930, Chen Kung, saudagar kaya dan murid Yang Cheng-fu, mohon meminjam transkrip keluarga untuk semalam sehingga dia bisa membacanya untuk meningkatkan latihannya. Karena Chen murid yang berdedikasi dan setia, maka Yang Cheng-fu menyetujuinya, sepenuhnya menyadari bahwa satu malam akan sulit bahkan bagi pembaca cepat untuk menyelesaikan buku tersebut. Yang tidak diketahui Yang Chengfu adalah bahwa  Chen telah mengupah tujuh penyalin untuk bekerja semalaman menyalin seluruh buku. Setelah menghilang (sekitar tahun1932) dia beralih profesi dari saudagar menjadi tabib pengobatan Cina. Di tahun yang sama beberapa bagian dari manuskrip mulai muncul di berbagai jurnal, yang membuat keluarga Yang marah.

 

Belakangan, di tahun 1943, seluruh catatan salinan Chen muncul dalam bentuk buku dan penjualannya laris di seluruh Cina.  Ini semakin membuat marah keluarga Yang, yang kemudian meluncurkan buku mereka sendiri dengan klaim bahwa terbitan Chen adalah palsu dan bahwa karya mereka yang baru dan lebih kecil adalah materi asli. Chen, dalam gaya tipikal Cina, mengklaim bahwa bukunya berisi teorinya sendiri dan dia hanya menggunakan nama keluarga Yang untuk otentitasnya.

 

Kisah ini tertulis dalam buku Tai Chi Qi & Jin yang merupakan karya Chen Kung yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stuart Alve Olson.  T.T. Liang menceritakan kisah ini kepada Stuart Alve Olson, dan T.T. Liang mendengarkan kisah ini dari gurunya, Zheng Manqing, yang mendapatkan tuturan ini dari gurunya, Yang Chengfu.  Dengan testimoni lisan semacam ini, Stuart Alve Olson tidak yakin akan detail dari kisah ini, namun Master Jou Tsung-hwa mendapat konfirmasi kebenaran kisah ini dari Chen Kung sendiri ketika mereka bertemu di tahun 1976.  Dan cucu dari Chen Kung, Donald Chen, juga mengkonfirmasinya.

 

Terlepas dari permasalahan etika yang ditimbulkannya, ada sisi positif dari peristiwa ini.  Seandainya Chen Kung tidak mempublikasikan bukunya, keluarga Yang barangkali tidak akan mengeluarkan buku mereka sendiri, dan membuka apa yang sebelumnya menjadi rahasia keluarga.  Dengan demikian, masyarakat luas mendapatkan keuntungan karena mereka bisa mengakses dan membandingkan apa yang ditulis oleh Chen Kung dan apa yang ditulis keluarga Yang.  Dengan lebih banyak sumber belajar, tentunya pengertian kita tentang Taijiquan menjadi lebih baik.

Ungkapan Pengalaman oleh Dong Ying-jie

March 20, 2017

Terjemahan dari sebuah esei berjudul “Words of Experience” oleh Dong Ying-jie, salah satu murid utama dari Yang Cheng Fu, master generasi ketiga Taijiquan Keluarga Yang.

 

  1. Taijiquan adalah latihan seni bela diri internal. Kekuatan (strength) dihasilkan dalam tulang. Tenaga (power) disimpan dalam otot. Orang tidak perlu memiliki kulit yang keras dan otot yang tebal, namun yang dibutuhkan adalah “qi” yang mengendap dan tulang yang kuat. Karena itu, para pembelajar tidak perlu mengalami patah tulang dan cedera otot, lelah karena meloncat, namun hanya bergerak secara alami untuk mendapatkan tenaga potensial yang asli. Taijiquan adalah latihan untuk membangun power alami.

 

  1. Tiga poin utama: spirit, intensi, dan postur (kemiripan dengan nama-nama gerakan) harus ada di sana. Jika posturnya benar, maka spirit dan intensi di sana, dan kemajuan pesat akan didapatkan. Selain itu, setiap hari akan terasa berbeda. Pembelajar harus berusaha merasakan perbedaannya dengan sadar.

 

  1. Jika postur tidak benar, maka spirit dan intensi tidak ada di sana. Hasilnya akan seperti memasak panci kosong, bahkan setelah berlatih bertahun-tahun tidak akan mendapatkan hasil. Ada guyonan mengatakan bahwa berlatih Taiji selama sepuluh tahun tidak sebagus tiga tahun berlatih kungfu. Karena itu, untuk latihan Taijiquan yang bagus: pertama-tama harus rajin berlatih; dan kedua, perlu punya pemahaman yang baik. Selain itu, hasilnya tergantung pada kecerdasan, namun latihan yang keras bisa mengkompensasi kebodohan. Dengan demikian harus selalu mendorong diri sendiri untuk berlatih dengan keras.

 

  1. Pernafasan selama berlatih – bernafas secara alami. Jangan memaksakan bernafas dalam. Setelah banyak berlatih, Taijiquan Anda akan mencapai titik alami. Pada saat itu, napas secara otomatis  akan menjadi seimbang.

 

  1. Pada awalnya tiga belas gerakan Taijiquan adalah metode membimbing “Qi”. Membimbing berarti mengarahkan sirkulasi “qi” dan darah. Karena itu, ketika Anda menjalankan dengan baik membimbing, “qi” dan darah akan mempunyai keseimbangan yang baik. Semua sakit akan pergi, namun jangan salah memahami metode ini, dan berusaha sangat keras untuk mencapai keseimbangan. Jika Anda berlatih keras dan alami, Anda akan mendapatkannya ketika mencapai kematangan (ketika saatnya tiba).

 

  1. Kendorkan bahu dan jatuhkan siku artinya jangan menahan kekuatan di bahu. Jangan berusaha membuat tangan berat, namun bergeraklah dengan lembut dan ringan.

 

  1. Gantung puncak kepala, dan tarik anus. Untuk mengantung puncak kepala, kepala harus dijaga secara alami. Jika anus ditarik, “qi” akan naik secara otomatis dari sana. Untuk menarik tenaga, dada harus sedikit kosong, namun jangan menahan dada dan membungkuk.

 

  1. Setiap kali berlatih jurus, setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan. Yang pertama adalah mengendorkan otot. Yang kedua adalah mengatur postur. Yang ketiga adalah berkonsentrasi lebih banyak pada intensi dan semangat. Ketika Anda bisa menguasai semua gerakan, maka semangat akan muncul ketika Anda bergerak. Ketika Anda mencapai tahap ini kemajuan Anda akan menjadi lebih baik dan lebih cepat.

 

  1. Merasakan dan mengerti tenaga – Untuk belajar hal ini Anda harus banyak berlatih tuishou, maka Anda akan mendapat manfaat dari menempel (Zhan, Nian, Lian, Sui). Jika Anda tidak punya pasangan berlatih, Anda bisa selalu berlatih jurus dengan rajin, dan selalu menggunakan dua lengan untuk merasakan tenaga. Usahakan untuk membayangkan bahwa musuh sedang menyerang Anda, dan bagaimana cara Anda mengendalikannya. Jika Anda terus berlatih seperti itu dalam waktu yang lama, pasti Anda belajar tenaga juga.

 

  1. Ketika Anda melakukan tuishou, yang paling penting adalah mempelajari rasa tenaga, bukan berusaha menjatuhkan lawan Anda. Berusahalah untuk tidak membiarkan lawan menemukan center Anda, dan selalu kendalikan center lawan.

 

  1. Anda bisa berlatih Taijiquan ketika Anda sedang berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Metodenya adalah menggunakan pikiran untuk mensirkulasikan “qi”, dan menemukan rasa itu. Contohnya: rasakan perbedaan antara memegang cangkir dengan menggunakan tenaga, dan tanpa tenaga; rasakan perbedaan berjalan dengan langkah berat dan langkah ringan. Ketika Anda sedang berdiri tenang, berusahalah untuk merasakan perbedaan meluruskan kaki, dan menekuk kaki; satu kaki atau dua kaki di tanah.

 

  1. Di tahap-tahap awal berlatih Taijiquan Anda mungkin mengalami pegal-pegal otot, namun jangan kuatir karena ini akan lewat dan Anda akan merasa lebih baik nantinya.

 

  1. Langkah dasar belajar tuishou adalah mengerti tenaga. Ada banyak jenis tenaga yang berbeda seperti: tenaga menempel, tenaga mengikuti, tenaga internal, tenaga menghentikan, tenaga menggosok, tenaga lembut, tenaga mengencang, tenaga menahan, tenaga menyentuh, dan tenaga mendorong. Juga ada jenis tenaga seperti tenaga menembus tulang, tenaga mengguncang, tenaga keras, tenaga mendadak, tenaga sepersepulluh inchi, tenaga tembakan panah, dan tenaga datar. Pada umumnya berbagai tenaga tersebut di atas dipelajari dari rasa yang dibangun selama latihan. Sukar untuk belajar tenaga sendirian, namun lebih mudah dengan dua orang, karena orang hidup. Selain itu, Anda bisa menggunakan perasaan dan penyesuaian sendiri ketika Anda menggunakan tenaga. Tentu saja semua jenis tenaga dipelajari dan ditemukan dari gerakan tubuh. Jika Anda tidak mempunyai pasangan berlatih, Anda bisa belajar tenaga dari udara.

 

  1. Prinsip-prinsip Taijiquan: Akarnya di kaki; disalurkan dari kaki; dikontrol oleh pinggang; dan diekspresikan lewat jari. Ini merupakan prinsip menggunakan tenaga: jangan biarkan lutut melampaui jari kaki; jangan pernah merentangkan tangan melebihi hidung; jangan naikkan melebihi alis; dan jangan menekan ke bawah di bawah ulu hati. Semua ini adalah aturan-aturan tradisional. Jia Anda melanggar aturan-aturan ini, maka tenaganya tidak akan bagus. Variasinya dikendalikan oleh pinggang. Misalnya: Jika Anda mendorong seseorang ke kiri dengan tangan kanan menyamping, dan tangan Anda di atas hidung, maka tenaganya tidak akan ada. Namun jika Anda membiarkan dada kiri ditarik mundur sedikit, dan memutar pinggang Anda ke kiri sedikit, maka tenaganya akan ada di sana lagi. Maka variasi ini ada di dada, dan dikendalikan oleh pinggang, anda akhirnya muncul di jari-jari Anda. Jika seluruh tubuh relaks dan peka, maka tenaga yang kuat akan muncul di jari-jari.

 

  1. Manusia adalah binatang dengan indera. Contohnya: jika saya memukul seseorang dnegan kepalan saya, lawan pasti menggunakan tangannya untuk menangkis, atau menggerakkan tubuhnya untuk menghindari serangan. Ini reaksi alami manusia, namun benda mati akan berbeda. Satu contoh dari hal ini adalah kantung pasir yang digantung. Kantung ini tak bergerak tergantung di sana. Jika Anda memukulnya, kantung itu akan bergerak maju mundur. Cara bergeraknyanya mengikuti alur yang tetap. Jika Anda memukulnya ke kiri, kantung itu akan bergerak kembali ke kanan. Ini reaksi benda mati. Namun manusia berbeda, lawan akan mempunyai berbagai reaksi untuk satu pukulan. Karena itu, seorang petarung punya tiga kata: stabil, akurat, dan ganas. Jika saya tidak punya tiga kualitas ini, saya tidak bisa menggunakan tenaga. Jika saya bisa menggunakan tenaga, maka tenaga tersebut harus kuat. Maka, bagaimana agar bisa stabil, akurat, dan ganas? Pertama, Anda harus memiliki rasa. Kemudian, bagaimana bisa memiliki rasa? Jangan bergerak bila lawan tidak bergerak. Jika lawan bergerak, Anda mengikutinya dan menyelesaikan gerakan tersebut sebelum dia menyelesaikannya. Maka Anda harus bertarung dalam detik itu untuk menyelesaikan gerakan. Dengan demikian Anda tidak akan terkalahkan.

 

  1. Sebelum belajar Taijiquan, Kekuatannya mungkin tumpul. Setelah belajar Taijiquan seluruh tubuh kendor, dan dengan sirkulasi “qi” dan darah yang baik. Tetapi Anda harus membuang semua ketegangan saraf, dan menjaga kekuatan tumpul aslinya. Karena ketika Anda kendor, tenaga tumpul bisa diubah menjadi tenaga sebenarnya. Satu contoh dari kekuatan tumpul adalah apa yang disebut orang-orang sebagai tenaga bahu, karena kekuatannya ditahan di bahu, dan tidak dikendalikan oleh pinggang dan ditunjukkan pda jari-jari. Karena itu, tenaga tumpul adalah modal. Pengendoran adalah Metodenya. Jika Anda tahu metodenya, bahkan modal kecil bisa mencapai kesuksesan besar. Jika Anda tidak tahu metodenya, bahkan dengan modal besar Anda tidak bisa sukses. Itulah sebabnya mengapa jika Anda memahami prinsip Taijiquan, ini akan menguntungkan Anda untuk semua jenis olah raga.

 

Diterjemahkan dari Words of Experience by Tung Ying Chieh

Sumber: http://taichivancouver.com/words-of-experience-by-tung-ying-chieh/

Studi Komparatif antara Tai Chi Gaya Yang Tradisional Yang Cheng Fu dan Gaya Yang Cheng Man Ching

February 13, 2017

Oleh Justin Meehan

 

Di bulan Juli, 1990 Taste of China seminar di Winchester, Va., America mendapat kesempatan langka untuk mempelajari Tai chi Chuan standar Gaya Yang dari Yang Zhenduo, anak laki-laki ketiga Yang Chengfu. Yang Zhenduo, yang berusia 65 tahun (pada tahun 1990), mulai belajar dari ayahnya, Yang Chengfu (1883-1936), ketika dia berusia 6 tahun, namun hanya menjalaninya selama empat tahun di bawah bimbingan ayahnya yang tersohor.  Namun demikian, dia juga belajar dari kakak-kakaknya dan barangkali juga dari murid-murid senior ayahnya.

 

Dalam seminar tersebut jelas bahwa Yang Zhenduo bermaksud mengajarkan jurus ayahnya tepat seperti yang diterimanya selama beberapa tahun dan dengan penekanan khusus pada pembenaran setiap dan masing-masing postur dengan foto dan gambar tinta gerakan ayahnya. Dalam permbandingannya dengan sumber-sumber ini, saya melihat hanya ada sedikit variasi yang bisa dijelaskan sebagai hasil dari praktek gaya keluarga atauk bahkan bisa merupakan usaha untuk sedikit membedakananya dari murid-murid ayahnya yang menonjol, seperti otoritas gaya Yang, Fu Zhongwen, yang sangat dihormati di kalangan praktisi Tai Chi di seluruh dunia.

Standardisasi

Namun pesannya jelas: sekarang bisa dinyatakan bahwa Gaya Yang dengan jelas sudah distandarkan sebagai satu jurus. Banyak praktisi Gaya Yang di Amerika yang akan dipaksa untuk mengakui bahwa jurus mereka agak berbeda dari yang asli. Beberapa praktisi secara berlebihan menekankan aplikasi potensial tersembunyi, sedangkan yang lainnya secara berlebihan telah menekankan pengalaman chikung pasifnya. Tidak masalah orang-orang ini pada tingkat tertentu menggunakan jurus untuk kepentingan mereka sendiri. Kendatipun demikian, mereka akan dipaksa menyadari bahwa mereka mempraktekkan suatu variasi dari Gaya keluarga Yang standar.

 

Sung

Dalam kasus gaya Cheng Manching yang belakangan ini disalahpahami sebagai Gaya Yang, seminar ini membuktikan bahwa tidak banyak kebingungan antara dua gaya internal ini. Pada kenyataannya, Yang Zhenduo menjabarkan panjang lebar untuk membedakan antara tipe gerakan yang ada dalam gaya Cheng Manching dan gaya ayahnya; dan dia membuatnya jelas bahwa dia ingin menekankan persyaratan penting gaya ayahnya. Perbedaan gaya ini bisa diringkas sebagai perbedaan penafsiran atas kata Mandarin “sung.” Bagi praktisi gaya Cheng Manching kata ini selalu mempunyai gagasan mengendap, kendor dan kosong. Namun demikian, Yang Zhenduo menekankan karakteristik membuka, merentang dan penuh.

 

Bagi Yang Zhenduo, gaya Cheng Manching nampak lemah dan roboh. Bagi praktisi gaya Cheng, gaya Yang mungkin nampak terlalu terentang atau eksternal.

 

Posisi

Dengan contoh spesifik, posisi depan gaya Yang bertujuan meluruskan kaki belakang bertentangan dengan tenaga yang digunakan pada kaki depan yang ditekuk, yang mendorong ke balik dorongan ke depan dari kaki.

 

Dalam gaya Cheng, kaki belakang ditekuk sehingga lutut kaki belakang mengantung dalam satu garis lurus ke bawah dengan bahu di sisi kaki belakang. Selanjutnya, gaya Cheng style tidak membiarkan adanya tegangan dinaamis antara kaki depan dan kaki belakang. Sebagai akibatnya, posisi gaya Yang jauh lebih panjang daripada posisi gaya Cheng. Selain itu, gaya Yang mendukung condong ke depan bagian tubuh atas di posisi depan. Dalam gaya Cheng tubuh atas dipertahankan dalam posisi tegak lurus dari lantai.

 

Berkaitan dengan posisi kaki belakang, gaya Yang membiarkan 30 persen berat badan tetap di kaki depan. Gaya Cheng mendukung mengosongkan berat atau kaki depan dan menyelesaikan transfer seluruh berat ke kaki belakang. Alasannya dalam gaya Yang ada dalam simbol yin/ yang (dua ikan). Tujuh puluh persen berat pada satu kaki merepresentasikan yang di dalamnya, yang juga mempunyai elemen yin, sementara 30 persen berat di kaki satunya merepresentasikan yin dengan elemen yang. Sebagaimana dengan posisi depan, gaya Yang mendukung adanya kontra ketegangan dinamis antara dua kaki, sementara dalam gaya Cheng tidak ada. Dalam kedua gaya tersebut tubuh bagian atas tegak atas bawah, tidak condong, melebihi kaki belakang.

 

Lengan

Perbedaan serupa ada dalam bentuk lengan. Lengan dalam gaya Yang terbuka dan terentang nampak diluruskan namun tidak lurus, sementara dalam gaya Cheng lengan dijaga lebih dari sudut 90 derajat pada siku. Dalam kedua gaya bahu mengendap, tidak naik, dan siku menunjuk ke bawah. Dalam gerakan lengan ke depan seperti menekan, mendorong atau memukul, rentangan gaya Yang membiarkan tangan melampaui kaki depan, sementara tangan gaya Cheng bergerak tidak lebih jauh dari kaki depan. Bentuk telapak tangan gaya Cheng, yang disebut “tangan wanita cantik,” adalah telapak tangan yang kendor tanpa tekukan di pergelangan tangan. Bentuk tangan gaya Yang ada di antara bentuk tangan dan bentuk sisi telapak “daun willow”, dengan pergelangan tangan ditekuk (pergelangan tangan mengendap atau “duduk”).

 

Gerak Kaki

Salah satu perbedaan penting antara gaya Yang dan gaya Cheng ada di gerak kaki. Dalam jurus gaya Cheng, praktisi mulai dengan sepenuhnya memindahkan berat badan dari satu kaki ke kaki yang lainnya dan kemudian melangkah dengan kaki yang kosong untuk membentuk kaki depan dalam arah yang baru. Kaki belakang kemudian berputar dengan sumbu tumit kaki belakang membuat sudut 45 derajat untuk mendukung posisi kaki depan yang baru.

 

Dalam jurus gaya Yang tidak ada pengaturan kaki belakang. Sebelum bergerak, kaki dasar yang baru diletakkan dalam posisi untuk menghilangkan keperluan pengaturan selanjutanya ataupun bersamaan dari kaki belakang, ketika merentangkan telapak tangan atau kepalan.

 

Selain itu, dalam urutan tendangan gaya Yang dan dalam gerakan “ayam emas berdiri satu kaki,” kaki yang mendukung hampir lurus, sementara gaya Cheng style mempunyai posisi lutut yang menekuk dan lebih dalam.

 

Peng

Sebagai hasilnya, dalam serangan posisi depan, gaya Yang nampak mengantungkan pada struktur biomekanik tubuh untuk memaksimalkan potensial membawa ke atas melalui tubuh tenaga mendorong dari tanah dan mengirimkan tenaga secara langsung ke titik kontak.

 

Secara perbandingan, gaya Cheng nampak secara sadar berusaha menjaga postur jurusnya tetap netral dan kendor di semua postur untuk dalam posisi berubah secara pasif dari posisi yang ke posisi yin untuk menetralisir. Saya percaya postur gaya Yang menekankan peng atau posisi pendukung dalam setiap postur dan di semua bagian tubuh utama yang terlibat dalam postur tersebut. Selain itu, bahwa gaya Cheng mengendorkan posturnya ketimbang merentangnya agar lebih peka terhadap variasi atau perubahan paling kecil dari respon lawan, yang menekankan netralisasi atas tenaga peng.

 

Menurut Yang Zhenduo, delapan tenaga (yang dikenal sebagai peng, lu, ji, an, cai, lie, zhou dan kao) dan lima arah (maju, mundur, putar kanan, putar kiri, dan menjaga tengah) disatukan dalam setiap gerakan jurus, setidaknya secara potensial. Ini tidak mungkin tanpa adanyanya peng dan stabilitas pusat. Mungkin kita bisa mengatakan bahwa aspek peng diekspresikan dengan lebih jelas dalam gaya Yang dan tersembunyi dalam gaya Cheng.

 

Yang Zhenduo terus menerus menguji bentuk yang tepat dan posisi akhir dari postur jurus praktisi dengan memberi tekanan kepada bentuk postur dan menekan posisi tangan praktisi di postur final. Misalnya, dalam postur mendorong, Yang menekan telapak tangan praktisi yang terentang untuk mengetahui apakah tubuh praktisi terkoordinasi dengan tepat. Nampak bahwa praktisi gaya Cheng akan lebih tertarik untuk memutar tubuh atau menetralisir tekanan tersebut, dengan menggunakan tenaga empat ons, daripada menciptakan perlawanan peng yang tidak bisa ditembus.

 

 Postur

Sementara sebagian besar orang mengetahui bahwa gaya Cheng adalah versi ringkas dan pengorganisasian kembali dari koreografi gaya, gaya Cheng juga telah mengubah cara bagaimana beberapa postur tertentu dilakukan.

 

Perubahan yang paling menonjol adalah dalam postur Cambuk Tunggal. Dalam gaya Cheng pinggul menghadap ke depan dan tangan “kait” belakang hanya sedikit di belakang pinggul kanan sekitar sudut 1O0 derajat dari telapak tangan depan. Dalam gaya Yang pinggul kanan dibuka ke luar (tantien menghadap kamera) dan kedua lengan mendekati sudut 160 derajat. Dalam gaya Cheng tantien menghadap ke depan searah dengan kaki kiri depan. Dalam gaya Yang lengan direntang, pergelangan tangan mapan dan ujung jari diangkat dengan telapak tangan terentang. Dalam gaya Cheng pergelangan tangan lurus dan siku kiri tidak terentang. Siku kiri gaya Yang terentang dan selaras dengan lutut kiri; dan kaki belakang ditekuk dalam gaya Cheng’s dan lurus dalam gaya Yang. (lihat di atas: Posisi)

 

Pinggul juga lebih terbuka dalam gerakan Peng dan Shan Tong Bi.

 

Cheng Manching mengakui mengubah gerak kaki dari urutan “mundur dan mengusir kera ” karena alasan kesehatan, dengan kaki melangkah mundur dalam formasi paralel.

 

Gaya Yang melangkah mundur menjadi posisi sempit 45 derajat dan kemudian mengatur kembali kaki bagian depan untuk menghadap ke depan. Gaya Cheng langsung melangkah ke belakang seperti kedua kaki berjalan di atas rel yang terpisah, dengan kedua kaki menunjuk ke depan selebar bahu. Tujuan melangkah yang tidak biasa itu terkait dengan membuka daerah tulang punggung bawah antara dan tepat di atas bokong sehingga “chi” dengan mudah mengalir ke atas. Tidak ada perubahan dari postur jurus standar Yang yand dilakukan dalam jurus gaya Cheng melanggar Tai Chi Klasik yang memuat prinsip fundamental tai chi chuan, jelas bahwa ada perbedaan gaya antara Gaya Yang dan Gaya Cheng.

 

Semangat

Dengan perbedaan pendekatan gaya substansial di antara keduanya, bisa juga dipahami bahwa cara dan semangat di mana kedua gaya ini dilakukan juga bervariasi. Sementara kedua gaya ini bergerak lambat dan berkelanjutan, penampakan mereka secara kualitatif berbeda dan bisa diamati.

 

Yang Zhenduo menunjukkan penampakan yang lebih menonjol bela dirinya, sementara gaya Cheng Manqing belakangan lebih diarahkan ke dalam dan ketenangan. Penampakan ini melampaui pengetahuan bahwa banyak foto dan film Cheng Manching diambil belakangan di kehidupannya ketika dia menjadi tua. Ini juga melampui tipe tubuh fisik Cheng Manching yang lebih ramping dibandingkan dengan penampakan yang lebih ramping Cheng Manching dalam perbandingan penampakan lebih kekar dan kuat dari Yang Zhenduo dan ayahnya.

 

Seperti disebutkan sebelumnya, keunggulan dari gaya Yang standar adalah keterbukaan, ekspansif dan bulat.

 

Juga ada penekanan besar oleh keluarga Yang family pada semangat tidak dalam pengertian spiritualitas sebagaimana yang kita pikirkan dalam tai chi chuan, namun lebih kepada pengertian semangat vitalitas dan semangat bela diri. Mengutip dari Klasik, Yang Zhenduo menekankan bahwa pikiran praktisi tai chi chuan harus pada semangat dan bukan pada “chi.” Dia mengatakan bahwa semangat dari jurus harus bisa dilihat dalam cara postur-postur jurus ditampilkan dan terutama di mata yang memainkannya, yang semestinya terbuka dan memanifestasikan semangat penampilan bela diri. Dia menambahkan bahwa mata harus mirip kucing yang siap menerkam tikus atau burung elang yang siap menyergap mangsanya.

 

 

Chi

Banyak praktisi tai chi chuan cenderung berkonsentrasi pada apa yang mereka persepsikan sebagai “chi.” Yang Zhenduo bersusah payah untuk memisahkan pendekatan gaya Yang dari apa yang mungkin dianggap sebagai pendekatan chikung, dengan mata yang sebagian besar tertutup dan melihat ke dalam. Dia dengan jelas menentang fokus yang diarahkan ke dalam, menyerahkannya pada bidang latihan chikung dan tidak mengganggu gaya Yang standar. Saya merasakan ekspresi dan semangat dalam presentasi Yang Zhenduo. Klasik menyatakan bahwa chi harus distimulasi. Yang Zhenduo mengatakan bahwa ini akan terjadi secara alami sebagaimana yang dibayangkan; ketika berlatih jurus kita harus benar-benar menghadapi lawan yang siap menyerang.

 

Aliran Cheng Manching mungkin akan mengingatkan kita untuk mempertimbangkan kalimat dalam Klasik yang disinggung di muka bahwa “semangat vitalitas harus disimpan di dalam.”

 

Nafas

Sementara masih membahas chi, latihan pernafasan (yang sangat erat hubungannya dengan chi) harus juga dibandingkan. Dalam kedua gaya tersebut pemula didorong untuk bernafas secara natural dan tidak begitu terfokus untuk “menyelaraskan gerakan dengan nafas “. Namun demikian, pada tahapan selanjutnya Yang Zhenduo menyatakan bahwa semua gerakan keluar seperti pukulan, dorongan, dan tendangan harus dibarengi dengan keluar nafas dan semua gerakan masuk harus dilakukan dengan tarik nafas. Ini ekspresi sangat alami ketika melepas tenaga.

 

Beberapa aliran gaya Cheng menyarankan kebalikannya. Secara psikologis saya percaya bahwa ini barangkali menunjukkan orientasi dari aliran Cheng yang lebih berorientasi ke dalam atau “yin” dan orientasi yang lebih keluar atau “yang dari aliran Yang.

 

Apakah lebih besar lebih baik?

Jelas bahwa gaya Yang dan gaya Cheng harus dipisahkan ketika membahas berbagai aliran tai chi chuan.

 

Apakah ini berarti bahwa gaya Cheng secara otomatis lebih rendah daripada gaya Yang? Saya katakan tidak. Gaya Cheng telah membuktikan haknya yang berbeda. Fakta bahwa penampakan luarnya berbeda tidak secara otomatis banyak berbicara tentangnya. Gaya “besar” Yang Chengfu nampak berbeda dari kakaknya, Yang Shaohou.

 

Sebelumnya seni keluarga Yang family dilakukan dalam gaya “kecil” oleh Yang Banhou dan gaya “medium” oleh saudaranya, Yang Jianhou, yang belajar dari ayah mereka, Yang Luchan.

 

Sebagaimana diketahui atau seharusnya diketahui setiap orang sekarang, Yang Luchan belajar seni ini dari keluarga Chen dan kemudian mengubah jurusnya agar lebih mudah dipelajari oleh orang lain.

 

Praktisi gaya Cheng dengan mudah menunjuk kata-kata dalam Tai Chi Klasik yang ditulis oleh Wang Chung Yueh bahwa orang harus mencara postur terbuka dan besar dulu, dan kemudian membuatnya lebih kecil dan lebih menyatu.

 

 Membela Gaya Cheng

 Yang ditawarkan gaya Cheng Manching adalah kesederhanaan, keringkasan dan menyatunya dengan tekanan pada pengendoran. Gaya ini lebih mudah diakses oleh orang tua atau yang kurang sehat, orang dengan keterbatasan waktu, dan pria atau wanita yang kurang suka dengan posisi besar dan terbuka. Dalam hal mengikuti urutan gaya Yang, gaya Cheng lebih dekat mengikuti gaya Yang ketimbang gaya 24 dari pemerintah Cina (yang lebih mirip memainkan urutan not musik ketimbang melodinya). Dan gaya Cheng ini tentunya merupakan salah satu dari gaya Tai chi chuan yang paling populer di Amerika Serikat.

 

Cheng Manching adalah salah satu dari sedikit master tai chi chuan yang diakui di Barat yang muncul dari aliran Yang Chengfu. Dan para muridnya, termasuk William C. C. Chen, Ben Lo, Abraham Liu, Robert Smith dan bahkan T. T. Liang, telah memperoleh rasa hormat dan tempat kehormatan dalam komunitas Amerika.

 

Kompetisi

Dalam hal kompetisi, Lenzie Williams harus diakui sebagai salah satu kompetitor tuishou yang paling penting di Amerika Serikat. Dia meraih posisinya ini bukan karena dia besar atau dia tahu teknik tuishou komptetitif tertentu. Berbicara dengan mereka yang pernah bertanding melawannya dan dalam bertuishou dengan dirinya, saya belajar bahwa ketrampilannya, seperti juga kepribadiannya, didasarkan antas kecerdasan, kepekaan, kelembutan dan dedikasi pada prinsip-prinsip tai chi. Dia merupakan bukti hidup dari kehebatan gaya Cheng dan membawa kehormatan besar bagi gurunya, Ben Lo, dan guru dari gurunya, Cheng Manching. Sementara gaya Cheng belum mengumpulkan banyak pujian dalam pertandingan jurus, ini mungkin lebih merupakan hasil dari kompetitior Cheng bertanding di bawah Divisi gaya Yang. Karena popularitas gaya Cheng style dan perbedaan yang menonjol antara gaya Yang dan gaya Cheng, saya menyarankan penambahan jurus-jurus gaya Cheng dalam lomba jurus Tai chi di masa depan.

 

Kepraktisan Beladiri

Dalam hal kepraktisan bela diri, William C.C. Chen, guru tai chi chuan pertama saya, mungkin telah melakukan lebih banyak hal ketimbang orang lain di Amerika untuk membuktikan efektivitas beladiri dari seni bela dirinya (yang walaupun tumbuh dari gaya Cheng telah berevolusi menjadi sesuatu yang unik dan original). Selain telah membuktikan keefektivan gayanyanya di “jalanan,” dia juga telah membuktikannya dengan para petintju gaya Barat. Apakah di gym atau di “jalanan,” sebagian besar petarung yang paling berhasil menyarankan posisi sempit dengan lutut ditekuk, seperti di dalam gaya Cheng. Selanjutnya, lengan dan kaki tertekuk menyimpan kekuatan potensial. Dengan demikian, pengikut gaya Cheng bisa dengan yakin membenarkan kepraktisan posisinya dari perspektif realistik. Menarik untuk dicatat bahwa William C. C. Chen juga menyarankan tekukan tubuh bagian atas ke depan sebelum melepas daya ledaknya.

 

Dua gaya, satu seni

Gaya Cheng style tidak sendirian dalam berevolusi menjadi gaya yang lebih menyatu dan tanpa bentuk. Gaya-gaya kerangka lebih kecil yang terkenal lainnya meliputi gaya Wu yang dihormati yang diciptakan oleh Wu Yuhsiang dan gaya Sun yang diciptakan oleh Sun Lutang. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa perbedaan gaya antara Yang dan Cheng hanyalah dua jalan yang berupaya mencapai tujuan yang sama. Kedua gaya ini membenarkan upaya mereka melalui syair-syair klasik; namun demikian, tiap gaya mempunyai interpretasi individualnya dan cara mengekspresikannya. Gaya Yang dan Cheng memang berbeda, namun keduanya sama-sama layak dihormati. Pada akhirnya keduanya adalah satu tai chi chuan.

 

Diterjemahkan dari

A Comparative Study between Traditional Yang Style Tai Chi of Yang Cheng Fu and Cheng Man Ching’s Yang Style http://www.taichiandqigong.com/yang_compare.php

10 Poin Penting dalam Taijiquan Menurut Yang Cheng-fu

January 9, 2015

Sepuluh poin penting Yang Cheng-fu menunjukkan prinsip-prinsip penting yang harus diperhatikan dan dipenuhi oleh para praktisi Taijiquan ketika berlatih. Nampaknya 10 poin ini merupakan teks yang paling populer selain Taijiquan Jing dari Chang San-feng dan Taijiquan Lun dari Wang Zong-yue. Barangkali kepopulerannya ini disebabkan karena poin-poin yang disampaikan lebih mudah dipahami bila dibandingkan dengan teks-teks Taijiquan Klasik lainnya. Pada mulanya 10 poin penting ini disampaikan secara lisan oleh Yang Cheng-fu dan dicatat oleh Chen Wei-ming yang diterbitkan pada tahun 1925.

Berikut adalah terjemahan dari The Ten Important Points for T’ai-chi Ch’uan yang ada dalam buku T’ai-Chi Touchstones: Yang Family Secret Transmission (1983) yang dikompilasi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Douglas Wile (hal. 11 – 14).

 

  1. Energi di ubun-ubun harus ringan dan sensitif. “Energi di ubun-ubun” berarti bahwa kepala harus tegak sehingga semangat (shen) mencapai ujung kepala. Jangan gunakan tenaga. Bila tenaga digunakan leher bagian belakang akan kaku dan darah serta qi tidak bisa bersirkulasi. Harus ada rasa sensitivitas dan kewajaran ringan. Tanpa ada energi ringan dan sensitif di ujung kepala, semangat tidak bisa naik.

 

  1. Tenggelamkan Dada, Naikkan Punggung. “Menenggelamkan Dada” berarti dada ditarik masuk sedikit sehingga qi turun ke dantian.   Jangan mengembangkan dada, karena akan menyebabkan qi tertahan di dada, yang mengakibatkan berat di atas. Ini akan cenderung mengakibatkan tumit terangkat. “Menaikkan punggung” berarti bahwa qi tetap berada di punggung. Jika kita bisa menenggelamkan dada, secara alami punggung akan naik. Jika punggung naik, kekuatan akan muncul dari belakang dan lawan bisa diatasi.

 

  1. Kendorkan pinggang. Pinggang merupakan penguasa tubuh. Jika pinggang kendor, kaki akan mempunyai kekuatan dan fondasi akan stabil. Perubahan isi kosong semuanya berasal dari putaran pinggang. Karena itu dikatakan bahwa pinggang merupakan area yang vital. Jika kita tidak punya kekuatan, penyebabnya harus dicari di pinggang.

 

  1. Bedakan isi dan kosong. Membedakan isi dan kosong adalah prinsip pertama dalam Taijiquan. Jika berat badan seluruh tubuh bertumpu pada kaki kanan, maka kaki kanan isi dan kaki kiri kosong. Hanya setelah membedakan isi dan kosong gerakan berputar kita menjadi ringan, gesit, dan tanpa upaya. Jika kita tidak bisa membedakan isi kosong, maka langkah kita menjadi berat dan kaku. Posisi berdiri kita menjadi tidak kokoh dan akan mudah kehilangan keseimbangan bila didorong.

 

  1. Endapkan bahu dan jatuhkan siku. “Mengendapkan bahu” berarti bahwa bahu kendor dan menggantung ke bawah. Jika bahu tidak bisa kendor dan menggantung ke bawah dan bahu naik, maka qi akan naik bersama bahu dan seluruh tubuh menjadi tanpa kekuatan. “Menjatuhkan siku” berarti bahwa siku kendor dan jatuh ke bawah. Jika siku naik, maka bahu tidak bisa bisa turun. Dengan demikian kita tidak bisa mendorong jauh lawan dan melakukan kesalahan putusnya energi seperti terjadi dalam sistem eksternal.

 

  1. Gunakan pikiran bukan kekuatan otot. Ini dinyatakan dalam Taijiquan Treatise dan berarti bahwa kita harus mengandalkan pikiran semata dan bukan kekuatan otot. Dalam berlatih Taijiquan seluruh tubuh kendor. Jika kita bisa menghilangkan sampai pada ketegangan yang paling kecil yang menghambat pada sendi, tulang dan pembuluh darah dan membatasi kebebasan kita, maka gerakan kita akan menjadi ringan, gesit, melingkar dan spontan. Ada yang bertanya bagaimana kita bisa menjadi kuat tanpa menggunakan kekuatan otot. Meridian di tubuh seperti saluran air di bumi. Ketika saluran air dibuka maka air mengalir dengan bebas; ketika meridian dibuka maka qi bisa lewat. Jika kekakuan menghambat meridian qi dan darah akan terhambat dan gerakan kita tidak gesit, bahkan bila sehelai rambut dicabut, seluruh tubuh akan goyang. Di sisi lain, jika kita tidak menggunakan kekuatan otot namun menggunakan pikiran, maka ke manapun pikiran bergerak qi akan mengikuti. Dengan cara ini, jika qi mengalir tanpa hambatan, tiap hari menembus semua jalur di seluruh tubuh tanpa hambatan, maka setelah lama berlatih kita akan mencapai kekuatan internal sejati.  Maka ini yang dimaksud Taijiquan Treatise dengan “hanya dari kelembutan yang tertinggi lahir keras.” Lengan mereka yang menguasai Taijiquan seperti besi yang dilapisi kapas dan sangat berat. Saat mereka yang berlatih sistem eksternal menggunakan kekuatannya kelihatan jelas, namun ketika mereka tidak menggunakan kekuatannya mereka ringan dan mengambang. Jelas bahwa kekuatan mereka adalah jenis energi permukaan yang bersifat eksternal. Kekuatan praktisi sistem eksternal sangat mudah dimanipulasi dan tidak layak dipuji.

 

  1. Kesatuan tubuh atas dan bawah. “Kesatuan tubuh atas dan bawah” adalah yang dimaksud Taijiquan Treatise dengan “Akarnya di kaki bawah (feet), disalurkan lewat kaki (leg), dikendalikan oleh pinggang dan diekspresikan di tangan.” Harus ada aliran qi yang tidak terputus dari kaki bawah (feet) ke kaki (leg) ke pinggang. Ketika tangan, pinggang, dan kaki bergerak, semangat (shen) dari mata bergerak dalam satu kesatuan. Maka ini disebut dengan “Kesatuan tubuh atas dan bawah.” Jika salah satu bagian tidak selaras, akan terjadi kekacauan.

 

  1. Kesatuan internal dan eksternal. Apa yang dilatih Taijiquan adalah semangat. Karena itu dikatakan, “Semangat adalah pemimpin, dan tubuh di bawah perintahnya.” Jika kita menaikkan semangat, maka gerakan kita secara alami menjadi ringan dan gesit. Postur tak lebih dari isi dan kosong, membuka dan menutup. Apa yang dimaksud dengan membuka dan menutup tidak terbatas pada hanya tangan dan kaki, namun kita juga harus mempunyai gambaran membuka dan menutup dalam pikiran. Ketika dalam dan luar menyatu dalam satu qu, maka tidak ada gangguan di mana pun.

 

  1. Mengalir tanpa putus. Kekuatan praktisi eksternal bersifat ekstrinsik dan kaku. Karena itu kita melihat awal dan akhirnya, mengalir dan putus. Kekuatan yang lama habis sebelum yang baru lahir. Di level ini akan mudah dikalahkan oleh orang lain. Di dalam Taijiquan digunakan pikiran bukan kekuatan. Dari awal hingga akhir tidak terputus. Segalanya lengkap dan menyambung, melingkar dan tidak putus. Ini yang di dalam Taijiquan Klasik dikatakan, “Seperti sungai besar yang mengalir tanpa akhir,” atau “menggerakkan energi seperti menarik sutra dari kepompong.” Semua ini menggambarkan gagasan kesatuan sebagai satu qi.

 

  1. Mencari ketenangan dalam gerakan. Praktisi sistem eksternal menganggap melompat dan mengendap sebagai ketrampilan. Mereka menghabiskan qi mereka dan setelah berlatih mereka terengah-engah. Taijiquan menggunakan ketenangan untuk menangkal gerakan. Bahkan ketika bergerak, kita tetap tenang. Karena itu, dalam melatih postur, semakin perlahan semakin baik. Ketika perlahan, nafas menjadi pelan dan panjang, qi bisa mengendap di dantian dan secara alami menghindarkan dari efek bahaya meningkatnya detak jantung. Para murid yang memperhatikan hal ini dengan teliti akan bisa menangkap maknanya.